Sukses Itu Punya Rumah dan Mobil Sendiri, Benarkah?

"Katanya sudah sukses, kok belum punya rumah sendiri?"
Pernahkah kamu mendengar kalimat tersebut? Seringnya, kalimat itu akan banyak didengar oleh generasi muda yang kariernya sedang menanjak atau mereka yang sudah lama bekerja, punya jabatan tinggi, tapi belum juga memiliki rumah.
Pertanyaan tersebut biasanya akan diucapkan oleh para orang tua yang mulai khawatir dengan kondisi keuangan anak mereka. Sebab sudah lama bekerja banting tulang tapi hasilnya tidak terlihat nyata dalam bentuk aset seperti rumah atau mobil.
Meski kadang hanya berupa sindiran, tetapi kalimat tersebut bisa menjadi tekanan tersendiri bagi sebagian orang. Padahal kesuksesan tidak bisa diukur dengan materi. Sebab setiap orang memiliki penghasilan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Bisa saja seseorang dengan penghasilan tinggi tidak mau membeli mobil untuk menghindari macet atau tidak membeli rumah karena harga yang sesuai lokasinya terlalu jauh dari kantor sehingga bisa menghabiskan waktu di perjalanan.
Menurut Financial Planner, Safir Senduk, kesuksesan seseorang memang sama sekali tidak bisa diukur dari aset yang dimiliki atau barang yang mereka bawa sehari-hari. Nah, hal ini seringnya tidak mudah dipahami oleh para orang tua atau orang Indonesia pada umumnya yang punya pandangan atau nilai-nilai berbeda dengan generasi muda.
"Orang tua dan anak sering memiliki nilai-nilai yang berbeda tentang keuangan. Orang tua cenderung mengukur kesuksesan seseorang dari penampilan luar, misalnya baju yang dipakai dan mobil yang dibawa. Padahal sebenarnya itu tidak menjamin. Kekayaan seseorang tidak dilihat dari situ, tapi dari investasi," ungkap Safir Senduk kepada kumparanWOMAN.
Sayangnya, investasi itu bukan sesuatu yang terlihat. Jadi sulit meyakinkan orang lain yang punya pandangan berbeda. Menurut Safir, kebiasaan orang Indonesia yang suka menilai seseorang dari penampilan sangat mempengaruhi cara berpikir mereka soal memandang kesuksesan.
"Banyak sekali orang Indonesia sering kali melihat orang lain kaya atau tidak dari apa yang dibawa. Padahal yang tidak diketahui, ada juga orang bisa punya mobil banyak tapi tidak punya investasi, yang artinya mereka tidak kaya," jelasnya.
Investasi sebagai penanda kesuksesan
Lalu investasi seperti apa yang bisa dikatakan sukses atau membuat kita aman secara finansial? Menurut Safir, investasi itu bisa berupa banyak hal. Mulai dari deposito, reksa dana, saham atau properti.
Namun sebagai catatan, investasi properti seperti rumah atau apartemen bisa dikatakan sukses jika kita tidak tinggal di properti tersebut karena rumah atau apartemen yang kita tinggali akan langsung berubah menjadi barang konsumtif.
"Rumah bisa disebut investasi kalau tidak ditinggali. Artinya, rumah tersebut diubah menjadi ladang bisnis seperti dikontrakkan atau dijadikan kos-kosan. Dan biasanya rumah yang dimanfaatkan seperti itu adalah rumah kedua. Hal ini berlaku juga dengan apartemen. Kalau dibeli lalu disewakan, itu bisa jadi investasi. Tapi kalau dibeli lalu dipakai sendiri, ya itu bukan investasi," pungkasnya.
Hal ini berlaku juga dengan pembelian tas mewah yang berkedok investasi. Safir mengatakan bahwa embel-embel investasi itu bisa jadi hanya alasan perempuan saja supaya tetap bisa membeli tas mewah idaman mereka. Meski nilainya memang bisa meningkat, tetapi kalau tas tersebut dipakai oleh pemiliknya, maka tas mewah itu statusnya berubah menjadi barang konsumtif, bukan investasi.
Jadi Safir menegaskan, seseorang bisa dikatakan sukses secara keuangan jika mereka memiliki banyak investasi, bukan dari kemampuan mereka untuk membeli rumah, mobil, atau aset lainnya.
