Kumparan Logo

Studi: Risiko Depresi Perempuan Menurun saat Suami Bantu Pekerjaan Rumah Tangga

kumparanWOMANverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi suami istri melakukan pekerjaan rumah tangga bersama. Foto: BaLL LunLa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suami istri melakukan pekerjaan rumah tangga bersama. Foto: BaLL LunLa/Shutterstock

Nakhoda bahtera rumah tangga sejatinya terdiri dari dua orang, yaitu suami dan istri. Itulah mengapa, dalam mengarungi kehidupan pernikahan, harus tercipta relasi yang setara antara keduanya. Ini direfleksikan dalam studi yang disusun oleh peneliti di Yonsei University Korea Selatan.

Secara umum, studi ini mengungkap bahwa tingkat stres perempuan menurun ketika suaminya membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Namun, ketika suami abai, para istri lebih berisiko menderita depresi dalam pernikahan tersebut.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Social Science & Medicine pada Oktober 2024 itu melakukan survei terhadap 7 ribu perempuan Korsel yang sudah menikah. Penelitian itu dilakukan dari 2014 hingga 2022. Seong Uk Baek dkk mengambil kesimpulan, setiap penambahan satu jam suami melakukan pekerjaan rumah tangga, risiko istri mengalami depresi menurun hingga 12 persen.

Ilustrasi suami membantu pekerjaan rumah. Foto: Twinsterphoto/Shutterstock

Di Korea Selatan, patriarki dan ekspektasi perempuan untuk menjadi pengurus rumah tangga masih mengakar di masyarakat. Para suami selalu didorong untuk menjadi pencari nafkah utama dan cukup berfokus pada karier, sedangkan perempuan masih ditelan ekspektasi untuk melakukan seluruh pekerjaan domestik.

Bahkan, dilansir The Korea Herald, ekspektasi ini masih melekat terhadap perempuan karier dan rumah tangga dengan pemasukan ganda, di mana suami dan istri sama-sama bekerja.

Akibat patriarki dan ekspektasi gender itu, para perempuan Korea Selatan rentan mengalami depresi. Selain kelelahan menjalani peran ganda tanpa bantuan, tekanan sosial juga menjadi momok besar bagi mereka. Sejumlah studi juga mengungkap, pekerjaan rumah tangga berlebih, ditambah dengan pekerjaan formal, bisa menyebabkan stres kronis, kelelahan, dan masalah mental.

Yang terjadi ketika suami membantu istri

Ilustrasi suami membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Foto: Odua Images/Shutterstock

Studi bertajuk Association between husband's participation in household work and the onset of depressive symptoms in married women ini mengungkap, rata-rata perempuan menghabiskan waktu 2 jam 37 menit melakukan pekerjaan rumah dalam sehari. Sementara itu, laki-laki cuma menghabiskan waktu 21 menit.

Para peneliti kemudian menilai kondisi kesehatan mental para perempuan menggunakan alat skrining depresi. Hasilnya, ketika suami membantu istri dengan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik, risiko istri mengalami depresi pun menurun.

Risiko depresi perempuan pun semakin menurun di akhir pekan. Sebab, di akhir pekan, suami dan istri biasanya melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama.

Meski begitu, belum tentu perempuan merasa puas dengan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan suaminya. Jika suami tidak beres-beres dengan rapi, risiko istri mengalami depresi meningkat 15 persen. Namun, ketika istri puas dengan pekerjaan rumah tangga suaminya, risiko mengalami stres menurun.