Pernah Jadi Tahanan Belanda, Ini 5 Fakta Menarik Rahmah El Yunusiyah

25 Mei 2020 16:06
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
Jika berbicara soal pahlawan perempuan di Indonesia, tentu nama R.A. Kartini dan Cut Nyak Dien mungkin menjadi nama-nama utama yang paling diingat. Namun tahukah Anda Ladies bahwa ada banyak pahlawan perempuan lainnya yang tidak banyak dikenal dan dikenang jasanya. Salah satunya adalah Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah atau yang lebih dikenal dengan Rahmah El Yunusiyah.
ADVERTISEMENT
Berasal dari keluarga Islam yang taat, Rahmah lahir pada 26 Oktober 1900 di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat. Ayahnya, Muhammad Yunus al-Khalidiyah merupakan seorang ulama yang menuntut ilmu di Makkah. Sedangkan ibunya Rafia, adalah salah satu anggota keluarga dari Haji Miskin, ulama pemimpin Perang Padri di awal abad ke-19.
Selain memiliki latar belakang agama yang kuat, perempuan berdarah minang ini juga memiliki peran penting dalam memajukan pendidikan perempuan di Indonesia. Terutama pendidikan tentang agama Islam. Ia bahkan menjadi pendiri sekolah Islam khusus perempuan, Diniyah Putri, di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Tak hanya itu, karena kegigihan Rahmah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan, ia berhasil menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah. Sebuah gelar yang diperoleh Rahmah dari Universitas Al Azhar Mesir pada 1957 karena kiprahnya dalam merancang kurikulum sekolah khusus perempuan yang ia dirikan.
ADVERTISEMENT
Untuk mengenal sosok Rahma El Yunusiyah, berikut kumparanWOMAN telah merangkum fakta menarik tentang pejuang pendidikan Islam bagi perempuan di Indonesia tersebut. Simak selengkapnya berikut ini.
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
Mendirikan sekolah Islam khusus perempuan
Saat mengenyam masa pendidikan, Rahmah bersekolah di Sekolah Diniyah, sebuah pesantren laki-laki dan perempuan yang dipimpin oleh Zainuddin Labay El Yunusy, kakak kandung Rahmah. Namun selama menjadi murid, Rahmah merasa sekolah tersebut terlalu didominasi oleh laki-laki. Ia juga merasa tidak puas dengan edukasi yang mencampurkan antara laki-laki dan perempuan.
Melihat hal tersebut, Rahmah memiliki inisiatif untuk bertemu dengan ulama Minangkabau untuk mendalami pendidikan Islam. Sebuah hal yang tak umum dilakukan oleh perempuan di awal abad ke-20 di Minangkabau. Rahmah juga memperdalam ilmu praktis secara privat untuk nantinya diajarkan pada murid. Akhirnya, pada 1 November 1923, Rahma El Yunusiyah resmi mendirikan Diniyah Putri. Sekolah Islam atau pesantren khusus perempuan pertama di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Menginspirasi Universitas Al-Azhar di Kairo untuk membuka kelas khusus perempuan
Berdirinya Diniyah Putri kemudian menginspirasi Universitas Al-Azhar di Kairo untuk membuka Kulliyatul Lil Banat, sebuah fakultas khusus perempuan. Setelah Imam Besar Al-Azhar, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Diniyah Putri, pihak Al-Azhar melihat bahwa pendidikan perempuan juga memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban.
Karena kegigihan dan kisah Rahmah yang menginspirasi ini, pada 1957 Al-Azhar memberikan gelar Syaikhah pertama kali untuk Rahmah saat ia berkunjung kesana.
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Rahmah El Yunusiyah, reformator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Foto: Wikimedia Commons
Menginisiasi penutupan rumah prostitusi pada masa penjajahan Jepang
Hidup di masa perjuangan Indonesia, Rahma El Yunusiyah tidak hanya membantu perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara dan lebih maju dari laki-laki. Ia juga memiliki peran penting dalam masa perjuangan.
ADVERTISEMENT
Dalam buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padangpanjang (1978), Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942, Rahmah terlibat dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para Anggota Daerah Ibu mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi masyarakat yang kekurangan.
Ia meminta agar masyarakat yang masih bisa makan untuk menyisakan beras segenggam setiap kali masak, untuk dibagikan pada penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia juga meminta agar mereka bahwa semua taplak meja dan kain pintu yang ada di Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk masyarakat.
Rahmah juga meminta pemerintah Jepang agar menutup rumah prostitusi dan menolak perempuan Indonesia dijadikan sebagai perempuan penghibur. Permintaan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Jepang dan seluruh rumah prostitusi di Sumatera Barat berhasil ditutup.
Rahmah El Yunusiyah, pejuang pendidikan Islam untuk perempuan. Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Rahmah El Yunusiyah, pejuang pendidikan Islam untuk perempuan. Foto: Wikimedia Commons
Pernah menjadi tahanan Belanda
ADVERTISEMENT
Menurut Ensiklopedia Islam (2002), saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Rahmah menjadi salah satu orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih. Setelah mendapat kabar dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah mengerek sendiri bendera di halaman Diniyah Putri.
Namun ketika Belanda menjalankan Agresi Militer Belanda Kedua pada 19 Desember 1948, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah yang kala itu berperan sebagai pimpinan Tentara Keamanan Rakyat Padang Panjang memutuskan untuk meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang.
Tetapi ia berhasil ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949, membuatnya mendekam di tahanan perempuan di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, Rahmah dibawa ke Padang dan ditahan di satu ruangan bekas SPG Negeri Putri Padang. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai tahanan rumah (huis arrest), sebelum diringankan sebagai tahanan kota (stad arrest) selama lima bulan berikutnya.
ADVERTISEMENT
Sosok perempuan pendiam dan suka menyelesaikan masalahnya sendiri
Banyak dari kita yang mungkin tidak mengenal sosok Rahmah El Yunusiyah. Meski beberapa fakta di atas menunjukkan bahwa Rahma merupakan sosok yang tangguh, namun ternyata ia adalah perempuan yang pendiam.
Dalam buku ‘Hajjah Rahmah el Yunusiyyah dan Zainuddin Labay el Yunusy, dua bersaudara tokoh pembaharuan sistem pendidikan di Indonesia: Riwayat hidup, cita-cita, dan perjuangannya’ karangan Haji Aminuddin Rasyad pada 1991, Rahmah dikenal sebagai gadis pendiam dan pemalu karena jarang bergaul dengan teman-temannya. Ketiadaan ayah membuat Rahmah banyak memikirkan dan menyelesaikan sendiri urusannya.
Rahmah termasuk perempuan yang kreatif. Ia suka menjahit semua bajunya sendiri dan menyukai berbagai kerajinan tangan. Ia juga adalah perempuan penurut yang bersedia dinikahkan pada usia 16 tahun dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Sumpur. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa dikaruniai anak. Rahmah El Yunusiyah sendiri meninggal dunia di Padang Panjang pada 26 Februari 1969 di usia ke-68.
ADVERTISEMENT
Berkat jasa-jasanya, pemerintah menganugerahi Rahmah tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013.