Takut Berkomitmen Serius dalam Hubungan? Kenali Gamophobia dan Cara Mengatasinya

25 November 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Takut Berkomitmen Serius dalam Hubungan? Kenali Gamophobia dan Cara Mengatasinya
Mengenal gamophobia, kondisi yang membuat seseorang takut berkomitmen pada hubungan serius dan beberapa tips untuk mengatasinya.
kumparanWOMAN
Takut Berkomitmen Serius dalam Hubungan? Kenali Gamophobia dan Cara Mengatasinya. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Takut Berkomitmen Serius dalam Hubungan? Kenali Gamophobia dan Cara Mengatasinya. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Ladies, pernah nggak sih kamu merasa hubunganmu berjalan baik, tetapi begitu mulai mengarah ke komitmen yang lebih serius, rasanya tiba-tiba ingin mundur? Ternyata ini salah satu ciri-ciri gamophobia atau ketakutan terhadap komitmen serius dalam hubungan dan pernikahan. Fobia ini bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika hubungan mulai masuk ke arah yang lebih serius.
ADVERTISEMENT
Kondisi ini bukan sekadar bikin orang enggan menikah, tapi bisa juga reaksi emosional yang muncul otomatis begitu ada bayangan masa depan bersama pasangan. Banyak orang yang bahkan tidak menyadari bahwa rasa gelisah atau dorongan untuk menjauh itu berasal dari ketakutan yang lebih dalam.
Yang membuat gamophobia sering sulit dikenali adalah karena gejalanya tidak selalu dramatis. Ada yang tiba-tiba merasa tidak yakin dengan hubungan, walaupun sebelumnya berjalan lancar. Ada pula yang langsung memutuskan hubungan tanpa alasan jelas, hanya karena merasa “terancam” oleh komitmen. Ketakutan ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil dari pengalaman atau keyakinan yang terbentuk dari masa lalu.

Dari Mana Ketakutan Ini Bermula?

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Shutterstock
Pengalaman masa kecil sering kali menjadi akar yang paling kuat. Misalnya, melihat orang tua sering bertengkar atau mengalami perceraian bisa membuat seseorang takut mengulang cerita yang sama. Ada pula yang pernah mengalami patah hati besar, sehingga takut untuk masuk ke hubungan yang lebih serius. Ketakutan-ketakutan ini kemudian membentuk mekanisme perlindungan diri yang bikin seseorang memilih untuk menjauh sebelum benar-benar terluka.
ADVERTISEMENT
Selain itu, tekanan budaya dan ekspektasi sosial juga berperan besar, Ladies. Di masyarakat saat ini, pernikahan sering dianggap sebagai “tujuan wajib”, sehingga banyak orang merasa terbebani oleh standar yang tidak selalu sesuai dengan kesiapan pribadi. Rasa takut salah memilih pasangan juga bisa membuat komitmen terasa seperti keputusan yang mengancam.
“Rasa takut berkomitmen muncul dari ketakutan lama untuk terluka kembali,” ujar terapis asal Amerika Serikat, Elizabeth Earnshaw.

Bagaimana Dampaknya dalam Kehidupan Sehari-Hari?

Ilustrasi Gamophobia. Foto: Shutterstock
Gamophobia tidak hanya memengaruhi hubungan, tetapi juga kondisi emosional seseorang. Ketika memikirkan komitmen, sebagian orang bisa mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar, napas pendek, atau rasa ingin menghindar. Reaksi-reaksi ini muncul tanpa disadari, seolah tubuh memberi sinyal bahwa komitmen adalah sesuatu yang harus dijauhi. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah kecemasan yang belum selesai dipahami.
ADVERTISEMENT
Dalam hubungan, gamophobia dapat menciptakan pola tarik-ulurnya sendiri. Seseorang bisa sangat dekat dan hangat di satu waktu, lalu tiba-tiba menjauh begitu hubungan terasa lebih serius. Jika dibiarkan, pola ini membuat hubungan menjadi tidak stabil dan melelahkan bagi kedua pihak. Pada akhirnya, kondisi ini juga bisa meningkatkan stres, kecemasan, dan bahkan memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Ilustrasi pasangan bertengkar. Foto: shisu_ka/Shutterstock
Menghadapi gamophobia butuh proses yang sabar dan konsisten. Terapi kognitif perilaku (CBT) bisa membantu seseorang mengurai pola pikir yang membuat komitmen terasa menakutkan. Pendekatan lain seperti exposure therapy juga dapat membantu seseorang menghadapi ketakutan secara bertahap, bukan menghindarinya. Dengan bantuan profesional, ketakutan ini bisa dipahami dan diatasi sedikit demi sedikit.
Selain itu, membangun komunikasi yang jujur dengan pasangan juga sangat penting, Ladies. Saat seseorang mampu menjelaskan apa yang ia rasakan, hubungan bisa bergerak dengan lebih sehat. Mengurai trauma masa lalu bersama profesional juga membantu seseorang memahami kenapa komitmen terasa mengancam.
ADVERTISEMENT