Kumparan Logo

Rayakan Ultah ke-7, Tobatenun Kenalkan Kembali Motif Ulos Lawas Ragi Idup

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Program Ugari oleh Tobatenun di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Program Ugari oleh Tobatenun di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan

Social enterprise dan brand fashion yang berfokus pada tenun Batak, Tobatenun, merayakan ulang tahunnya yang ke-7. Di usia yang semakin menuju satu dekade, Tobatenun merayakan momen ini dengan menggelar program bertajuk Ugari: Luhur.

Ugari, yang dalam bahasa Batak bermakna budaya, menjadi ruang bagi Tobatenun memperkenalkan kembali galeri dan studio mereka yang berlokasi di Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kini, Studio & Gallery Tobatenun di Sopo Del Tower dibuka tak hanya sebagai ruang retail kain-kain tenun Batak, tetapi juga sebagai galeri untuk kamu yang ingin melihat-lihat koleksi kain tradisional Sumatra Utara yang sakral dan penuh makna ini. Selain itu, ruang galeri Tobatenun ini juga bisa disewakan untuk menggelar berbagai acara.

Kerri Na Basaria, CEO dan Founder Tobatenun di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan

Kain tenun Batak memang memiliki tempat spesial di hati para orang-orang suku Batak. Dari sebelum kelahiran hingga setelah kematian, kain ini lekat dan menyatu dengan kehidupan mereka. Namun sayangnya, tradisi, jika tidak dilestarikan dan diperbarui sistemnya, berpotensi tergerus oleh zaman.

Inilah yang mendorong CEO dan Founder Tobatenun, Kerri Na Basaria, untuk melestarikan tenun Batak lewat Tobatenun.

“Kami selalu bilang, ini surat cinta dari saya dan Ibu saya untuk para partonun (penenun Batak). Beliau menyukai kain, saya dibesarkan untuk mengapresiasi wastra. Lama kelamaan, saya melihat ulos penting sekali untuk kehidupan orang Batak, menemani fase kehidupan kita semua,” ucap Kerri di acara Ugari: Luhur pada Rabu (30/7) lalu.

Tenun Batak di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan

“Namun, kami lihat, situasi (tenun Batak) cukup memprihatinkan. Saya orang Batak Toba, jadi saya sentimental; saya diajarkan bahwa meskipun sudah merantau, harus tetap ingat kampung halaman,” imbuhnya.

Buat kamu yang tertarik mempelajari kain tenun Batak lebih dalam, kamu diundang buat datang langsung ke Studio & Gallery Tobatenun setiap Senin–Jumat hingga 15 Agustus mendatang. Galeri ini menghadirkan perjalanan Tobatenun sekaligus visual-visual tenun Batak yang indah dan penuh estetika.

Memperkenalkan kembali motif lawas Ragi Idup

Ulos Ragi Idup di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan

Di Tobatenun, Kerri Na Basaria tidak cuma berfokus pada menjual tenun Batak. Ia bersama timnya juga memberdayakan para perajin Tenun perempuan serta merevitalisasi motif tenun Batak yang langka, bahkan hampir punah. Salah satu motif tenun Batak yang direvitalisasi dan kembali diperkenalkan adalah motif Ragi Idup.

Ulos (nama untuk tenun Batak dari Toba -red) Ragi Idup atau Ragidup adalah ulos yang sangat sakral. Motif tenun ini memiliki derajat paling tinggi dibandingkan tenun Batak lainnya. Kerri pun menyebut motif ini sebagai “rajanya ulos”, karena tidak sembarang orang bisa memakai Ragi Idup.

Hanya mereka yang keturunannya sudah lengkap yang bisa memakai motif ulos ini. Jadi, seorang perempuan Batak yang semua anaknya sudah menikah dan punya anak bisa mengenakan kain motif ini. Anak muda tidak diperbolehkan memakai motif ini.

Ulos Ragi Idup di Studio & Gallery Tobatenun, Sopo Del Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/7/2025). Foto: Judith Aura/kumparan

Ulos Ragi Idup merupakan salah satu tenun Batak dengan proses penenunan yang sangat sulit. Sebab, ulos ini memadukan banyak teknik tenun yang rumit, seperti tenun ikat, tenun jungkit, tenun datar, tenun jugia, mangarapot dan sirat. Hasilnya? Motif tenun yang menggabungkan kain berwarna cerah dan gelap tanpa proses penjahitan; seluruhnya digabungkan dengan ditenun.

Dalam melakukan revitalisasi motif tenun sakral ini, tim Tobatenun tentunya menghadapi tantangan tersendiri.

“Ragi Idup itu rajanya ulos karena ada tiga motif dan dipakai oleh mereka yang keturunannya sudah lengkap. Proses riset dan pengembangannya penuh perjuangan karena kami mendampingi penenun melihat motif lawas ini. Penenun itu belajar dengan melihat,” jelas Kerri.

Kolaborasi dengan desainer lokal

Busana rancangan Eridani kolaborasi dengan Tobatenun. Foto: Judith Aura/kumparan

Untuk merayakan hari jadinya ini, Tobatenun juga melakukan kolaborasi bersama perancang mode dalam meluncurkan koleksi busana berbahan tenun Batak. Hasil kolaborasi ini menunjukkan bahwa tenun Batak tidak hanya bisa dipakai sebagai kain, tetapi juga bisa dikreasikan ke dalam busana-busana apik.

Beberapa desainer yang bekerja sama dengan Tobatenun adalah AMOTSYAMSURIMUDA yang mengeksplorasi tenun menjadi busana pria bernuansa kontemporer; Eridani yang menghasilkan busana feminin memakai Ulos Sadum dan Hiou Simakataka; hingga DANJYO HIYOJI dengan koleksi yang bereksperimen dengan kain tenun sisa oleh partonun lewat metode perca atau patchwork.