Tak Hanya Meghan Markle, Ibu Putri Eugenie Juga Pernah Curhat pada Oprah

Meghan Markle dan Pangeran Harry menggegerkan publik setelah melakukan wawancara eksklusif dengan Oprah Winfrey, pada Minggu (7/3) di stasiun TV CBS. Dalam wawancara tersebut, pasangan Sussex itu blak-blakan menceritakan tentang kehidupan yang dijalani mereka saat masih menjadi anggota senior kerajaan.
Bahkan, Duchess of Sussex juga mengaku mengalami masa sulit saat tinggal di lingkungan Kerajaan Inggris dan mengaku sempat tertekan hingga ingin bunuh diri ketika sedang mengandung Archie.
“Saya tidak ingin hidup lagi. Itu adalah pikiran yang sangat jelas, nyata dan menghantuiku terus-menerus,” kata Meghan kepada Oprah Winfrey.
Rupanya, bukan hanya Meghan Markle yang mengalami masa sulit saat hidup di istana. Sarah Ferguson yang merupakan mantan istri Pangeran Andrew juga merasakan hal yang sama. Hal itu terungkap ketika Sarah melakukan wawancara dengan Oprah Winfrey pada 1996 lalu.
Dalam acara bertajuk The Oprah Winfrey Show, ibu dari Putri Eugenie dan Putri Beatrice itu bercerita bagaimana kehidupannya saat hidup di lingkungan kerajaan. Kala itu, Sarah yang baru bercerai dengan Pangeran Andrew mengungkapkan bahwa kehidupan sebagai anggota kerajaan tidaklah seindah seperti cerita dongeng.
“Anda tidak menikah dengan dongeng, tapi menikah dengan seorang pria. Anda jatuh cinta dan menikah dengan seorang pria, lalu dihubung-hubungkan dengan kisah negeri dongeng. Nyatanya itu bukanlah cerita dongeng, tapi kehidupan nyata,” kata Sarah Ferguson kepada Oprah Winfrey, seperti dikutip dari People.
Menurut Sarah, salah satu hal yang membuatnya sulit terbiasa saat menjadi anggota Kerajaan Inggris adalah harus patuh dengan semua peraturan Istana Buckingham. Misalnya, patuh dengan aturan membuka jendela yang harus sesuai protokol kerajaan.
“Istana saat dilihat dari luar, jendela-jendelanya hanya boleh beberapa yang dibuka agar tampak teratur, dan saya masuk ke situ dan membuka semua jendela,” ungkap Sarah saat menceritakan mengenai salah satu aturan kerajaan di Istana Buckingham.
Sama seperti Meghan Markle, perempuan yang akrab disapa Fergie ini juga kerap menjadi sasaran ‘kekejaman’ tabloid Inggris. Sarah menuturkan bahwa pers Inggris kala itu sangat kejam, kasar, dan juga agresif.
“Sangat kejam dan menyakitkan ketika saya berusaha mencoba menemukan kecocokan ketika berada di panggung publik seperti itu,” tambahnya.
Sarah mengaku bahwa ia bisa saja tetap bertahan sebagai anggota kerajaan dan menerima tekanan demi tekanan di bawah sorotan publik. Namun menurutnya, itu bukanlah dirinya. Ia juga merasa tidak cocok dengan kehidupan istana.
“Anda bisa berada di sana, jika kehidupan itu cocok denganmu. Tapi Diana dan saya seperti sungai, kami ingin belajar lebih banyak, kami ingin pergi ke banyak tempat, dan kami haus akan pengetahuan,” tutup Sarah Ferguson merujuk pada Putri Diana, yang saat itu bercerai dengan Pangeran Charles.
