Kumparan Logo

Perbedaan Beautician, SPDV, dan Dokter Bedah Plastik yang Perlu Kamu Tahu

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perbedaan Beautician, SPDV, dan Dokter Bedah Plastik yang Perlu Kamu Tahu. Foto: WOSUNAN/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Perbedaan Beautician, SPDV, dan Dokter Bedah Plastik yang Perlu Kamu Tahu. Foto: WOSUNAN/Shutterstock

Kasus yang menyeret Jeni Rahmadial Fitri, eks finalis Puteri Indonesia 2024 baru-baru ini jadi pengingat penting soal keamanan perawatan kecantikan. Ia ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan tindakan medis seperti facelift, eyebrow lift, dan lip contouring tanpa latar belakang tenaga kesehatan atau dokter, yang berujung pada luka serius hingga cacat permanen pada korban.

Kuasa hukum korban, Markus Harianja dan Al Qudri Tambusai, yang melaporkan Eks finalis Puteri Indonesia 2024 Jeni Rahmadial Fitri karena melakukan praktik operasi kecantikan ilegal di Klinik Arauna Beauty, Pekanbaru, Riau. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kuasa hukum korban, Markus Harianja dan Al Qudri Tambusai, yang melaporkan Eks finalis Puteri Indonesia 2024 Jeni Rahmadial Fitri karena melakukan praktik operasi kecantikan ilegal di Klinik Arauna Beauty, Pekanbaru, Riau. Foto: Dok. Istimewa

Kasus ini juga membuka diskusi soal siapa sebenarnya yang punya kompetensi untuk melakukan tindakan estetik. Di tengah maraknya klinik dan treatment yang semakin beragam, penting untuk memahami perbedaan antara beautician, dokter kulit, dan dokter bedah plastik. Karena pada akhirnya, bukan cuma soal hasil, tapi juga soal keamanan.

Beautician hanya untuk perawatan non-medis

Beautician hanya untuk perawatan non-medis. Foto: GaudiLab/Shutterstock

Beautician berada di ranah non-medis, sehingga tindakan yang bisa dilakukan cenderung terbatas. Perawatan seperti facial atau basic treatment kulit masih diperbolehkan, selama tidak menggunakan alat berenergi tinggi atau tindakan invasif.

Meskipun banyak beautician yang mengikuti pelatihan, profesi ini tidak melalui pendidikan medis formal. Itu sebabnya, penggunaan alat seperti laser, HIFU, atau tindakan dengan jarum bukan menjadi kewenangan mereka. Jadi, penting untuk tidak menyamakan semua jenis treatment yang ditawarkan di klinik atau salon.

SPDV fokus pada kesehatan kulit, tapi non-bedah

SPDV fokus pada kesehatan kulit, tapi non-bedah. Foto: NT_Studio/Shutterstock

Dokter spesialis dermatologi dan venereologi atau SPDV memiliki latar belakang medis yang jelas. Mereka menangani berbagai masalah kulit dan kelamin, serta bisa melakukan tindakan dengan alat tertentu seperti laser atau microneedling.

Meski begitu, sebagian besar tindakan SPDV tetap berada di ranah non-bedah. Ada memang subspesialis seperti bedah kulit, tapi tidak semua SPDV mengambil jalur tersebut. Artinya, kemampuan setiap dokter bisa berbeda tergantung pendidikan lanjutannya.

Dokter bedah plastik menangani prosedur invasif

Dokter bedah plastik menangani prosedur invasif. Foto: WOSUNAN/Shutterstock

Berbeda dengan dua profesi sebelumnya, dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan pembedahan. Prosedur seperti facelift, liposuction, hingga rekonstruksi wajah termasuk dalam ranah mereka.

Perjalanan pendidikan dokter bedah plastik juga panjang, mulai dari dokter umum hingga spesialis yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini membuat mereka memiliki pemahaman mendalam tentang anatomi wajah dan risiko tindakan yang dilakukan.

Prosedur estetik tidak bisa dilakukan sembarangan

Prosedur estetik tidak bisa dilakukan sembarangan. Foto: AnnaStills/Shutterstock

Tindakan seperti facelift sering dianggap sederhana, padahal sebenarnya cukup kompleks. Prosedur ini tidak hanya melibatkan kulit, tapi juga struktur di bawahnya yang harus diperbaiki dengan hati-hati.

Karena itu, penting untuk lebih kritis sebelum memutuskan melakukan perawatan, terutama yang sifatnya invasif. Jangan hanya tergiur hasil instan atau harga yang lebih terjangkau, tanpa memahami siapa yang melakukan dan apakah sesuai dengan kompetensinya.

Menurut dr. Nilam Permatasari, BMEDSC, Sp.BP-RE, prosedur seperti facelift tidak bisa dianggap sederhana karena melibatkan banyak aspek medis. “Facelift itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, komplikasinya banyak banget. Karena pada saat kita melakukan facelift, itu bisa kena saraf,” pungkasnya.