Pandawara Group Temukan Tumpukan Sampah Pembalut, Apa Saja Bahayanya?
·waktu baca 3 menit

Baru-baru ini Pandawara Group—sebuah komunitas yang berfokus pada permasalahan sampah dan lingkungan—melaporkan penemuan mereka ketika sedang melakukan agenda rutin aksi bersih-bersih sungai dan saluran pembuangan air. Pandawara Group menemukan dan mengkritisi tumpukan sampah pembalut yang dibuang begitu saja ke sungai.
Apa saja bahaya sampah pembalut bagi lingkungan?
Butuh waktu hingga ratusan tahun untuk terurai
Seorang perempuan diperkirakan akan menggunakan sekitar 10.000 produk menstruasi sepanjang hidup mereka dan saat ini lebih dari 90 persen bahan penyusun produk tersebut adalah plastik. Menurut artikel penelitian dari Frontiers pada 2024 tentang menstrual cup sebagai alternatif ramah lingkungan, karena bahan yang non-organik tersebut, produk menstruasi berupa pembalut sekali pakai memakan waktu 500–800 tahun untuk terurai.
Tempat berkembang biak virus, kuman, dan mikroba patogen
Kurangnya regulasi dan kesadaran tentang cara mengklasifikasikan dan membuang pembalut sekali pakai membuat masyarakat kerap membuang sampah pembalut sembarangan ke sungai.
Tim Pandawara Group, melalui video laporan yang mereka unggah di media sosial, menunjukkan bahwa banyak sampah pembalut yang dibuang ke sungai masih menunjukkan jejak darah menstruasi yang menempel. Darah yang masih menempel ini merupakan tempat berkembang biaknya kuman dan mikroba patogen.
Jika dibakar dapat membahayakan nyawa
Polusi udara yang dihasilkan oleh asap pembakaran dapat mengganggu pernapasan. Selain itu, studi dari Universitas Delhi pada 2017 menyebutkan bahwa pembakaran pembalut pada suhu rendah (di bawah 800°C) melepaskan dioksin yang bersifat toksik dan karsinogenik (zat atau senyawa yang memiliki potensi untuk menyebabkan kanker) yang sangat berdampak pada kesehatan dan lingkungan.
Membahayakan ekosistem perairan
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Universitas Delhi tentang pembalut sekali pakai dan keberlanjutan lingkungan, limbah pembalut sekali pakai yang dibuang ke sungai maupun saluran pembuangan air juga dapat terurai menjadi mikroplastik dan berpotensi mengancam ekosistem perairan. Organisme perairan seperti penyu dan ikan sangat rentan karena bisa salah mengira mikroplastik sebagai sumber makanan mereka dan mengonsumsi partikelnya.
Sampah pembalut yang tidak dikelola pemrosesan limbahnya dengan baik memiliki banyak dampak yang merugikan manusia, hewan, dan lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah melakukan pencegahan dengan beralih ke produk menstruasi yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa alternatif pembalut sekali pakai yang dapat digunakan di antaranya:
1. Pembalut kain
Pembalut kain memiliki bentuk dan ukuran yang serupa dengan pembalut sekali pakai. Hanya saja pembalut ini terbuat dari bahan kain yang bisa dipakai berulang kali setelah dicuci dengan bersih. Biasanya pembalut kain terbuat dari bahan katun yang lembut, ringan, dan tidak menyebabkan iritasi.
2. Celana menstruasi
Celana menstruasi tidak jauh berbeda dengan pembalut kain, tetapi berbentuk seperti celana dalam. Karena ukurannya yang lebih besar, celana menstruasi lebih nyaman digunakan dan dipakai bergerak.
3. Menstrual cup
Menstrual cup berbentuk seperti cangkir dan terbuat dari silikon medis atau karet. Kemudian, ukurannya bervariasi mulai dari 35–48 mm. Pemilihan ukuran cup disesuaikan dengan aliran menstruasi. Jika ringan, bisa menggunakan ukuran kecil, tetapi jika berat bisa menggunakan ukuran yang lebih besar.
4. Pembalut biodegradable
Pembalut biodegradable sama bentuknya dengan pembalut sekali pakai. Perbedaannya terletak pada bahannya. Bahan pembalut biodegradable adalah bahan yang organik sehingga mudah untuk terurai seperti berbahan dasar tumbuhan atau bioplastik.
Penulis: Zulfa Salman
