Woman
·
19 November 2020 8:30

Riset: Perempuan Usia Produktif Rentan Kekurangan Vitamin D

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Riset: Perempuan Usia Produktif Rentan Kekurangan Vitamin D (53102)
Sering bekerja di ruangan tertutup jadi salah satu faktor penyebab perempuan kekurangan vitamin D. Foto: Shutterstock
Masalah kekurangan vitamin D atau defisiensi vitamin D masih tergolong tinggi. Ahli gizi Universitas Gadjah Mada, Dian Caturini Sulistyoningrum, B.Sc., M.Sc., menyebutkan, defisiensi vitamin D merupakan persoalan negara-negara di dunia. Tak hanya muncul di negara dengan paparan sinar matahari terbatas, tetapi juga terjadi di negara tropis, seperti Indonesia.
Melansir US National Library of Medicine, perempuan di usia muda cenderung lebih mudah kekurangan vitamin D. Faktornya pun beragam, misalnya karena sedang hamil atau bekerja di ruangan tertutup.
Biasanya, kekurangan vitamin D terjadi pada awal kehamilan. Hal ini karena kebutuhan vitamin D ibu hamil harus dibagi dua dengan janin. Namun, tak menutup kemungkinan defisiensi vitamin D juga terjadi seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Sebab, ibu hamil akan mengalami peningkatan ekskresi kalsium urin.
Risiko kekurangan vitamin D juga rentan dialami oleh para pekerja perempuan yang jarang terkena sinar matahari karena bekerja di ruangan tertutup. Apalagi, pekerja perempuan cenderung mempunyai perilaku menghindari matahari. Misalnya, memakai pakaian yang sulit menyerap sinar matahari dan menggunakan pelindung tubuh, seperti topi, payung, atau sunscreen. Padahal, seperti dilansir Daily Mail, peneliti asal Spanyol mengungkapkan, diperlukan waktu berjemur selama 29 menit per hari untuk mendapatkan asupan vitamin D yang cukup.
Riset: Perempuan Usia Produktif Rentan Kekurangan Vitamin D (53103)
Perilaku yang cenderung menghindari matahari jadi salah satu faktor penyebab perempuan kekurangan vitamin D. Foto: Shutterstock
Tim peneliti Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (Fema IPB) menemukan, sebanyak 57,6 persen pekerja wanita berusia 35-45 tahun tidak memiliki asupan vitamin D yang cukup dan 30,5 persen mengalami defisiensi vitamin D.
Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2019, kebutuhan harian vitamin D adalah 400 IU untuk bayi di bawah 1 tahun, 600 IU untuk anak usia ≥1 tahun, remaja, dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta 800 IU untuk usia ≥65 tahun. Sedangkan pada orang dengan paparan sinar matahari yang kurang, baik anak dan orang dewasa memerlukan dosis vitamin D 800-1000 IU/hari.
Meski sering bekerja di ruangan tertutup, Anda tak perlu khawatir. Sebab kini hadir cara mudah untuk mencukupi kebutuhan vitamin D dengan Prove D3.
Riset: Perempuan Usia Produktif Rentan Kekurangan Vitamin D (53104)
Prove D3 merupakan vitamin D3 berbentuk drops pertama di Indonesia dengan dosis 400 IU per tetes. Foto: dok. KALBE
Sebagai vitamin dari KALBE, Prove D3 merupakan vitamin D3 berbentuk drops pertama di Indonesia dengan dosis 400 IU per tetes. Meski berbentuk drops, Prove D3 mempunyai dosis yang fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan vitamin D seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Prove D3 juga bebas gluten, bebas perasa, pewarna, pengawet, dan alkohol. Ya, suplemen ini hadir menjadi bagian perjalanan keluarga Indonesia untuk mendapatkan vitamin D dengan cara mudah.
Mulai sekarang, yuk pakai cara mudah untuk penuhi kebutuhan vitamin D dengan Prove D3!
Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan KALBE