Kumparan Logo

Tentang Oksitosin, Hormon untuk Pengatur Rasa Cinta dan Kebahagiaan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan bahagia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan bahagia. Foto: Shutterstock

Ladies, cinta bukan hanya emosi semata, melainkan ada penjelasan ilmiah bagaimana rasa cinta itu datang. Saat seorang jatuh cinta, tubuh memproduksi berbagai jenis hormon, salah satunya hormon pengatur rasa cinta yang dikenal sebagai hormon oksitosin.

Oksitosin adalah hormon yang berperan dalam sistem reproduksi, proses persalinan, menyusui, interaksi sosial, serta perilaku seseorang. Jumlah oksitosin akan meningkat ketika kamu berinteraksi dengan pasangan misalnya saat berpelukan atau berhubungan intim.

Ini sebabnya oksitosin juga sering disebut sebagai “hormon cinta”. Hormon oksitosin tergolong hormon bahagia, selain hormon dopamin dan serotonin, yang diketahui memiliki dampak positif pada suasana hati dan emosi.

Bagaimana hormon oksitosin memengaruhi hubungan asmara?

Hormon oksitosin, dopamin, dan serotonin sering disebut sebagai "hormon bahagia". Ketika kamu tertarik pada orang lain, otak kamu melepaskan dopamin, kadar serotonin akan meningkat, dan memproduksi oksitosin. Ini menyebabkan kamu merasakan gelombang emosi positif.

Mengutip Healthline, oksitosin adalah hormon alami yang diproduksi oleh hipotalamus bagian kecil di dasar otak dan disekresikan oleh kelenjar pituitari di dekatnya. Oksitosin adalah hormon yang bertindak sebagai neurotransmitter. Hormon ini memainkan peran penting dalam reproduksi.

Dikutip dari Healthline, penelitian pada 2012, menemukan bahwa pasangan pada tahap awal keterikatan romantis memiliki tingkat oksitosin yang jauh lebih tinggi daripada pasangan mereka yang tidak terikat. Namun, hormon oksitosin tidak hanya diproduksi saat di awal jatuh cinta saja. Hormon ini juga diproduksi selama aktivitas seksual dan terkait dengan intensitas orgasme.

com-Ilustrasi wanita yang bahagia karena menjaga kesehatan mental. Foto: Shutterstock

Dalam sebuah penelitian tahun 2013, disebutkan ada beberapa hal dan aktivitas yang dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin. Beberapa hal itu di antaranya adalah mempercayai pasangan, memproses isyarat dari pasangan, mengenang kembali hubungan masa lalu, menatap dan menyentuh pasangan.

Namun, penting untuk dipahami bahwa hormon oksitosin tidak secara ajaib mengubah perilaku seseorang. Hormon oksitosin tidak membuatmu percaya atau jatuh cinta dengan seseorang dalam sekejap. Akan tetapi hormon oksitosin dapat meningkatkan perasaan cinta, kepuasan, keamanan, dan kepercayaan terhadap seseorang yang kamu sayangi.

Manfaat hormon oksitosin dan cara meningkatkan produksi hormon oksitosin?

Hormon oksitosin memiliki banyak manfaat bagi tubuh kita. Hormon oksitosin dapat membantu tubuh beradaptasi dengan sejumlah situasi emosional dan sosial yang berbeda. Misalnya, oksitosin intranasal telah secara langsung dapat mempengaruhi pola komunikasi antara pasangan romantis, terutama selama pertengkaran. Hormon ini membantu kita untuk memahami situasi.

Mengutip Healthline, penelitian pada 2010 juga menunjukkan bahwa oksitosin intranasal dapat membantu orang dengan autisme lebih memahami dan merespons isyarat sosial. Secara keseluruhan hormon ini juga telah terbukti mengurangi tingkat stres dan kecemasan ketika dilepaskan ke bagian otak tertentu. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi hormon oksitosin. Berikut rangkumannya dari kumparanWOMAN.

Berolahraga

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi hormon oksitosin adalah dengan cara berolahraga. Mengutip dari Healthline, salah satu penelitian pada 2013 menyarankan yoga sebagai cara penambah hormon oksitosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah yoga dapat membantu meningkatkan oksitosin pada orang dengan skizofrenia. Skizofrenia adalah suatu kondisi kesehatan mental yang sering melibatkan kesulitan mengenali emosi wajah dan kesulitan bersosialisasi lainnya.

Menurut hasil penelitian, 15 peserta yang berlatih yoga selama satu bulan mengalami peningkatan dalam kemampuan mereka untuk mengenali emosi dan fungsi sosialnya. Mereka juga memiliki tingkat hormon oksitosin yang lebih tinggi. Karena itu para peneliti menyarankan yoga sebagai olahraga yang bisa meningkatkan hormon oksitosin.

Mendengarkan musik

Ilustrasi bernyanyi sambil mendengarkan musik. Foto: TORWAISTUDIO/Shutterstock

Selera musik bisa sangat bervariasi bagi setiap orang, tetapi kebanyakan orang merasa senang ketika mendengarkan beberapa jenis musik kesukaannya. Musik memiliki banyak manfaat untuk tubuh kita, seperti meningkatkan mood, fokus, dan dapat memotivasi. Musik dapat meningkatkan kemampuan kita bersosialisasi dan berpengaruh kepada produksi hormon oksitosin dalam tubuh.

Mengutip penelitian dari Healthline pada 2015, peneliti meminta empat penyanyi jazz untuk membawakan dua lagu yang berbeda, satu lagu improvisasi, dan satunya lagu ciptaan sendiri. Ketika penyanyi berimprovisasi, tingkat produksi hormon oksitosin meningkat. Hasil penelitian mengatakan bahwa ada hubungan yang kuat antara kinerja improvisasi dengan meningkatkan hormon oksitosin. Karena saat penyanyi membawakan lagu improvisasi, mereka bekerja sama, membangun kepercayaan, dan komunikasi.

Menghabiskan waktu dengan pasangan dan teman-teman

Kita bisa meningkatkan produksi hormon oksitosin dengan menghabiskan waktu bersama pasangan dan teman-teman. Karena di saat kita menghabiskan waktu dengan pasangan dan teman-teman, kita merasa sejahtera secara emosional. Kamu merasa dihormati dan dihargai oleh pasangan. Saat bersama dengan teman-teman, kamu merasa didukung secara sosial dan tidak sendirian di dunia ini.

Perasaan baik yang kamu rasakan saat bersama pasangan dan teman, dapat menciptakan pola pikir yang positif. Kamu pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasangan dan teman. Kepercayaan dan kasih sayang yang kamu miliki untuk mereka juga cenderung meningkat produksi hormon oksitosin.

Penulis: Adonia Bernike Anaya