Kumparan Logo

Studi: Perempuan yang Makan Buah dan Sayur Cenderung Punya Stres Lebih Rendah

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perempuan makan sayur. Foto: SofikoS/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Perempuan makan sayur. Foto: SofikoS/Shutterstock

Pola makan sehari-hari ternyata dapat berkaitan dengan kondisi mental perempuan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition Reviews pada 2022 menemukan bahwa pola makan yang kaya buah dan sayur berhubungan dengan kesehatan mental yang lebih baik pada perempuan.

Dalam penelitian berjudul Fruit and Vegetable Dietary Patterns and Mental Health in Women: A Systematic Review yang dilakukan Dr. Dominika Guzek bersama Dominika Głąbska, Barbara Groele, dan Krystyna Gutkowska dari Warsaw University of Life Sciences, Polandia menemukan bahwa perempuan yang cukup mengonsumsi buah dan sayuran memiliki tingkat stres hingga kecemasan yang lebih rendah.

Ilustrasi perempuan makan buah. Foto: Shutterstock

"Perempuan yang mengikuti pola makan tersebut cenderung memiliki risiko depresi, gejala kecemasan, gangguan mental, dan berbagai konsekuensi terkait kesehatan mental yang lebih rendah," tulis Dominika dalam penelitiannya.

Tak hanya itu, pola makan yang memasukkan lebih banyak buah dan sayur juga berkaitan dengan membaiknya indikator kesehatan mental lain termasuk suasana hati dan kesejahteraan psikologis.

Namun, tidak semua penelitian menunjukkan hubungan yang sama. Beberapa hasil berbeda ditemukan, terutama pada pola makan vegetarian atau vegan secara keseluruhan, yang menurut peneliti belum tentu selalu memiliki komposisi makanan yang seimbang.

Temuan ini juga tidak berarti satu jenis buah atau sayuran tertentu dapat secara langsung mengatasi masalah kesehatan mental. Penelitian tersebut melihat pola makan secara keseluruhan, dengan buah, sayur, produk berbahan buah atau sayur, dan dalam beberapa studi pola makan sehat seperti diet Mediterania sebagai bagian dari pola yang dianalisis.

Lalu, Berapa Banyak Buah dan Sayur yang Perlu Dimakan?

Ilustrasi sayuran hijau, jeruk, dan aneka buah beri. Foto: Shutterstock

Penelitian ini memang tidak menetapkan jumlah konsumsi ideal dalam gram atau porsi. Setiap penelitian yang dianalisis menggunakan ukuran konsumsi yang berbeda, mulai dari gram hingga frekuensi atau jumlah porsi per hari. Karena itu, angka tertentu tidak dapat disebut sebagai "dosis" yang ditetapkan oleh penelitian ini.

Namun, salah satu penelitian besar yang termasuk dalam literatur yang dibahas memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami. Penelitian terhadap lebih dari 60 ribu orang dewasa Australia menemukan bahwa perempuan yang mengonsumsi 5–7 porsi buah dan sayur per hari memiliki risiko psychological distress 23 persen lebih rendah dibandingkan perempuan yang mengonsumsi 0–1 porsi.

Dalam studi tersebut, 2 porsi buah per hari dikaitkan dengan risiko stres 16 persen lebih rendah, sementara 3–4 porsi sayur per hari dikaitkan dengan risiko 18 persen lebih rendah.

Angka 5–7 porsi ini dapat menjadi gambaran praktis, tetapi bukan rekomendasi khusus dari hasil penelitian ini. Studi Australia tersebut juga menemukan bahwa konsumsi lebih dari 7 porsi tidak memberikan hubungan tambahan yang signifikan terhadap penurunan risiko stres dalam analisis longitudinal yang telah disesuaikan.

Bukan Berarti Buah dan Sayur Bisa Mengobati Depresi

Ilustrasi perempuan depresi. Foto: DimaBerlin/Shutterstock

Ada alasan biologis yang membuat hubungan antara pola makan dan kesehatan mental menarik untuk diteliti. Buah dan sayur menyediakan berbagai vitamin, mineral, serat, serta senyawa bioaktif yang dapat berperan dalam fungsi tubuh dan otak.

Namun, systematic review ini tidak dirancang untuk membuktikan mekanisme tersebut maupun menentukan bahwa kandungan tertentu menjadi penyebab langsung membaiknya kondisi mental.

Hal yang juga penting adalah desain penelitian. Review Guzek hanya memasukkan penelitian observasional mengenai pola makan habitual, bukan uji intervensi yang sengaja meminta peserta meningkatkan konsumsi buah dan sayur.

Ilustrasi perempuan ke dokter. Foto: Shutterstock

Maka dari itu, hasilnya menunjukkan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat. Sebab masih mungkin terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi kesehatan mental dan pola makan seseorang.

Dalam kesimpulannya, Guzek dan tim hanya menekankan pentingnya memasukkan buah dan sayur dalam pola makan seimbang. "Buah dan sayuran sebaiknya menjadi bagian dari pola makan yang seimbang untuk membantu meningkatkan kesehatan mental perempuan," tulisnya.

Namun pola makan ini hanya salah satu bagian dari gaya hidup sehat yang mendukung kesehatan mental perempuan. Jika seseorang mengalami depresi, kecemasan, atau gangguan mental lainnya, perubahan pola makan tidak dapat menggantikan penanganan profesional.