Perempuan Memutuskan Childfree, Adakah Dampaknya Bagi Kesehatan?

Istilah childfree cukup sering dibicarakan oleh banyak orang belakangan ini, termasuk masyarakat Indonesia. Childfree sendiri mengacu pada keputusan yang diambil oleh seorang perempuan atau pasangan untuk tidak memiliki anak.
Ada beberapa alasan seseorang atau pasangan memutuskan childfree. Mengutip Today, profesor sosiologi di University of Maine, Amerika Serikat (AS), Amy Blackstone telah mewawancarai 21 perempuan dan 10 laki-laki yang memilih childfree.
Dari situ, ia menemukan beberapa alasan seseorang memutuskan childfree. Salah satu alasannya, yakni mereka tidak suka melihat kehidupan orang lain yang berubah ketika memiliki anak. Mereka melihat orang lain yang sudah memiliki anak kehilangan kebebasan dan banyak yang terlihat tidak bahagia atau stres.
Alasan lain seseorang memutuskan childfree, yakni ingin dekat dengan pasangan. Di samping itu, ada juga yang berpikir bahwa populasi dunia sudah terlalu banyak, sehingga childfree adalah keputusan yang berdampak baik bagi lingkungan.
Childfree dan dampak kesehatan bagi perempuan
Ada banyak alasan yang mendorong seseorang atau pasangan memutuskan untuk childfree. Namun, adakah dampak kesehatan bagi perempuan yang memilih childfree?
Dalam wawancara khusus dengan kumparanWOMAN, dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG, menyatakan bahwa ada risiko kesehatan yang meningkat bagi perempuan yang tidak hamil.
“Dari segi perempuan, risiko kesehatan meningkat kalau siklus sel telur terus-menerus berjalan. Itu salah satunya kanker indung telur. Siklus sel telur terus-menerus berjalan maksudnya tidak terjadi kehamilan,” ujar Dinda.
Secara lebih detail, Dinda menjelaskan bahwa sejak masa pubertas, perempuan melepaskan sel telur setiap bulan. Sel telur yang bertemu sperma bisa menyebabkan kehamilan, sementara yang tidak akan menyebabkan menstruasi. Bila siklus sel telur terus berjalan tanpa terjadi kehamilan, hal ini bisa meningkatkan risiko keganasan indung telur atau kanker ovarium.
“Kalau hamil berarti ada fase istirahat karena tidak ada sel telur yang dilepaskan. Hamil sembilan bulan, siklusnya berhenti sembilan bulan. Bila perempuan tidak pernah hamil, sel telur dilepaskan terus-menerus dan ini yang bisa meningkatkan risiko keganasan indung telur atau kanker ovarium,” ungkap Dinda.
Pasangan yang memutuskan childfree perlu rutin screening
Dinda menyatakan bahwa childfree atau tidak merupakan pilihan masing-masing pasangan. Memutuskan untuk punya anak tentu melibatkan banyak faktor, seperti kesehatan, ekonomi, dan mental.
“My personal opinion, terserah saja, yang penting mereka tahu ada risiko yang meningkat. Mereka tahu bahwa siklus indung telur harus berhenti supaya tidak meningkatkan risiko terjadinya keganasan di indung telur. Jadi bukan berarti dengan keputusan tidak mau punya anak, mereka jadi neglect sama kesehatan reproduksi,” ungkapnya.
Karena itu, Dinda menyarankan pasangan yang memutuskan childfree untuk rutin screening. Screening yang dimaksud adalah screening ginekologi, seperti pap smears atau USG untuk mendeteksi kanker indung telur.
Ia juga mengingatkan pentingnya memeriksakan organ perempuan secara berkala, terlebih pada perempuan yang sudah menua. Ini sama halnya dengan medical check up jantung, misalnya, yang juga perlu dilakukan secara berkala.
“Setahun sekali perlu dilakukan sama seperti general check up. Walaupun tidak secara signifikan, tapi dia (childfree) meningkatkan risiko,” kata Dinda.
