kumparan
23 November 2019 19:13

Pilot Kepolisian hingga Kapten Kapal Tanker, Perempuan juga Bisa!

WOMEN ON TOP - Women Talk
Agustin Nurul Fitriyah, Kapten Kapal MT. Pungut Pertamina; Iptu Siti Kiptiyah, Pilot Kepolisian Udara; Martha Itaar, First-Officer/ Co-Pilot Citilink. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/ kumparan
Selama ini setiap mendengar kata Spider-Man tentu yang ada di dalam benak kita adalah pahlawan laki-laki dengan kekuatan super yang bisa memanjat dinding persis seperti laba-laba. Ia mengenakan kostum ketat berwarna biru dan merah lengkap dengan topeng yang menutupi wajahnya.
Namun bagaimana jika sosok Spider-Man ini adalah seorang perempuan? Pernahkah Anda membayangkannya? Di Indonesia tampaknya ini bukanlah hal yang tidak mungkin, sebab kita sudah memiliki sosok tersebut. Ia adalah Aries Susanti Rahayu (24), seorang perempuan berhijab yang merupakan atlet panjat tebing dengan julukan Spider-Woman.
Atlet panjat tebing putri Indonesia Aries Susanti Rahayu
Atlet panjat tebing putri Indonesia Aries Susanti Rahayu berpose sesusai melakukan latihan di halaman Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Kamis (7/11/2019). Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Sebutan Spider-Woman pertama kali disematkan padanya saat Aries berhasil mengalahkan atlet asal Rusia Elena Timofeeva dengan catatan waktu 7,51 detik di International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup 2018 di Chongqing, China. Kemudian, namanya semakin dikenal ketika ia berhasil meraih 2 medali emas di Asian Games 2018.
Di tahun 2019 ini, tepatnya pada 19 Oktober 2019, atlet berhijab kelahiran Grobogan, Jawa Tengah ini kembali menorehkan prestasi karena berhasil meraih gelar juara dunia lewat kategori speed dalam ajang World Cup 2019 di Xianmen, China. Layaknya Spider-Man, Aries memanjat dinding dengan kecepatan penuh dan berhasil mengalahkan Yi Ling Song, atlet panjat tebing juara dunia asal China, di partai final dengan catatan waktu 6,995 detik.
Aries Susanti Rahayu, IFSC Worldcup Xiamen
Aries Susanti Rahayu meraih juara dunia di IFSC Worldcup Xiamen. Foto: Dok. PP FTPI
Aries meraih semua itu dalam balutan hijab, dan hijabnya tidak membatasi Aries untuk meraih prestasi tersebut. Lewat Aries, kita sebagai perempuan sepatutnya percaya jika memiliki tekad yang kuat, apapun bisa kita raih termasuk menjadi sosok ‘superhero’ di dunia olahraga.
Perempuan Bisa Jadi Apapun yang Kita Inginkan
Sama seperti Aries Susanti yang membuktikan bahwa bahkan dengan mengenakan hijab sekalipun ia tetap bisa bergerak lincah memanjat dengan kecepatan tinggi, saat ini semakin banyak juga perempuan yang mulai wujudkan impian dengan menabrak berbagai batasan yang ada.
Agustin Nurul Fitriyah (30) misalnya, yang berhasil menjadi Kapten untuk kapal tanker MT. Pungut milik perusahaan minyak negara, Pertamina. Kapal tersebut merupakan tanker pengangkut sekitar 3 ribuan kilo liter BBM yang didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.
Nahkoda Kapal, Agustin Nurul
Kapten Kapal Tanker perempuan pertama dari Pertamina, Agustin Nurul Fitriyah. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Perempuan yang akrab dipanggil Agustin tersebut menjadi kapten perempuan pertama dan satu-satunya di Pertamina sejak 2013. Ia memegang kendali semua awak kapal yang seluruhnya beranggotakan laki-laki. Ia juga bertugas mengambil keputusan-keputusan besar terkait kapal tanker yang berada di bawah komandonya dan menjadi seorang vetting inspector yang memastikan kapal-kapal pembawa minyak beserta awaknya memenuhi standar khusus untuk membawa minyak Indonesia ke seluruh dunia.
Untuk bisa menjadi kapten, Agustin melalui banyak tantangan yang tidak mudah. Namun menurut Agustin, tantangan terbesarnya adalah meyakinkan sang ayah yang tidak setuju bahwa anak perempuan satu-satunya hidup dan bekerja di laut. Meski begitu, ia berusaha untuk meyakinkan ayah dan keluarga bahwa ia mampu menjalani profesi tersebut dengan baik.
“Karena saya besar di keluarga yang sangat religius, kebetulan saya adalah cucunya yang punya Pesantren Tebu Ireng di Jember. Jadi ayah saya sangat meyakini bahwa perempuan itu tidak harus berkumpul dengan laki-laki. Itu yang menjadi salah satu alasan ayah tidak setuju saya menjadi kapten kapal. Jadi meski sampai saat ini tidak bisa menerima sepenuhnya, ayah tetap mengizinkan tapi beliau memperhatikan betul apa yang saya pakai saat di kapal,” ungkap Agustin kepada kumparanWOMAN saat syuting program Women to Women beberapa waktu lalu.
Nahkoda Kapal, Agustin Nurul
Kapten Kapal Tanker perempuan pertama dari Pertamina, Agustin Nurul Fitriyah. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Tak hanya itu, sebagai kapten perempuan yang bertanggung jawab atas kapal-kapal pembawa pasokan minyak untuk Jawa-Bali, Agustin menyadari bahwa tidak mudah bagi seorang perempuan untuk bisa duduk di posisi strategis di perusahaan besar seperti Pertamina. Oleh karena itu, setelah terpilih menjadi kapten, Agustin ingin benar-benar memberikan yang terbaik untuk membuktikan dan meyakinkan perusahaan bahwa perempuan mampu mengerjakan pekerjaan apa saja.
“Sebenarnya perempuan itu bisa mengerjakan pekerjaan apa saja asal dia mau. Mungkin selama ini mereka yang kurang berani mengambil kesempatan. Tapi menurut saya, kesempatan itu sendiri juga tidak akan pernah ada kalau kita tidak mencari atau kita ciptakan sendiri. Jadi setelah saya terpilih, dengan segala upaya saya berusaha meyakinkan keluarga dan perusahaan bahwa perempuan itu bisa. Karena kalau sudah ada satu saja perempuan yang berhasil, saya yakin perempuan lainnya di belakang saya pasti bisa bertahan,” tutur Agustin.
Tentang Kesempatan dan Keberanian
Martha Itaar, Agustin Nurul, Agustin Nurul
Pilot citilink Martha Itaar (tengah), Kapten Kapal Tanker Agustin Nurul (kiri) dan Pilot Kepolisian Udara Agustin Nurul. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Bicara soal kesempatan dan keberanian, terkadang dua hal tersebut memang bisa menjadi faktor penghambat bagi keberhasilan perempuan. Bahkan faktor tersebut membuat banyak perempuan menahan diri dan merasa tak layak sehingga tidak berani naik ke posisi-posisi top level. Pemikiran tersebut kadang bisa datang dari diri kita sendiri sebagai perempuan, atau bisa juga dari orang lain di sekitar kita.
Salah satu isu yang kerap dihadapi perempuan Indonesia adalah soal kepercayaan diri. Dalam psikologi, percaya diri itu dekat dengan konsep self-efficacy atau keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan tugas secara spesifik.
“Konsep self-efficacy ini dipengaruhi oleh empat hal. Pertama adalah pengalaman keberhasilan; kedua, adanya verbal persuasion atau masukan positif dari orang sekitar. Kemudian yang ketiga, adanya role model atau seseorang yang memiliki karakteristik mirip dengan orang tersebut. Dengan adanya role model, maka seseorang akan merasa lebih percaya diri atau yakin bahwa dia bisa melakukan hal yang sama. Lalu yang terakhir adalah kondisi emosi kita saat melakukan pekerjaan tersebut,” jelas Pingkan C. B. Rumondor, psikolog klinis dewasa, saat diwawancarai kumparanWOMAN beberapa waktu lalu.
Satu dari empat hal tersebut tampak terbukti dalam diri Martha Ztiennov Itaar (20), Pilot Maskapai Citilink yang juga menjadi pilot perempuan pertama asal Papua.
PTR, Pilot Citilink Martha Itaar
First-Officer/ Co-Pilot Citilink, Martha Itaar. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Kepercayaan dirinya tumbuh karena melihat sosok role model di dunia penerbangan yang sudah berhasil menjadi kapten. Sebab menurut Pingkan C. B. Rumondor, role model menjadi salah satu cara yang membantu perempuan bisa menjadi lebih percaya diri. “Adanya role model atau seseorang yang memiliki karakteristik mirip dengan orang tersebut. Dengan adanya role model, maka seseorang akan merasa lebih percaya diri atau yakin bahwa dia bisa melakukan hal yang sama,” ungkap Pingkan C. B. Rumondor.
Maka tak heran ketika ditanya, Martha sangat yakin dengan masa depannya di dunia penerbangan karena ia telah memiliki sosok role model di bidang yang sama. “Saya sih sangat optimis (dengan profesi penerbang) karena melihat ada juga namanya Kapten Vivin. Dia adalah perempuan dari Papua juga yang sudah bisa sampai tahap jadi kapten. Itu cukup membuka kesempatan bagi yang lainnya, terutama saya untuk bisa sampai ke tahap seperti dia. Makanya saya cukup optimis,” ungkap Martha.
WOMEN ON TOP - Women Talk - Martha Itaar
Martha Ztiennov Itaar (20), Pilot Maskapai Citilink yang juga menjadi pilot perempuan pertama asal Papua, bersama Presiden Joko Widodo. Foto: dok. @marthaitaar/ Instagram
Di Citilink, perempuan berambut pendek ini berperan sebagai first officer atau co-pilot. Awal mulanya, Martha menekuni profesi di dunia penerbangan karena ia melihat adanya peluang yang bagus. Menurut Martha, kondisi geografis Papua yang masih sulit diakses oleh kendaraan lain selain pesawat menjadikan penerbangan sebagai profesi yang menjanjikan bagi perempuan dan masyarakat Papua lainnya.
“Sejak SMA saya memilih untuk menekuni profesi ini, karena waktu itu saya berpikiran bahwa pekerjaan sebagai penerbang ini bisa sangat membantu, apalagi dengan kondisi geografis Papua yang demikian,” ungkap Martha saat ditemui kumparanWOMAN beberapa waktu lalu.
Meski sempat mengalami hal serupa dengan Agustin karena orang tua merasa khawatir anak perempuannya harus bekerja di bidang yang dianggap ‘berbahaya’, namun usaha Martha tidak sia-sia. Keberaniannya dalam mengambil kesempatan membuat Martha berhasil dan menjadi inspirasi bagi perempuan Papua lainnya, terutama ketika ia diterima bekerja sebagai first officer di maskapai nasional sejak September 2019 lalu. Saat itu Martha langsung mendapat sorotan dari masyarakat Indonesia.
WOMEN ON TOP - Women Talk - Martha Itaar
Martha Ztiennov Itaar (20), Pilot Maskapai Citilink bersama rekan-rekannya sesama pilot yang semuanya adalah laki-laki. Foto: dok. @marthaitaar/ Instagram
“Kemarin waktu masuk di maskapai nasional saya jadi cukup dikenal di masyarakat. Mereka bangga, saya juga banyak dapat komentar atau feedback baik dari mereka yang mau masuk sekolah penerbangan. Mereka yang tadinya ragu-ragu, sekarang jadi lebih percaya diri. Ini membuat saya semakin ingin membuktikan kepada orang tua dan masyarakat bahwa profesi penerbang itu tidak harus dilakukan oleh gender tertentu,” ceritanya.
Hal serupa juga dilewati oleh Iptu Siti Nur Kiptiyah (33), Penerbang Perempuan Pertama Subdit Pamperslog Direktorat Kepolisian Udara. Sehari-harinya, Siti menerbangkan pesawat yang membawa pejabat dari kepolisian, tamu VIP, maupun pejabat dari instansi pemerintahan lainnya, serta membawa logistik dari kepolisian.
Siti Nur Kiptiyah
Iptu Siti Nur Kiptiyah, Penerbang Perempuan Pertama Subdit Pamperslog Direktorat Kepolisian Udara. Makeup: Andreano Kusuma. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
Keinginannya untuk mencoba berbagai hal selagi muda membuat Siti yang baru lulus di Akademi Kepolisian memutuskan untuk menjalani pendidikan di dunia penerbangan hingga akhirnya masuk ke Kepolisian Udara pada 2009.
Tak jauh berbeda dengan Agustin dan Martha, orang tua Siti juga sempat dihantui kekhawatiran besar ketika anak perempuannya masuk ke Kepolisian Udara. “Dulu ibu saya sempat khawatir saat saya ikut sekolah penerbangan ini. Dia bilang kenapa saya harus coba-coba yang lain, kan jadi polisi saja juga sudah enak. Tapi kan namanya masih muda, saya ingin coba-coba, soalnya waktu itu belum terlalu banyak (perempuan penerbang di Kepolisian Udara). Dan waktu saya masuk itu, baru pertama ada pilot perempuan. Jadi saya dan dua perempuan lainnya menjadi tiga perempuan pertama dari seluruh Polwan di Indonesia yang menjadi pilot,” tutur Siti Nur Kiptiyah kepada kumparanWOMAN dalam kesempatan yang sama.
WOMEN ON TOP - Women Talk - Iptu Siti Nur Kiptiyah
Iptu Siti Nur Kiptiyah, Penerbang Perempuan Pertama Subdit Pamperslog Direktorat Kepolisian Udara. Foto: dok. Siti Nur Kiptiyah
Keberaniannya untuk mencoba hal baru itulah yang kemudian membuat Siti memiliki karier yang bagus di Kepolisian Udara hingga menjadi Inspektur Polisi Satu (Iptu) atau perwira pertama tingkat dua di Kepolisian Republik Indonesia.
Melihat pengalaman dari dua perempuan di atas membuat kita menyadari bahwa saat ini memang sudah tidak ada batasan lagi bagi perempuan untuk berkarya. Secara perlahan, stigma yang menyatakan bahwa perempuan adalah kelompok lemah yang harus dilindungi dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki pun semakin menyusut.
Untuk itu, kita sendiri sebagai perempuan harus lebih berani mengambil kesempatan. Jika dirasa perlu, kita juga harus mau keluar dari zona nyaman supaya bisa membuktikan pada diri sendiri dan juga orang lain bahwa kita mampu melakukan berbagai hal sesuai dengan impian masing-masing.
WOMEN ON TOP - Woman Talk
WOMEN ON TOP - Woman Talk. Foto: Argy Pradypta/ kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan