Sejarah di Balik Acara Penobatan Ratu Elizabeth II yang Ditonton 27 Juta Orang

2 Juni 1953 atau tepat 67 tahun yang lalu, Ratu Elizabeth II secara resmi dinobatkan sebagai Ratu Inggris di Westminster Abbey. Ia menggantikan ayahnya, Raja George VI, yang meninggal di usia 56 tahun karena sakit.
Di usianya yang ke-25 tahun, perempuan bernama lengkap Elizabeth Alexandra Mary Windsor ini harus memimpin Kerajaan Inggris dan negara-negara persemakmuran lainnya.
Menjadi ratu di usia yang masih terhitung muda, Elizabeth pun ingin acara penobatannya sedikit berbeda. Menurut laporan Vanity Fair, dulu Elizabeth pernah diminta untuk mengulas penobatan ayahnya saat ia masih berusia 11 tahun. Meski memuji jalannya acara, namun Elizabeth memberikan kesan bahwa acara tersebut sangat membosankan.
Oleh karena itu agar sedikit berbeda, Ratu Elizabeth II pun menunjuk sang suami, Pangeran Philip, untuk menjadi ketua komisi penobatan. Keputusan tersebut disambut begitu gembira oleh Philip karena ia merasa dilibatkan dalam momen penting dan bersejarah.
Mendapatkan tugas baru, Duke of Edinburgh pun sangat senang dan mencanangkan sebuah ide gila yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia ingin agar acara penobatan Elizabeth disiarkan secara langsung di televisi.
Tentu saja ide tersebut tidak langsung diterima dan ditentang oleh banyak pihak. Terutama oleh Ibunda Ratu Elizabeth Queen Mary, pihak pemerintahan kerajaan, termasuk Sir Winston Churchill yang saat itu berperan sebagai Perdana Menteri Inggris.
Sejak dulu, acara penobatan memang menjadi momen yang sakral dan hanya layak dihadiri dan ditonton oleh kelompok bangsawan. Selain itu, penyiaran acara penobatan di televisi juga dianggap tidak tepat. Bahkan menurut laporan BBC, Winston Churchill cukup marah dengan ide gila dari Pangeran Philip karena mau memasukkan kamera ke gereja Westminster Abbey yang sakral dan suci.
“Sangat tidak tepat baik secara religius dan spiritual jika acara penobatan ini dihadirkan di televisi seperti sebuah pertunjukan teater,” ungkap Sir Winston Churchill kepada House of Commons seperti dikutip dari situs Good House Keeping.
Namun meski mengalami banyak penolakan, tapi Ratu Elizabeth II setuju dengan ide dari sang suami. Ia ingin agar seluruh negara tahu bahwa dia adalah pemimpin mereka yang baru. Sang ratu juga menyadari bahwa acara siaran penobatan tersebut akan mampu mendobrak batasan-batasan kasta yang selama ini membatasi kerajaan dan masyarakat.
Setelah melalui perdebatan yang cukup sengit, pihak kerajaan akhirnya menyerah dan meminta stasiun televisi BBC untuk menyiarkan acara penobatan Ratu Elizabeth II secara langsung.
Kabar penyiaran tersebut tentu disambut gembira oleh masyarakat, terutama di Inggris. Penjualan televisi pun semakin meningkat menjelang berlangsungnya acara. Bagi sebagian orang, momen penobatan Ratu Elizabeth II ini juga menjadi momen pertama mereka dalam menonton televisi.
Di hari pelaksanaannya, penobatan Ratu Elizabeth II benar-benar berhasil mengukir sejarah karena 27 juta masyarakat di Inggris menyaksikan siaran tersebut. Tak hanya itu, 11 juta orang lainnya juga menyimak jalannya acara melalui siaran langsung di radio.
Satu-satunya bagian acara yang tidak disiarkan adalah momen Act of Consecration. Di mana sang Ratu membuka jubah penobatannya dan hanya mengenakan gaun putih untuk membacakan sumpah sambil duduk di kursi Raja Edward.
Di momen tersebut, Ratu Elizabeth II dan Uskup Agung Canterbury ditutupi oleh kain emas oleh para Knights of the Garter. Tayangan di televisi pun dialihkan menjadi footage-footage video yang menyorot pemandangan lain. Menurut pihak kerajaan, ini adalah momen paling sakral dan suci dalam acara penobatan. Jadi meski sudah disiarkan secara langsung, namun prosesnya tetap harus dirahasiakan.
