Studi: Parasetamol Berpotensi Mengurangi Rasa Sakit Emosional Akibat Patah Hati

Patah hati, kehilangan seseorang yang berarti, atau mengalami penolakan dari orang yang kita sayangi bisa meninggalkan perasaan yang tidak mudah dijelaskan.
Ada kalanya kesedihan terasa begitu kuat hingga memengaruhi konsentrasi, pola tidur, bahkan aktivitas sehari-hari. Tak heran jika patah hati kerap digambarkan sebagai pengalaman yang menyakitkan, seolah-olah tubuh ikut merasakan luka yang sama.
Menariknya, hubungan antara rasa sakit fisik dan emosional telah lama menjadi perhatian para peneliti. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2010 menemukan bahwa parasetamol, obat yang umum digunakan untuk meredakan nyeri fisik, juga berpotensi memengaruhi respons otak terhadap rasa sakit sosial.
Temuan ini kemudian menarik perhatian karena membuka pertanyaan mengenai bagaimana otak memproses penolakan dan apakah rasa sakit emosional dapat dipengaruhi oleh mekanisme yang serupa dengan rasa sakit fisik.
Namun, sebelum menyimpulkan bahwa obat pereda nyeri bisa menjadi solusi untuk patah hati, ada sejumlah hal yang perlu dipahami dari penelitian tersebut.
Hubungan antara Rasa Sakit Fisik dan Emosional
Studi ini bertajuk Acetaminophen Reduces Social Pain: Behavioral and Neural Evidence yang diterbitkan pada 2010 dilakukan oleh C. Nathan DeWall bersama sejumlah peneliti, termasuk Naomi Eisenberger dari University of California, Los Angeles (UCLA).
Penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa rasa sakit fisik dan rasa sakit sosial memiliki sebagian mekanisme saraf yang saling tumpang tindih. Rasa sakit sosial (social pain) merujuk pada tekanan emosional yang muncul ketika seseorang mengalami penolakan, pengucilan, atau terputusnya hubungan dengan orang lain.
Untuk menguji gagasan tersebut, peneliti melakukan dua eksperimen. Eksperimen pertama melibatkan 62 mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok yang mengonsumsi parasetamol dan kelompok plasebo selama tiga minggu. Para peserta diminta melaporkan tingkat perasaan terluka yang mereka alami setiap hari.
Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi parasetamol mengalami penurunan skor perasaan terluka dibandingkan kelompok plasebo. Perbedaan yang signifikan mulai terlihat sekitar hari kesembilan.
Dalam eksperimen kedua, 25 mahasiswa memainkan permainan komputer bernama Cyberball. Permainan ini dirancang untuk memunculkan perasaan dikucilkan ketika pemain lain berhenti mengoper bola kepada mereka. Selama permainan, aktivitas otak peserta dipantau menggunakan pemindaian fMRI.
Hasil pemindaian menunjukkan bahwa kelompok parasetamol mengalami penurunan aktivitas di sejumlah area otak yang terlibat dalam pemrosesan rasa sakit sosial. Meski demikian, kedua kelompok melaporkan tingkat tekanan sosial yang serupa setelah permainan. Artinya, hasil pemindaian otak tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa peserta merasa lebih baik secara subjektif dalam setiap situasi.
Temuan ini mendukung dugaan bahwa rasa sakit emosional dan fisik memiliki sebagian jalur pemrosesan saraf yang sama. Namun, bukan berarti keduanya identik atau dapat ditangani dengan cara yang sama.
Paracetamol dan Rasa Sakit akibat Penolakan
Temuan mengenai paracetamol dan rasa sakit emosional juga dibahas dalam artikel The Guardian pada 2020, yang mengulas penelitian lain mengenai hubungan antara pemaafan dan social pain.
Penelitian bertajuk Alleviating Social Pain: A Double-Blind, Randomized, Placebo-Controlled Trial of Forgiveness and Acetaminophen, yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Behavioral Medicine pada 2019, melibatkan 42 orang dewasa muda yang diamati selama sekitar 20 hari.
Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok yang mengonsumsi parasetamol, kelompok plasebo, dan kelompok tanpa pil. Peneliti kemudian mengukur tingkat rasa sakit sosial yang dilaporkan peserta melalui kuesioner.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta dengan kecenderungan memaafkan tinggi yang mengonsumsi parasetamol mengalami penurunan skor social pain sebesar 18,5% selama periode penelitian. Pola penurunan serupa tidak ditemukan pada kelompok plasebo dan kelompok tanpa pil.
Angka tersebut perlu dibaca sesuai konteksnya. Penurunan 18,5% merujuk pada skor rasa sakit sosial dalam kelompok peserta dengan kecenderungan memaafkan tinggi, bukan berarti parasetamol dapat mengurangi seluruh kesedihan atau rasa sakit akibat putus cinta sebesar angka yang sama.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Jumlah pesertanya relatif kecil dan peneliti tidak mengidentifikasi secara spesifik penyebab rasa sakit emosional yang dialami setiap peserta. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk semua orang yang mengalami penolakan atau patah hati.
Mengapa Memahami Emosi Tetap Penting?
Dalam artikel The Guardian tersebut, Silvia Dutchevici, seorang terapis dari New York, mengingatkan bahwa kesedihan setelah putus cinta merupakan respons manusiawi. Menurutnya, seseorang tidak harus buru-buru menghilangkan perasaan sedih setiap kali mengalami pengalaman yang menyakitkan.
Ia menilai bahwa menghadapi rasa sakit emosional dapat memberi seseorang kesempatan untuk memahami pengalaman yang dialami, mengenali pola hubungan, dan belajar membangun relasi yang lebih sehat. Meredam perasaan tanpa memahami penyebabnya berpotensi membuat kesempatan untuk melakukan refleksi diri terlewatkan.
Dutchevici menyarankan agar seseorang berbicara dengan orang tepercaya, seperti teman atau anggota keluarga, ketika menghadapi patah hati. Introspeksi juga dapat membantu seseorang memahami kebutuhan emosional dan hal-hal yang ingin diperbaiki dalam hubungan berikutnya.
Meski demikian, pandangan tersebut merupakan pendapat narasumber dalam artikel, bukan kesimpulan langsung dari eksperimen parasetamol. Penelitian yang ada belum membuktikan bahwa penggunaan obat menghalangi proses pemulihan emosional pada setiap orang.
Pada akhirnya, penelitian mengenai parasetamol dan rasa sakit sosial memberikan perspektif menarik tentang cara otak memproses pengalaman emosional. Namun, temuan ini belum cukup untuk merekomendasikan parasetamol sebagai cara mengatasi patah hati.
Parasetamol tetap merupakan obat yang memiliki risiko jika digunakan secara tidak tepat, termasuk kerusakan hati akibat overdosis. Karena itu, obat ini sebaiknya digunakan sesuai indikasi dan petunjuk medis, bukan sebagai cara untuk meredakan kesedihan.
Patah hati memang tidak selalu mudah dilalui. Memberi diri sendiri waktu untuk bersedih, mencari dukungan dari orang tepercaya, dan memahami pengalaman yang terjadi dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Sebab, meski rasa sakit emosional dapat terasa seperti luka fisik, memahami perasaan yang muncul tetap penting dalam perjalanan untuk kembali merasa baik-baik saja.
