SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan

26 November 2021 19:50
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan (90927)
zoom-in-whitePerbesar
Instagram Live di IG kumparanWOMAN bertajuk Berani Bicara soal Kekerasan Terhadap Perempuan. Foto: kumparan
ADVERTISEMENT
Ladies, kekerasan perempuan masih menjadi isu yang marak diperbincangkan. Tanggal 25 November setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, penting bagi perempuan untuk mengenali segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan berani membicarakan tentang hal ini ke publik.
ADVERTISEMENT
Faktanya, kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia masih sangat besar. Menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2020, jumlah kekerasan terhadap perempuan sebesar 299.911 kasus, terdiri dari kasus yang ditangani oleh Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama (sejumlah 291.677 kasus), lembaga layanan mitra Komnas Perempuan (sejumlah 8.234 kasus), Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan (sebanyak 2.389 kasus).
Dalam rangka merayakan 16 Hari Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan, program Sister of Soul (SOS) Instagram Live di IG kumparanWOMAN mengangkat tema "Berani Bicara soal Kekerasan Terhadap Perempuan” pada Kamis, (25/11/2021). Dalam acara ini kumparanWOMAN menghadirkan Penulis & Gender Equality Campaigner, Kalis Mardiasih.

Mengenal kekerasan terhadap perempuan

SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan (90928)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stop kekerasan pada perempuan. Foto: Shutterstock
Menurut Kalis Mardiasih, pelecehan tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga laki-laki yang lebih lemah juga bisa menjadi korban kekerasan. “Setiap ucapan, ajakan atau setiap tindakan yang merendahkan, mengancam seseorang atau membuat seorang merasa tidak berdaya atau sudah menyerang tubuh dan seksual seseorang, sehingga seseorang itu ketakutan, terancam, tak berdaya dan tidak bisa melawan itu namanya kekerasan,” jelas Kalis.
ADVERTISEMENT
Kalis menjelaskan tentang empat jenis kekerasan yaitu, kekerasan verbal, kekerasan mental/psikis, kekerasan ekonomi dan kekerasan fisik. Kalis juga menjelaskan, “Dalam jenis kekerasan fisik ada kekerasan seksual, yang banyak diperbincangkan oleh banyak orang. Biasanya kekerasan dilakukan secara berulang, tujuannya merendah dan mengancam seseorang,” ujarnya.

Dampak kekerasan terhadap perempuan

SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan (90929)
zoom-in-whitePerbesar
Dampak kekerasan terhadap perempuan Depresi Foto: Pixabay
Kekerasan terhadap perempuan atau kekerasan berbasis gender dapat membawa dampak buruk bagi korban. Kalis Mardiasih mengatakan bahwa sekecil apapun bentuk kekerasan yang diterima korban pasti berdampak dan meninggalkan luka.
Kalis mengatakan bahwa dampak kekerasan pada korban dapat dirasakan secara fisik dan psikis. “Meskipun bukan luka fisik, ada luka batin yang tertinggal. Menimbulkan dampak bagi pribadi korban. Misalnya korban jadi tidak percaya diri, tidak cukup perform dan capable. Secara sosial pasti akan berdampak, korban kekerasan cenderung menarik diri dari pergaulan, karena dia merasa aku nggak belong to society dan merasa tidak berguna,” jelas Kalis.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sementara itu, kekerasan fisik akan meninggalkan luka fisik yang membutuhkan waktu yang lama untuk disembuhkan. “Biasanya korban kekerasan fisik dan seksual akan melihat luka fisik di badannya. Misalnya liat luka di tangan atau tubuhnya atau bekas di mana ia pernah luka, pasti akan teringat kembali dengan peristiwa yang pernah dialami,” kata Kalis.

Berani speak up soal kekerasan terhadap perempuan

SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan (90930)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stop kekerasan pada perempuan. Foto: Shutterstock
Menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual bukanlah hal yang mudah. Sayangnya, masih banyak perempuan yang kadang belum menyadari berbagai bentuk kekerasan ini. Hal yang lebih memprihatinkan, walaupun perempuan tahu mereka menjadi korban kekerasan, banyak dari mereka yang tidak berani untuk speak up.
Ada beberapa alasan dan penyebab korban kekerasan belum berani speak up. Kalis mengatakan bahwa banyak korban yang belum berani speak up karena masyarakat Indonesia menganut budaya patriarki, sehingga peristiwa kekerasan seksual masih dianggap sebagai aib.
ADVERTISEMENT
“Saat seseorang dilecehkan dan masyarakat menganggap kejadian itu aib yang tidak perlu diceritakan, korban cenderung takut bercerita. Karena ceritanya dianggap sesuatu yang abu-abu dan saru. Pengalaman korban tidak mendapat validasi oleh orang sekitarnya,” jelas Kalis. Selain itu, korban takut ceritanya tidak dipercaya karena pelakunya biasanya adalah orang-orang yang dianggap tidak mungkin melakukan pelecehan seksual.
Pada banyak kasus, korban sadar bahwa dia mengalami kekerasan dan tidak akan mendapat keadilan, sehingga mereka tidak akan menemukan jalan keluar dengan speak up. “Di lembaga pendidikan dan lingkungan kerja, bisa saja korban ada di posisi relasi yang sangat lemah. Misalnya mahasiswa dan dekan, atau karyawan dan petinggi perusahaan. Korban masih membutuhkan relasi itu. Dia akan kehilangan pendidikannya dan pekerjaannya sehingga tidak mudah bagi korban untuk mengakses keadilan bagi dirinya sendiri,”ungkap Kalis.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum korban speak up. Kalis menyarankan pemulihan diri bagi korban lebih diutamakan.
Sebenarnya tidak ada yang memaksakan korban untuk bercerita. Jadi fokusnya adalah pemulihan diri dahulu seandainya kalian korban. Misalnya, korban kekerasan fisik atau psikis, kalian harus berusaha memulihkan fisik dan mental dulu. Misalnya dengan pergi ke pelayanan kesehatan yang ramah perempuan untuk memulihkan fisik dan mental korban,” ungkap Kalis.
Kalis juga menyarankan korban untuk tidak sembarangan menceritakan kejadian yang dialami kepada orang lain. Korban dapat mengakses lembaga pengada layanan yang memberikan konseling atau terapi psiko-sosial. Jika permasalahan perlu diselesaikan secara hukum, korban harus menghubungi lembaga bantuan hukum yang ramah perempuan. “Speak up memang penting, tetapi tidak ada yang memaksamu melakukan speak up. Hal yang terpenting adalah kamu sebagai korban pulih. Pulihkan diri kamu dengan mengakses support system yang paling tepat untukmu,” tutup Kalis.
Penulis : Adonia Bernike Anaya