Kumparan Logo

Slut Shaming, Kekerasan Verbal yang Merendahkan & Mempermalukan Perempuan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock

Ladies, mungkin kamu tak asing mendengar ucapan seperti, “Dasar perempuan genit,” atau “Ih, gatel banget sih jadi perempuan,” dan masih banyak lontaran bernada negatif lainnya. Kamu juga mungkin pernah menemui sebutan kasar yang ditujukan untuk perempuan ketika menonton film, seperti pelacur hingga perempuan ‘murahan’.

Komentar-komentar semacam itu nyatanya termasuk ke dalam salah satu bentuk kekerasan verbal, yang bernama slut shaming. Meski terdengar hanya sebatas ucapan atau julukan, tapi slut shaming ini tentu akan merendahkan dan mempermalukan perempuan.

Menurut laman Feminism In India, slut shaming merupakan label atau stigma negatif yang diberikan kepada seseorang ketika ia dianggap berperilaku sensual. Kebanyakan, slut shaming menilai perempuan dari cara berpakaian, tampilan makeup-nya, hingga aktivitas seksualnya.

Ilustrasi body shaming. Foto: Shutter Stock

Tidak hanya datang dari laki-laki saja, tapi justru slut shaming juga bisa datang dari sesama perempuan, lho. Ini tentu hal yang menyedihkan karena betapa mudahnya melihat perempuan saling berselisih dan menjatuhkan satu sama lain dengan ucapan yang kasar serta menyudutkan.

Di era modern ini, slut shaming juga banyak terjadi di media sosial. Tak jarang kita melihat kolom komentar seseorang yang dipenuhi komentar negatif, hanya karena ia mengunggah foto dengan pakaian seksi atau terbuka. Bahkan, saat ini kita juga sering melihat kasus penyebaran foto atau video intim seseorang lewat online dengan bebasnya, tanpa izin dari sang pemiliknya.

Lalu, jika sudah tersebar, banyak orang yang dengan mudahnya langsung menyalahkan dan melabeli negatif sang korban, alih-alih membela karena privasi dirinya dan tubuhnya sudah disebar secara tidak bertanggung jawab. Mengerikan? Iya, itulah mengapa slut shaming sudah sepatutnya dihentikan

Apa Alasan Seseorang Melakukan Slut Shaming?

Lalu, mengapa seseorang tega melakukan slut shaming? Menurut Psychology Today, ada beberapa hal yang dapat melatarbelakangi terjadinya slut shaming, seperti rasa tidak senang atau tidak terima saat derajat serta status perempuan lain berada di atasnya.

Akhirnya, mereka melakukan slut shaming sebagai bentuk pertahanan agar perempuan lain bisa terkesan lebih rendah dari dirinya.

Bisa dibilang, ini juga bersumber dari perasaan iri hati dan tidak puas dengan kehidupan yang dijalaninya. Selain itu, alasan lainnya seseorang melakukan slut shaming karena memiliki dendam pribadi dan ingin meluapkannya dengan cara menjatuhkan perempuan tersebut.

Ilustrasi depresi. Foto: Dok. Freepik

Bahkan, kadang kita tak hanya jadi korban, tapi secara tak sadar juga bisa menjadi pelaku slut shaming kepada perempuan lain. Jadi, pastikan kamu lebih hati-hati saat berucap, ya.

Sebaiknya, pikirkan lebih dulu apakah kata-kata yang keluar dari mulutmu akan merendahkan, menyinggung, atau mempermalukan perempuan lain. Ingat juga, gaya pakaian seseorang atau tampilan makeup-nya bukan menjadi urusanmu. Yuk, mulai dulu dari dirimu untuk memutus rantai slut shaming yang ada di masyarakat, Ladies.