Sejarah Hari Janda Internasional, Berawal dari Pengalaman Hidup Seorang Yatim
·waktu baca 4 menit

Hari Janda Internasional atau International Widows Day baru saja diperingati pada Jumat (23/6) kemarin, Ladies. Ini adalah hari aksi global tahunan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk menyoroti dan melawan diskriminasi serta ketidakadilan yang dialami oleh janda di seluruh dunia.
Seperti apa, ya, sejarah dari Hari Janda Internasional tersebut? Yuk, simak selengkapnya berikut ini.
Diinisiasi The Loomba Foundation Milik Raj Loomba
Hari Janda Internasional diprakarsai oleh The Loomba Foundation. Inisiatif tersebut diluncurkan di Dewan Bangsawan, majelis tinggi dalam Parlemen Britania Raya, di London pada 26 Mei 2005.
Dilansir dari situs resminya, The Loomba Foundation adalah yayasan yang didirikan oleh Raj Loomba, pria kelahiran India yang juga adalah anggota Dewan Bangsawan. Yang melatarinya adalah pengalaman hidup mendiang ibunda Raj sebagai janda.
Pada 23 Juni 1954, di Dhilwan, India, kala Raj berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya—Shrimati Pushpa Wati Loomba, yang kala itu berusia 37 tahun—pun menjanda.
Bagi jutaan janda dari latar belakang miskin di India, situasinya sangat suram. Tidak jarang, mereka dituduh oleh keluarga atas kematian suami mereka. Harta dan kekayaan sering kali dirampas.
Nasib yang menanti banyak janda adalah mereka harus mengenakan pakaian putih polos, tidak dapat bekerja, sulit untuk menikah lagi, dan tidak mampu membayar pendidikan anak-anak mereka.
Hal-hal kurang menyenangkan pun dialami ibunda Raj setelah menjanda. Pada hari kematian ayahnya, neneknya memerintahkan ibunda Raj untuk melepaskan perhiasan dan mulai saat itu hanya mengenakan pakaian putih.
Kala Raj menikah pun, ia harus dilanda amarah. Sebab, pendeta meminta ibunya untuk duduk jauh dari altar agar, sebagai janda, ia tak membawa sial bagi pasangan mempelai.
“Seorang ibu yang melahirkan saya, membesarkan saya, yang memberi pendidikan pada saya, dan selalu berharap yang terbaik untuk saya, bagaimana mungkin dia membawa sial bagi saya?" tutur Raj Loomba, sebagaimana dikutip dari situs resmi The Loomba Foundation.
Raj bersyukur, ibunya mampu menggunakan seluruh sumber daya yang ada, peninggalan sang suami, untuk memastikan ketujuh anaknya mengenyam pendidikan terbaik. Ia juga kemudian belajar dengan sungguh-sungguh dan berhasil membangun bisnis di India serta Inggris.
Di tengah kesuksesannya, Raj mulai memikirkan nasib para janda miskin dan anak-anak mereka. Alhasil, pada 1997, lima tahun setelah ibundanya meninggal dunia, Raj dan istri—Veena Chaudhry—mendirikan yayasan untuk mengenang almarhumah sekaligus menyoroti ketidakadilan yang dialami oleh janda dan anak-anak mereka di India.
Yayasan itu—The Loomba Foundation—mulanya dinamai Shrimati Pushpa Wati Loomba, sesuai dengan nama sang ibunda. The Loomba Foundation melakukan berbagai upaya untuk merawat para janda dan anak-anak mereka, sekaligus mengubah budaya diskriminasi terhadap mereka.
Hari Janda Internasional kemudian diprakarsai setelah Raj menyadari bahwa masalah terkait nasib para janda tak hanya terbatas di India. Ia merasa masyarakat global perlu memiliki kesadaran akan masalah yang satu ini.
Di hadapan sejumlah politisi terkemuka, pengusaha, aktivis kemanusiaan, dan jurnalis dari Inggris, India, dan seluruh dunia, Raj Loomba bersama Presiden The Loomba Foundation, Cherie Blair, meluncurkan hari aksi global tahunan untuk mengatasi prasangka yang menjadi akar penderitaan janda.
Mereka mengumumkan bahwa hari tersebut akan dikenal sebagai Hari Janda Internasional. Tanggal pelaksanaannya setiap tahun adalah 23 Juni; tanggal di mana, sebagai anak laki-laki berusia 10 tahun, Raj kehilangan ayahnya dan menyaksikan secara langsung ketidakadilan yang dialami ibunya karena menjadi janda.
Diresmikan PBB pada 2010
Pada 23 Juni 2005, tepat empat minggu setelah peluncuran, Raj Loomba dan murid-murid sekolah setempat melepaskan seribu balon berwarna-warni ke langit di Tower Bridge di London untuk menandai Hari Janda Internasional pertama. Acara serupa juga diadakan di India, Nepal, Sri Lanka, Uganda, dan Afrika Selatan.
Tak peduli seberapa banyak beasiswa, mesin jahit, hingga acara penggalangan dana dapat dimanfaatkan untuk memberikan dampak yang berkelanjutan pada masalah global ini, bagi Raj Loomba, untuk mengubah budaya secara global, komunitas internasional harus terlibat.
Pemerintah harus diyakinkan untuk membantu. Masyarakat harus didorong untuk bekerja sama. Program bantuan harus difokuskan tidak hanya pada kebutuhan saat ini, tetapi juga pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk memutus siklus kemiskinan. Jadi, menurut Rah, Hari Janda Internasional pertama bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan.
Setelah inisiatif terkait Hari Janda Internasional diluncurkan, The Loomba Foundation memimpin kampanye global selama lima tahun untuk mendapatkan pengakuan PBB.
Pada akhirnya, keputusan bulat untuk mengadopsi Hari Janda Internasional sebagai hari aksi global tahunan dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2010.
Sejak itu, Hari Janda Internasional telah menjadi fokus kampanye di banyak negara di seluruh dunia, dengan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran di masyarakat dan melibatkan pemerintah dalam mengembangkan kebijakan yang efektif.
