Kumparan Logo

Role Model: Perjalanan Kamila Andini & Putri Marino Mewujudkan Sosok 'Pertiwi'

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamila Andini dan Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kamila Andini dan Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

Empat Musim Pertiwi garapan sutradara perempuan ternama Kamila Andini menjadi salah satu film yang penayangannya dinanti. Resmi mengudara di 8 Oktober 2026, film ini mengeksplorasi tema-tema soal pulang, amarah, trauma, hingga harapan untuk penghidupan yang lebih baik.

Tokoh utama Pertiwi (diperankan oleh Putri Marino) adalah sosok dengan kompleksitas tinggi—bertahan hidup dengan trauma masa lalu akibat kekerasan seksual, kemudian harus menerima penolakan setelah kembali dari pengasingan. Eksplorasi emosi yang dilakukan oleh Putri Marino untuk menghidupkan tokoh Pertiwi menjadi salah satu tantangan besar dalam proses syuting.

“Pertiwi dan Putri ini adalah dua karakter yang sangat berbeda. Awal-awal baca skrip, awal-awal mendalami karakternya Pertiwi, aku merasa seperti menolak Pertiwi ataupun Pertiwi menolak Putri,” ucap Putri Marino saat diwawancarai untuk program Role Model kumparanWOMAN beberapa waktu lalu.

“Aku mencoba untuk memahami bagaimana pola berpikirnya Pertiwi. Kenapa dia akhirnya memutuskan untuk pulang setelah 20 tahun. Pertiwi ini adalah sosok yang dia hidup, dia bernafas, tapi dalamnya itu dia mati,” imbuhnya.

instagram embed

Empat Musim Pertiwi telah menikmati kesuksesan dari sebelum dan setelah perilisan resmi. World Premiere untuk film ini dilangsungkan di Toronto International Film Festival (TIFF) beberapa pekan lalu, dilanjutkan dengan penayangan di Busan International Film Festival, serta Tokyo International Film Festival pada 27 Oktober, 30 Oktober, dan 3 November 2026.

Film ini juga terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang Academy Awards (Oscars) ke-99 untuk kategori Best International Film Feature.

Namun, di balik deretan pencapaian, ada cerita mendalam di baliknya. Bukan sekadar soal kemarahan, pulang, dan trauma, bagi Kamila Andini, film ini—dan film tentang perempuan lainnya—merupakan cara sang sutradara untuk memahami bagaimana dunia bekerja dalam kacamata perempuan.

“Kenapa saya juga bicara soal perempuan dan kehidupan perempuan di sekitar perempuan? Karena film itu adalah cara aku untuk memahami lebih jauh bagaimana dunia bekerja,” jelasnya.

Kamila Andini dan Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

Perbincangan kumparanWOMAN bersama Kamila Andini dan Putri Marino berlangsung santai, usai kami menjalani sesi pemotretan yang cukup panjang.

Kendati lelah setelah menjalani beragam kegiatan, baik Putri maupun Kamila tampak sangat berada dalam elemen masing-masing; bersenda gurau, melontarkan candaan satu sama lain, tapi tetap mempertahankan profesionalitas. Fokus di depan kamera fotografer, mendalam di sesi wawancara, namun tetap diiringi dengan tawa kecil di sana-sini.

Untuk memahami bagaimana proses Kamila Andini dan Putri Marino menghidupkan tokoh Pertiwi dalam film Empat Musim Pertiwi, serta bagaimana kedua perempuan memaknai amarah dan pulang, simak wawancara eksklusif kami berikut ini.

Bagaimana Kamila Andini mendeskripsikan film Empat Musim Pertiwi secara singkat?

Kamila Andini untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

Kamila Andini (KA): Film Empat Musim Pertiwi bercerita tentang seorang perempuan bernama Pertiwi yang kembali pulang ke kampung halamannya setelah 20 tahun pergi. Saat dia kembali, ada satu atau dua orang yang tentunya senang atas kepulangannya, tapi banyak yang memberikan reaksi berbeda. Bahkan ada beberapa yang tidak menerima kepulangannya dia. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu dan kenapa Pertiwi pulang? Perjalanan pulang seperti apa yang akan dia hadapi?

Sebagai pemeran tokoh Pertiwi, bagaimana Putri Marino memahami tokoh sekompleks Pertiwi? Apa yang paling mudah dan yang paling sulit?

Putri Marino (PM): Kalau paling mudah untuk aku pahami, sepertinya enggak ada. Sulit semua. Karena Pertiwi dan Putri adalah dua karakter yang sangat berbeda. Awal-awal baca skrip, awal-awal mendalami karakternya Pertiwi, aku merasa seperti menolak Pertiwi, Pertiwi menolak Putri. Jadi harus bagaimana, ya, caranya supaya aku bisa memahami Pertiwi dan pola pikirnya?

Pertiwi ini adalah sosok yang dia hidup, dia bernafas, tapi dalamnya itu dia mati. Itu yang paling menantang buat aku, karena Putri—aku—adalah seorang manusia yang tidak pernah merasakan menjadi Pertiwi. Poin ini bagi aku sangat menantang untuk aku eksplorasi dan mainkan. Ada pula rasa kesepiannya dan keberaniannya Pertiwi. Kalau Putri jadi Pertiwi, sepertinya enggak akan pulang. Memang Pertiwi dan Putri menantang satu sama lain.

Bagaimana cara Putri “merangkul” sosok Pertiwi?

Kamila Andini untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

PM: Dengan ikhlas. Dengan mencoba untuk memahami, belajar untuk memahami Pertiwi. Dengan cara itu, rasanya aku bisa mengerti Pertiwi dan Pertiwi akhirnya percaya aku sebagai seorang aktor untuk menyuarakan suaranya dia. Selain itu juga banyak berdiskusi dengan Kak Dini (panggilan untuk Kamila Andini -red) dengan para pemeran yang lain untuk membangun karakter dan dunianya Pertiwi. Plus, Kak Dini juga memberikan aku sebuah buku untuk lebih memahami tentang konsep “mati”, judulnya “Perempuan di Titik Nol”.

Melihat bagaimana Putri Marino memerankan Pertiwi dengan apik, apakah tokoh itu memang diciptakan untuk Putri?

KA: Setiap kali aku membangun sebuah karakter, aku enggak pernah punya satu bayangan yang utuh sekali. Karena memang proses kreatifku sangat organik dan bergulir. Jadi, selama proses syuting sampai selesai, ada hal-hal yang terus aku cari dan coba temukan. Aku juga senang memberikan ruang kepada aktornya nanti untuk menginterpretasi karakter.

Tapi, memang dari awal yang terbayang lebih ke fisik. Maksudnya aku memang sudah membayangkan Pertiwi sebagai seorang perempuan dengan rambut yang panjang. Waktu itu, saat membicarakan subjek ini, aku melihat bahwa ada nuansa pengembaraan dalam cerita ini. Sisi pengembaraan ini diinterpretasikan lewat kostum dan gaya. Makanya dalam film, terlihat ada nuansa cowboy atau western style.

Lalu, yang memang dicari adalah aku membayangkan seorang perempuan yang secara fisik muda, tapi sebenarnya di dalamnya tua—tua akan pengalaman karena dia sudah mengalami lebih banyak hal daripada perempuan seusianya.

Dalam memerankan Pertiwi, apa yang Putri Marino “lepaskan”?

Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

PM: Saat aku memulai suatu proyek, terutama Pertiwi, sebelum memulai proses reading yang intens, aku tidak mengambil proyek film apa pun. Itu adalah salah satu cara aku untuk mempersiapkan ladang yang sangat luas dan lapang. Aku tahu persis Pertiwi butuh ladang yang luas untuk aku mengeksplorasi Pertiwi, dengan segala kompleksitasnya Pertiwi.

Apakah ada pengalaman hidup yang menginspirasi Kamila Andini dalam menciptakan Empat Musim Pertiwi?

KA: Pertanyaan ini membuat aku merasa punya banyak privilege, karena kayaknya tidak berbasis pengalaman. Namun, kenapa aku juga bicara soal perempuan dan kehidupan perempuan di sekitar perempuan? Karena film itu adalah cara aku untuk memahami lebih jauh bagaimana dunia bekerja. Setiap proyek, aku akan belajar banyak banget dari dari film tersebut.

Lalu, sebagai lulusan Sosiologi yang mempelajari feminisme, aku dulu belajar banyak soal feminisme dari perspektif barat yang sangat liberal, berani, dan vokal. Yang aku pelajari juga sedikit banyak membuatku menjadi perempuan yang cukup berani bersuara. Namun, di sisi lain, aku tumbuh di Indonesia dengan budaya, agama, dan ruang sosial yang berbeda. Aku melihat kenyataan di sekitarku berbeda jauh dari teori-teori itu. Enggak semua perempuan di sini semudah itu bergerak, bisa membuat keputusan secepat itu, bahkan bilang tidak aja mungkin luar biasa sulit.

Kenyataan inilah yang membuat aku ingin berpihak kepada para perempuan di tanah Indonesia. Di sini, aku bisa memahami bahwa perempuan-perempuan yang hidup di negara dunia ketiga itu memang punya kompleksitas yang berbeda. Ini yang menyadarkan aku bahwa ada hal-hal yang perlu dibela, ada juga proses-proses yang juga perlu dibela.

Sosok Pertiwi sepertinya memendam sungguh banyak kemarahan. Apakah kemarahan bisa menjadi cara untuk menyembuhkan trauma?

Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

PM: Menurut aku, ya. Menurut aku, kalau kita belum sembuh itu pasti ada luka mungkin dari masa lalu yang memang belum bisa kita tangani. Ada rasa marah, sedih, dan kecewa yang mengganggu pikiran kita. Jadi, mengekspresikan suatu emosi secara tepat kayaknya salah satu cara untuk bisa melepaskan rasa-rasa enggak enak di dalam diri.

KA: Menurutku, pembicaraan tentang female rage atau kemarahan perempuan ini juga diskursus yang menarik. Aku pun masih berdialog banyak dengan diriku soal ini.

Di sisi yang sama, aku melihat bahwa kenapa diskursus tentang woman dan rage harus menjadi sebuah topik, sementara itu tidak terjadi pada saat pria marah? Rasanya, setiap kali laki-laki marah, orang melihatnya sebagai sikap asertif. Kalau perempuan marah, dia dianggap sulit dikendalikan.

Padahal, sebenarnya segala bentuk emosi juga bagian sesuatu yang manusiawi. Aku sendiri, sebagai perempuan yang tumbuh dengan budaya timur, selalu merasa bahwa perempuan marah adalah ekspresi negatif. Padahal, sebenarnya itu bagian yang sangat manusiawi. Aku merasa, kita harus menormalisasi bahwa amarah adalah bagian dari perasaan manusia yang perempuan juga harus miliki.

Terakhir, apa makna pulang bagi Kamila Andini dan Putri Marino?

Kamila Andini dan Putri Marino untuk Role Model kumparanWOMAN. Foto: Winston Gomez for kumparan

KA: Kalau menurutku, pulang—terutama dari melihat film ini—adalah pulang ke dalam diri sendiri. Buat aku, arti rumah yang sebenarnya adalah tempat di mana kita juga sebagai manusia bisa dihargai, diterima, didengar, dan kita bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya. Namun, aku juga mengartikan pulang dalam perspektif yang lebih luas. Aku selalu ingin membuat film tentang Indonesia. Jadi, setiap kali punya subjek dan berkarya di sebuah daerah, itu rasanya kayak pulang, karena aku menggali lagi lebih dalam melihat lebih jauh seperti apa Indonesia itu.

PM: Aku setuju dengan Kak Dini. Pulang itu nggak selalu harus tentang pulang ke rumah. Pulang itu bisa ke banyak hal: ke orang yang mengerti kita, di mana kita bisa menjadi diri kita yang seutuhnya tanpa harus berpura-pura. Itulah fungsi rumah. Kita merasa aman, nyaman, dihargai; Ada safe zone dan ada perasaan lega di saat kita pulang yang mungkin enggak bisa didapatkan di mana-mana.

Selain itu, produksi film ini juga seperti aku pulang ke rumah. Dengan adanya Kak Dini yang sangat suportif dengan adanya cast yang sangat luar biasa dan tim yang berdedikasi, aku merasa sangat aman dan sangat nyaman untuk berada di lingkungan syuting Empat Musim Pertiwi.

-

Saksikan perbincangan kumparanWOMAN bersama Kamila Andini dan Putri Marino di YouTube kumparan.

video youtube embed