Tentang Toxic Masculinity dan Dampaknya pada Budaya Kerja
·waktu baca 3 menit

Apakah kamu pernah mendengar istilah toxic masculinity? Ya, toxic masculinity merupakan anggapan yang salah kaprah mengenai perilaku laki-laki yang terbentuk oleh masyarakat atau tatanan sosial. Salah satu contoh toxic masculinity, yakni anggapan laki-laki tidak boleh menangis.
Toxic masculinity sebenarnya bisa memengaruhi banyak sisi kehidupan, Ladies, termasuk pekerjaan. Maya Juwita, Direktur Eksekutif, Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), menyatakan bahwa anggapan tradisional maskulinitas bisa mendorong perilaku negatif di tempat kerja.
IBCWE juga telah meluncurkan hasil survei mengenai toxic masculinity yang dilakukan pada Februari 2022. Survei ini bertujuan memotret peran maskulinitas yang salah kaprah dalam dinamika kesetaraan gender di tempat kerja.
Survey ini memetakan sepuluh toxic masculinity di dunia kerja Indonesia. Hasilnya, kebanyakan responden setuju dengan maskulinitas yang salah kaprah ini. Artinya, masyarakat pada umumnya masih memiliki standar yang sulit dicapai oleh laki-laki.
“Standar yang tidak dapat dicapai inilah yang bisa mendorong perilaku atau budaya kerja yang negatif. Seperti budaya kerja saling sikut, mendahulukan pekerjaan, atau tidak pernah mengakui kesalahannya,” kata Maya.
Dampak dan tantangan toxic masculinity
Dalam siaran pers yang diterima kumparanWOMAN, Maya menyatakan bahwa dampak toxic masculinity adalah adopsi perilaku negatif pada laki-laki yang berbahaya bagi perempuan, masyarakat maupun laki-laki itu sendiri.
Bentuk adopsi perilaku negatif ini bisa berupa tampilan dominasi yang tidak diinginkan, pengambilan risiko yang tidak bertanggung jawab, dan kebencian terhadap perempuan. Lebih lagi, perilaku bias yang negatif ini bisa tertanam dalam bawah sadarnya.
Chief Human Resources Officer FWD Insurance Indonesia, Rudy Manik, dalam talkshow Male Fellows Network: Involving Men to Break the Bias, Jumat (11/03) menambahkan, tantangannya adalah terkadang laki-laki terperangkap dalam situasi di mana mereka harus memenuhi tuntutan yang harus dicapai, sehingga menimbulkan perilaku toxic masculinity. Oleh karena itu, untuk mengubah budaya organisasi agar lebih setara harus datang dari pimpinan perusahaan.
“Kita tentukan dahulu perilaku apa yang harus ditampilkan, baik pada saat berinteraksi, berkompetisi, dan penyampaian target kinerja, dan itu semua dimulai dari atas,” tambah Rudy.
Sementara itu, Plt Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Indra Gunawan mengatakan, masih banyak tantangan yang dihadapi terutama untuk menghilangkan batasan-batasan norma sosial budaya yang bisa menghambat perempuan.
“Kita juga perlu banyak belajar dan berproses untuk memahami isu-isu gender serta kebutuhan perempuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang setara,” ungkapnya.
Wujudkan inklusivitas di tempat kerja, lelaki juga punya andil
Supaya keberagaman dan inklusi di tempat kerja tercapai, keterlibatan dan dukungan dari semua gender sangat penting, termasuk laki-laki.
Penelitian global dari Boston Consulting Group menunjukkan, ketika laki-laki terlibat langsung dalam keberagaman gender, baik laki-laki maupun perempuan percaya bahwa perusahaan mereka membuat kemajuan yang jauh lebih besar dalam mencapai kesetaraan gender.
Data menunjukkan bahwa perusahaan, di mana laki-laki secara aktif terlibat dalam program inklusi gender, 96 persen melaporkan kemajuan—dibandingkan dengan 30 persen perusahaan di mana laki-laki tidak terlibat.
Namun, perusahaan cenderung hanya fokus pada perubahan perempuan daripada memecahkan struktural sistemik yang menyebabkan hak istimewa laki-laki dan menegakkan perilaku laki-laki.
Maka dari itu, lelaki juga punya andil untuk menunjukkan keterlibatannya dalam kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di tempat kerja.
