Kumparan Logo

Sejarah Kacamata Hitam: Dulu Dipakai Hakim China Saat Sidang

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Kacamata Hitam. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kacamata Hitam. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

Kacamata hitam mungkin identik dengan fashion item, gaya selebriti Hollywood, atau aksesori wajib saat liburan musim panas. Tapi jauh sebelum jadi simbol dan bagian gaya hidup modern, kacamata hitam ternyata punya sejarah panjang yang berkaitan dengan kekuasaan, privasi, hingga strategi menyembunyikan emosi.

Dilansir The Conversation, penggunaan pelindung mata dari cahaya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Salah satu kisah paling awal datang dari Kaisar Romawi, Nero, yang disebut menggunakan batu permata yang dipoles untuk mengurangi silau saat menonton pertarungan gladiator.

Di wilayah Kutub Utara, masyarakat Inuit dan Yupik juga membuat “snow goggles” dari tulang paus atau tanduk hewan dengan celah sempit untuk melindungi mata dari pantulan cahaya salju yang ekstrem sekaligus membantu fokus saat berburu.

Dipakai Hakim China untuk Menyembunyikan Emosi

Ilustrasi hakim China pakai kacamata hitam. Foto: kumparan/Ilustrasi

Salah satu penggunaan kacamata hitam yang paling menarik ada di China pada abad ke-12. Kala itu, para hakim menggunakan lensa quartz berwarna gelap selama persidangan agar ekspresi wajah mereka tidak mudah terbaca saat mendengarkan kesaksian.

Kacamata hitam bukan sekadar alat pelindung mata, tapi juga simbol kontrol diri dan otoritas. Dengan menyembunyikan emosi di balik lensa gelap, para hakim dianggap bisa menjaga netralitas dan wibawa mereka di depan publik.

Tradisi ini menunjukkan bahwa sejak dulu kacamata hitam sudah memiliki fungsi sosial dan psikologis. Tidak hanya melindungi mata, tetapi juga menciptakan jarak, menjaga privasi, dan membangun citra tertentu di depan orang lain.

Dari Hollywood sampai Jadi Fashion Statement

Ilustrasi perempuan bergaya dengan mengenakan jaket kulit berwarna lilac dan kacamata hitam. Foto: MaxFrost/Shutterstock

Memasuki era modern, fungsi kacamata hitam mulai bergeser dari kebutuhan praktis menjadi bagian dari budaya populer. Pada era Hollywood 1920-an dan 1930-an, banyak aktor memakai tinted glasses karena mata mereka lelah akibat sorotan lampu studio yang sangat terang.

Lama-kelamaan, aksesori ini justru menjadi identitas para selebriti. Audrey Hepburn dikenal lewat oversized sunglasses ikonisnya, sementara Anna Wintour menjadikan kacamata hitam sebagai bagian dari persona publiknya yang dingin dan powerful.

Popularitas sunglasses semakin meluas setelah Ray-Ban merilis model Aviator pada 1939 untuk pilot Angkatan Udara Amerika Serikat. Desainnya dibuat khusus untuk mengurangi silau dari berbagai arah saat terbang. Tapi di luar fungsi teknisnya, model itu kemudian berkembang menjadi simbol maskulinitas, coolness, dan status sosial yang bertahan sampai sekarang.

Hari ini, kacamata hitam tidak lagi sekadar pelindung mata dari sinar matahari. Banyak orang memakainya untuk membangun image tertentu, seperti terlihat lebih misterius, lebih percaya diri, atau sekadar tampil fashionable.