Sejarah Konsep Bridesmaid, dari Tradisi Kuno hingga Era Modern
·waktu baca 3 menit

Bridesmaid merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam sebuah pernikahan. Banyak pengantin perempuan memilih menghadirkan bridesmaid di hari istimewanya. Biasanya, yang dipercaya untuk menjadi bridesmaid adalah sahabat- sahabat terdekat si pengantin.
Mereka yang dipilih akan mengenakan busana seragam yang ditentukan oleh calon pengantin. Menariknya konsep ini bukanlah suatu hal yang baru, Ladies. Nyatanya hal tersbut sudah ada sejak ribuan tahun lalu, tapi dengan tujuan yang berbeda-beda. Penasaran seperti apa? Yuk, simak sampai habis!
Bridesmaid di Kekaisaran Romawi
Dikutip dari Vogue, awal mula konsep bridesmaid dianggap berasal dari Romawi Kuno. Pada masa itu, hukum pernikahan mewajibkan adanya sepuluh saksi agar sebuah pernikahan dianggap sah. Para saksi inilah yang menjadi cikal bakal bridesmaid dan groomsmen.
Bridesmaid di Tiongkok feodal
Tradisi serupa juga muncul di Tiongkok feodal. Menurut Dr. Angela Thompson, pengajar sosiologi di Texas Christian University, seorang pengantin perempuan kala itu ditemani oleh pendamping yang mengenakan pakaian mirip dengannya. Tujuannya adalah melindungi pengantin dari roh jahat atau penculik.
"Seorang pengantin perempuan akan memiliki pendamping untuk melindunginya dari roh jahat," ujar Dr. Angela
Bridesmaid di Abad ke–15
Dilansir dari Elle, pada sekitar abad ke-15, pernikahan di Eropa juga menerapkan konsep serupa. Para pengiring pengantin berpakaian sama persis dengan pengantin pria maupun pengantin perempuan.
Kepercayaan saat itu mengatakan bahwa roh jahat sering hadir di sekitar pernikahan untuk mengganggu pasangan baru. Dengan pakaian seragam, roh-roh ini akan sulit mengenali siapa pasangan pengantin sebenarnya.
Baca juga: 4 Fakta Menarik Dibalik Pertunangan Taylor Swift dan Travis Kelce
Bridesmaid di Tahun 1900-an
Memasuki awal abad ke-20, peran bridesmaid mulai lebih banyak dikaitkan dengan mode dan status sosial. Pada masa itu, para bridesmaid biasanya mengenakan gaun dengan warna kontras agar pengantin perempuan tetap menjadi pusat perhatian.
Pada era 1950-an hingga 1980-an, bridesmaid identik dengan gaun seragam berwarna cerah, tulle, serta lengan mengembang. Namun sejak tahun 1990-an, tren minimalis mulai populer, dengan siluet sederhana dan warna netral seperti hitam, biru navy, hingga burgundy.
Bridesmaid saat Ini
Data dari The Knot menunjukkan bahwa jumlah bridesmaid yang mengenakan gaun seragam terus menurun, dari 55% pada tahun 2015 menjadi 31% pada tahun 2020. Jika dulu busana seragam pengantin dianggap penting, kini hal tersebut dinilai bukan lagi keharusan, bahkan bisa membantu mengurangi anggaran pernikahan.
Saat ini, peran bridesmaid lebih fokus pada dukungan emosional, membantu persiapan acara, serta mendampingi pengantin perempuan di hari istimewanya, bukan lagi untuk mengusir roh jahat seperti pada awal mula konsep ini.
Itulah sejarah singkat bridesmaid dari masa ke masa. Kalau kamu menikah nanti, siapa yang akan kamu pilih jadi bridesmaid?
Baca juga: 10 Jenis Bunga yang Cocok Dijadikan Buket Pernikahan Beserta Maknanya
