kumparan
Woman8 Maret 2020 10:16

#SHEMOVES: Cindy Kalensang Buktikan Perempuan Bisa Maju di Dunia Teknologi

Konten Redaksi kumparan
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape Foto: Hendry/SweetEscape
Sejak bergabung dengan SweetEscape pada Oktober 2019 lalu, Cindy Kalensang (30) terus memberikan terobosan untuk perusahaan startup yang bergerak di bidang jasa fotografi berbasis teknologi tersebut.
ADVERTISEMENT
Tak hanya memberikan terobosan, perempuan yang menjabat sebagai VP of Product Management di SweetEscape itu juga menjadi bukti bahwa perempuan bisa menempati posisi penting di industri teknologi.
Sebelum di SweetEscape, Cindy pernah berkarier selama lima tahun di industri pasar modal, lalu akhirnya memutuskan untuk berpindah jalur ke perusahaan e-commerce, Blibli.com. Posisi terakhirnya di Blibli adalah VP of Product Management yang ditempatinya sejak Januari 2019 silam.
Berbekal dari pengalamannya itulah, perempuan lulusan Accounting & Finance di UCSI University Kuala Lumpur Malaysia ini fokus mengembangkan SweetEscape menjadi perusahaan berbasis teknologi yang bisa memberikan peluang bisnis untuk fotografer, serta memberikan edukasi soal nilai-nilai sebuah foto kepada konsumen.
Dalam rangka merayakan International Women’s Day sekaligus kampanye #SHEMOVES, kumparanWOMAN memilih Cindy Kalensang sebagai sosok pilihan Role Model kami. Kepada kami, Cindy bercerita mengenai visinya dalam mengubah stigma mengenai keterlibatan perempuan di industri teknologi. Selain itu, Cindy juga bercerita mengenai tantangan yang dihadapinya saat bekerja di industri yang kini masih didominasi oleh laki-laki.
ADVERTISEMENT
Simak perbincangan kami dengan Cindy Kalensang berikut ini.
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape Foto: Hendry/SweetEscape
Setelah menghabiskan beberapa tahun bekerja di pasar modal, apa yang membuat Cindy akhirnya memutuskan pindah ke industri teknologi?
Karena saya orangnya suka belajar. Kalau boleh bercerita sedikit, dulu saya mengambil kelas IPA tapi I’m very very bad at accounting, and then karena bad saya jadi merasa memiliki trigger (untuk belajar accounting). Lalu, saya akhirnya memutuskan mengambil kuliah jurusan accounting & finance, bukan medical doctor.
Setelah lulus, saya kemudian bekerja di pasar modal sekitar lima tahun dan merasa my learning is flat and I need to change, so ketemulah dengan perusahaan e-commerce. Waktu itu, 4-5 tahun lalu, saya melihat e-commerce is nothing ya, enggak banyak orang yang belanja online, even saya sendiri. Tapi, waktu itu saya melakukan studi tentang Amazon, dan berpikir bahwa saya mungkin akan growth di industri seperti ini. Dari situlah kemudian saya memutuskan untuk pindah dari pasar modal ke e-commerce.
ADVERTISEMENT
Apa saja gebrakan yang sudah Cindy lakukan sejak bergabung di SweetEscape?
Mungkin pertama yang sudah saya lakukan di SweetEscape lebih ke mengenalkan fungsi product management ya. Jadi banyak stakeholder di SweetEscape yang enggak begitu mengerti, sebenarnya product management itu role-nya seperti apa. Sehingga, hal pertama yang saya lakukan di sini adalah menjeleaskan ke orang internal hal apa yang bisa dilakukan sebagai product management, lalu bagaimana caranya product management itu menjadi jembatan antara bisnis ke teknologi, dan juga customer. Kita serve customer, dan tahu apa keinginan customer, sehingga kita sampaikan ke business untuk dibuat sebagai business plan.
So, I think mungkin dari sisi fitur dan lain-lain nothing much yang bisa saya ceritakan dalam waktu 4 bulan, tapi menurut saya perbedaannya lebih ke create culture dan bagaimana orang-orang bisa embrace product business-nya.
ADVERTISEMENT
Kabarnya, Cindy menjadi satu-satunya perempuan dan tanpa latar belakang IT yang berada di dalam tim. Apa tantangan-tantangan yang kerap Cindy hadapi, terutama bekerja di dalam tim yang didominasi laki-laki? Lalu, bagaimana cara Cindy mengubah stereotip bahwa perempuan juga bisa bekerja di bidang laki-laki?
Mungkin saya berbicara sedikit tentang angka. Jadi ada beberapa research di luar sana yang melihat seberapa besar partisipasi perempuan di dunia science, technology, and engineering. Jadi menurut studi yang saya baca, partisipasi perempuan di dunia teknologi less than 20 percent, bisa dibilang angka terakhir di 2019 hanya 19 persen, dan angka itu tidak bergerak selama 10 tahun terakhir.
Menariknya lagi pada berbagai event teknologi yang kayak workshop atau seminar, partisipasi perempuan itu paling 1 dari 5 atau 1 dari 4. Jadi, industri teknologi sering dianggap atau memiliki stereotip is very male. And it happens? I have to say it happens.
ADVERTISEMENT
Lalu kenapa sih ini terjadi? Pertama, karena teknologi selalu dianggap bromance banget lah. Sebagai contoh, kalau lagi lagi hang out, semuanya laki-laki sehingga perempuan merasa left out. Kedua, enggak bisa disangkal juga terkadang ada double standar ketika kita berbicara mengenai engineer laki-laki atau perempuan. Lalu, kenapa bisa double standar? Karena dunia teknologi selalu diidentikkan dengan lembur dan dianggap tidak cukup fleksibel bagi women to have career and family at the same time. Tapi, saya bisa katakan ini butuh proses bagi perempuan untuk ter-empower berada di sini, karena di luar sana banyak perempuan yang sukses di bidang teknologi, sebagai contoh Sheryl Sandberg dari Facebook hingga Marissa Mayer.
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape Foto: Hendry/SweetEscape
Siapa sosok perempuan yang menjadi role model Cindy? Apakah Sheryl Sandberg dari Facebook yang Cindy sebutkan tadi?
ADVERTISEMENT
Hmm salah satunya iya. My biggest role model is my mom, tapi Sheryl itu seperti living proof bahwa perempuan juga bisa bekerja di industri teknologi. Terus dia juga punya filosofi yang banyak perempuan melihatnya itu sebagai kontroversi. Tapi saya pikir yang dia katakan itu benar, salah satunya dia bilang bahwa perempuan itu harus berada di posisi depan agar suaranya bisa terdengar.
Yang kedua, I think it happens to me, dan yang saya pelajari juga dari Sheryl adalah don’t hold back. Sebab, kita sebagai perempuan biasanya hold back on opportunity karena kita think too much. Contohnya mau ambil kerja ini, tapi bentar lagi married. Pokoknya hal-hal seperti itu.
Lalu bagaimana cara SweetEscape mendukung kesetaraan gender di lingkungan kerja?
ADVERTISEMENT
So, I think SweetEscape is one of the company yang saya lihat is doing action untuk melakukan penyetaraan gender ya. Karena, di SweetEscape ini ada tiga VP dan dari tiga VP itu dua adalah perempuan. And then, kalau kita duduk di leadership meeting gitu bisa dibilang representasinya seimbang, yaitu 50% laki-laki dan 50% perempuan. Selain itu, most all local user is actually female, jadi ini makes sense untuk female’s voice being heard, dan para pendiri juga melihat itu.
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape Foto: Hendry/SweetEscape
Sebagai VP of Product, bagaimana gaya kepemimpinan Cindy? Dan prinsip apa yang selalu Cindy pegang teguh dalam memimpin tim?
Saya berpikir bahwa gaya kepemimpinan saya itu lebih banyak berada behind the spotlight, sehingga saya selalu membiarkan tim yang membuat keputusan, membiarkan mereka banyak bersuara karena basically I trust them. Lalu, hal yang sangat saya against adalah micromanagement, karena menurut saya itu bisa membatasi kreativitas seseorang.
ADVERTISEMENT
Menurut Cindy, seberapa penting memiliki pemimpin perempuan dalam sebuah organisasi atau perusahaan?
Penting, karena populasi dunia saja bisa dibilang 50% laki-laki dan 50% perempuan. Jadi, saya pikir kita harus mewakili suara perempuan agar didengar, caranya seperti yang tadi saya bilang, you have to make sure get yourself on the table. Perusahaan itu pada dasarnya butuh keberagaman perspektif, sehingga butuh equal yang berbeda-beda pula dan saya pikir perempuan akan membawa warna dan diversity di dalam sebuah perusahaan, itulah kenapa kita itu important.
Bisa ceritakan salah satu pengalaman Cindy dalam menghadapi tantangan ketika mendaki jenjang karier?
Ada satu yang saya ingat betul, tapi tidak terjadi di SweetEscape melainkan terjadi di perusahaan sebelumnya. Jadi, ada satu meeting waktu itu, lalu isinya itu ada tim engineer dan tim product manager. Lalu, ketika meeting itu, one of the strong figure dari engineer itu bilang, bahwa dia ingin product manager yang mengerti teknologi.
ADVERTISEMENT
Lalu, saya bilang apakah orang yang dimaksud itu saya? Pertama kali saya mendengar tentu sedih ya, maksudnya saya bekerja sudah lumayan keras untuk berada di posisi tersebut, tetapi kenapa dia berbicara seperti itu. Lalu akhirnya, saya mengesampingkan ego dan mencoba untuk approach that guy and then I talk to him like what's wrong with this, saya berharap bisa fix that.
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape
Cindy Kalensang - VP of Product Management SweetEscape Foto: Hendry/SweetEscape
Melihat posisi Cindy sekarang dan berbagai hal yang sudah dicapai, hal apa yang membuat Cindy paling bangga? Lalu, apakah ada mimpi, aspirasi, atau harapan yang belum tercapai?
Hal yang bikin saya bangga mungkin yang tadi sudah disebut, I’m a female in this industry which is male dominated, and I’m able to reach of career level that I think mudah-mudahan bisa menginspirasi perempuan lain untuk mencoba career path ini. So, I think hal yang saya banggakan adalah saya bisa menunjukkan bahwa female can be on top juga gitu, female can lead the team walaupun di industri yang male dominated. Lalu harapannya, mudah-mudahan banyak perempuan yang berpartisipasi di industri ini, so I think ini bisa dimulai dari diri kita.
ADVERTISEMENT
Menurut Cindy, karakter-karakter seperti apa yang harus dimiliki oleh setiap perempuan jika ingin mendapatkan perjalanan karier yang cemerlang?
Saya pikir di samping semua kelemahan yang dimiliki oleh perempuan, kita juga pasti punya kekuatan yang berbeda dari yang lainnya. Tadi yang saya sebut bahwa perempuan itu memiliki ego yang seimbang dibanding laki-laki, kita juga memiliki rasa empati yang kuat. Kita juga sebagai perempuan harus banyak mendengar, mau belajar dan harus memiliki emotional intelligence, jadi harus membedakan mana urusan kantor dan mana yang menjadi urusan di luar kantor. Intinya harus profesional.
Terakhir, adakah pesan-pesan yang ingin disampaikan untuk perempuan lain yang bercita-cita menjadi pemimpin di sebuah perusahaan?
Don't limit yourself, selain itu jadilah perempuan yang nanti ketika Anda punya anak perempuan, Anda akan dianggap sebagai role model dan kalau anak laki-laki, akan melihatnya sebagai contoh perempuan yang layak untuk dinikahi. Jadi mungkin itulah yang ingin saya tunjukkan, jadi the best person of your life. Selain itu yang paling penting, carilah support system, maksudnya untuk mendukung karier atau meraih suara Anda.
ADVERTISEMENT