Perketat Aturan Hijab Bagi Perempuan, Iran Gunakan Teknologi Sensor Wajah
·waktu baca 3 menit

Pemerintah Iran dikabarkan berencana menerapkan metode baru dalam menegakkan aturan berhijab bagi perempuan. Metode tersebut adalah sensor wajah atau facial recognition lewat kamera-kamera surveilans yang tersebar di ruang publik Iran, Ladies.
The Guardian melaporkan, pemantauan melalui kamera surveilans ini akan membantu para Polisi Moral Iran dalam mengidentifikasi para perempuan yang tidak mengenakan hijab sesuai dengan aturan dan menjatuhi hukuman kepada mereka atas pelanggaran tersebut.
Rencana ini disampaikan oleh Sekretaris Departemen Penegakan Kebajikan dan Pencegahan Keburukan Iran, Mohammad Saleh Hashemi Golpayegani, dalam sebuah wawancara yang diunggah ke dunia maya pada 29 Agustus lalu.
“Teknologi kini membantu kita dalam mencocokkan gambar dengan foto-foto di kartu tanda penduduk, yang mengarah pada identifikasi perempuan tanpa hijab,” kata Saleh Hashemi, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya. Ini menjadi kali pertama Pemerintah Iran mengakui bahwa mereka memiliki teknologi facial recognition di kamera-kamera surveilans.
Rencana penggunaan sensor wajah dan kamera surveilans ini keluar tak lama setelah Presiden Iran, Ebrahim Raisi, menandatangani dekrit yang memperketat aturan berbusana bagi perempuan. The Guardian melansir, dekrit tersebut ditandatangani oleh Presiden Ebrahim pada 15 Agustus lalu.
“Pemerintah Iran sudah lama memiliki ide menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mengidentifikasi orang-orang yang melanggar hukum. Rezim ini mengombinasikan bentuk-bentuk kuno dari kendali totaliter yang kejam, yang dikemas dalam teknologi baru,” jelas seorang peneliti di University of Twente Belanda, Azadeh Akbari, dikutip dari The Guardian.
Pemerintah Iran punya data biometrik masyarakat
Menurut The Guardian, sejak 2015, pemerintah Iran secara bertahap telah menerapkan kartu identitas penduduk yang memiliki data-data biometrik masyarakatnya dengan chip yang menyimpan sidik jari, foto wajah, dan pindaian iris mata.
Tak sedikit peneliti dan ahli khawatir data ini akan digunakan dengan teknologi sensor pengenalan wajah untuk mengidentifikasi perempuan-perempuan yang melanggar aturan hijab yang berlaku.
“Sebagian besar dari populasi Iran kini berada dalam bank data biometrik nasional Iran, mengingat banyak layanan publik kini bergantung pada kartu identitas biometrik. Artinya, pemerintah memiliki akses pada wajah-wajah warganya. Mereka tahu dari mana orang ini berasal, dan mereka bisa menemukan orang tersebut dengan mudah. Seseorang yang terekam dalam video viral bisa diidentifikasi dalam waktu beberapa detik,” jelas Azadeh Akbari.
Aturan berbusana untuk perempuan Iran
Sejak 1979 silam, Iran telah menerapkan aturan berbusana yang mewajibkan perempuan untuk mengenakan hijab di ruang publik dan memakai busana yang longgar seperti tunik.
Dilansir Harper’s Bazaar, dalam Kitab Hukum Pidana Iran (Iranian Penal Code) Pasa 638, perempuan yang tidak mengenakan hijab di publik bisa didenda, bahkan terancam hukuman penjara.
Presiden Ebrahim Raisi semakin memperketat aturan berbusana dan berhijab bagi perempuan Iran pada Agustus lalu, satu bulan setelah kontroversi pada Hari Hijab dan Kesucian Iran yang diperingati pada 12 Juli 2022. Menurut The Guardian, hari nasional tersebut memicu protes para perempuan di penjuru Iran. Mereka memprotes dengan cara mengunggah video diri mereka sendiri tanpa mengenakan hijab di ruang publik, seperti bus, jalanan, dan kereta.
Radio Free Europe pun melansir, dalam beberapa pekan terakhir ini, perempuan yang dianggap melanggar aturan berhijab dilarang memasuki gedung pemerintahan, bank, hingga transportasi umum.
Polisi moral juga dilaporkan semakin sering melakukan penegakan aturan berhijab ini. Menurut Radio Free Europe, media sosial semakin diramaikan dengan video-video yang menunjukkan para petugas menahan perempuan yang dianggap melanggar aturan dan memaksa mereka memasuki mobil polisi.
Yang terbaru adalah dugaan penyiksaan Polisi Moral terhadap seorang perempuan muda berusia 22 tahun bernama Mahsa Amini. Mahsa dianggap melanggar aturan hijab, sehingga ditangkap oleh Polisi Moral pada 13 September lalu untuk diberikan sesi edukasi soal aturan berbusana yang berlaku. Namun, tiga hari setelah ditangkap, Mahsa meninggal dunia setelah sempat koma.
