Selatox Jadi Pabrik Bahan Botoks Pertama di Indonesia, Raih Sertifikasi BPOM

Selama ini, botulinum toxin untuk prosedur botoks belum diproduksi di Indonesia sehingga seluruh pasokannya masih berasal dari luar negeri. Namun, PT Selatox Bio Pharma (Selatox) yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, kini diklaim menjadi pabrik pertama di Indonesia yang akan memproduksi botulinum toxin.
Perusahaan biofarmasi ini telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, pada Senin (20/7). Sertifikasi itu menjadi bentuk pengakuan bahwa fasilitas di Selatox telah memenuhi standar dan ketentuan BPOM.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar mengatakan produk biologis—termasuk botulinum toxin—merupakan salah satu sektor dengan potensi bisnis terbesar di industri farmasi global. Ia mengatakan sekitar 65 persen pasar farmasi dunia didominasi produk biologis, sementara sisanya sekitar 35 persen merupakan produk sintetis berbasis kimia.
Besarnya potensi pasar tersebut membuat pengawasan terhadap produk biologis menjadi semakin penting. Oleh karena itu, BPOM memastikan setiap produk yang beredar telah memenuhi aspek mutu, keamanan, dan khasiat sebelum digunakan masyarakat.
“Sebagai Badan Pengawas Obat dan Makanan, tugas kami adalah memastikan bahwa setiap produk—baik obat, pangan, maupun kosmetik—memiliki mutu, keamanan, dan khasiat sesuai dengan yang dijanjikan oleh perusahaan,” ujar Taruna.
Taruna menambahkan, sertifikasi CPOB yang diberikan kepada Selatox menunjukkan bahwa fasilitas produksi perusahaan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh BPOM.
Sementara itu, Chief Executive Officer Selatox, Joh Young Hoon, menegaskan fasilitas manufaktur serta sistem manajemen mutu perusahaan telah dibangun sesuai standar yang berlaku.
“Filosofi kami sederhana, yaitu mengejar kualitas tertinggi dan menghadirkan standar kecantikan terbaik. Filosofi tersebut menjadi pedoman dalam setiap proses yang kami lakukan, mulai dari penelitian dan pengembangan hingga manufaktur serta pengawasan mutu,” jelas Joh Young Hoon.
Selatox ini merupakan bagian dari Daewoong Pharmaceutical Group asal Korea Selatan yang dirancang menjadi pusat manufaktur biofarmasi berstandar global. Perusahaan juga mengklaim fasilitas ini sebagai satu-satunya pabrik produksi neurotoxin di Asia Tenggara.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Park Seongsoo mengatakan kehadiran Selatox menjadi wujud komitmen kolaborasi antara Korea Selatan dan Indonesia dalam mengembangkan industri biofarmasi.
“Bersama-sama, kita berkontribusi dalam memajukan industri biofarmasi Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia,” ungkap Park Seongsoo.
Produk yang akan diproduksi Selatox adalah botulinum toxin type A dengan nama: SELATOXIN®. Saat ini, produk tersebut masih berada dalam tahap pengembangan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan kualitasnya sebelum dipasarkan. Diperkirakan, SELATOXIN® akan rampung dan siap dipasarkan pada 2028.
Ke depan, Taruna berharap Selatox tidak hanya memproduksi botulinum toxin untuk kebutuhan estetika, tetapi juga mengembangkan biofarmasi yang dapat dimanfaatkan untuk terapi pascastroke, cerebral palsy (CP), dan berbagai gangguan neurologis lainnya.
