Woman
·
6 November 2019 15:40

Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN (231889)
Founder Wardah, Nurhayati Subakat. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Nurhayati Subakat, Founder PT Paragon Technology and Innovation (Paragon) yang menaungi brand Wardah, Make Over dan Emina terpilih sebagai salah satu pengusaha yang menerima penghargaan di ajang bergengsi ASEAN Business Award (ABA) 2019. Perhelatan tahunan yang digelar sejak tahun 2007 ini diselenggarakan sebagai rangkaian dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN dan dibentuk oleh Asean Business Advisory Council (BAC) pada 2007.
ADVERTISEMENT
Dalam acara yang digelar di Bangkok, Sabtu (2/11) lalu, Nurhayati meraih penghargaan pada kategori Women Entrepreneur. Penghargaan ini diserahkan oleh Chairman of The Joint Standing Committee on Commerce, Industry and Banking (JSCCIB), Kalin Sarasin, kepada Putri Diah Paramita sebagai Chief Marketing Officer PT Paragon Technology and Innovation.
Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN (231890)
Pendiri PT. Paragon Technology and Innovation, Nurhayati Subakat, menerima penghargaan ABA Women Entrepreneur. Foto: Dok. PT. Paragon Technology and Innovation
Nurhayati Subakat dinilai sukses mendirikan sebuah brand kecantikan lokal dan juga memiliki kemampuan strategi pemasaran dan gaya kepemimpinan yang mumpuni. Hal ini dibuktikan dengan kesuksesan Paragon melakukan inovasi untuk mengembangkan berbagai produk baru yang banyak bermunculan selama beberapa tahun terakhir.
Perjalanan Nurhayati di industri kosmetik telah dimulainya sejak 1985 lalu. Dulu ia membuat sampo untuk salon dengan merek dagang Putri yang hanya memiliki dua orang karyawan. Lima tahun berlalu, usahanya hancur lantaran pabriknya terbakar.
Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN (231891)
Founder Wardah, Nurhayati Subakat. Foto: Helmi Afandi/kumparan
Tetapi hal itu tak membuatnya putus asa. Pada 1995 lalu, Nurhayati mendirikan Wardah yang menyasar santri pesantren. Tetapi lagi-lagi, penjualannya kurang menguntungkan.
ADVERTISEMENT
Barulah pada 2002, Wardah dikenal sebagai kosmetik lokal yang halal dan mulai melakukan relaunch pada 2009 bertepatan dengan maraknya perempuan yang mulai mengenakan hijab.
"Momennya pas 2009 kita relaunching Wardah, kemudian hijabers booming. Nah kita kerja sama dengan hijabers juga," ungkap Nurhayati Subakat dalam wawancaranya pada program The CEO kumparan beberapa waktu lalu.
Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN (231892)
Nurhayati Subakat, Pendiri sekaligus CEO PT Paragon Technology & Inovation. Foto: Gina Yustika Dimara/kumparan
Hingga kini, Wardah masih mengukuhkan namanya sebagai salah satu produk kosmetik halal Indonesia yang masih diminati oleh perempuan. Bahkan belum lama ini, Wardah meluncurkan lini skin care halal, Crystallure, yang membutuhkan riset selama 10 tahun lamanya.
Paragon yang menaungi Wardah juga memiliki beberapa pabrik, salah satunya seluas 20 hektare di Kawasan Industri Jatake Tangerang. Ada pula divisi Research and Development yang dibangun dengan luas sekitar 2.000 meter persergi. Tim ini mampu menghasilkan 200 produk baru setiap tahunnya.
Nurhayati Subakat Raih Penghargaan Women Entrepreneur ASEAN (231893)
Area gedung Research & Innovation PT Paragon Technology & Inovation. Foto: Gina Yustika Dimara/kumparan
Secara keseluruhan, karyawan di Paragon telah mencapai 11.000 pekerja. Dari jumlah itu, 80-90 persen merupakan karyawan generasi milenial.
ADVERTISEMENT