Kumparan Logo

Tips Pilih Bahan Baju saat Beraktivitas untuk Meminimalisir Paparan Abu Vulkanik

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tips Pilih Bahan Baju saat Beraktivitas untuk Meminimalisir Paparan Abu Vulkanik. Foto: Chay_Tee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Tips Pilih Bahan Baju saat Beraktivitas untuk Meminimalisir Paparan Abu Vulkanik. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Ketika abu vulkanik bertebaran, perhatian terhadap perlindungan diri tak hanya berhenti pada penggunaan masker. Pakaian yang kita kenakan juga perlu diperhatikan, sebab partikel abu bisa menempel pada permukaan kain.

Menurut Rudyansah, S.ST., M.Tr.T dari Yayasan Konsumen Tekstil Indonesia (YKTI), dalam industri tekstil ada tiga fabric type, yakni woven atau kain yang ditenun, knitting atau kain yang rajut, dan non-woven.

Nah, di tengah kondisi paparan abu vulkanik seperti sekarang ini, ia menyarankan penggunaan kain jenis woven. Menurutnya, woven memiliki konstruksi kain dengan kerapatan yang lebih tinggi. Sehingga debu atau abu tak mudah masuk ke dalam serat kain.

Ilustrasi baju. Foto: Shutter Stock

“Jenis pakaian yang cocok itu tipe woven. Karena proses penenunannya memungkinkan pakaian jenis ini punya kerapatan lebih tinggi,” ungkap Rudyansah ketika dihubungi kumparanWOMAN melalui telepon.

Sementara itu, jenis knitting dinilai kurang sesuai karena dibentuk dari jeratan yang memungkinkan adanya pori-pori lebih besar pada kain.

Dalam penggunaannya sehari-hari, kain woven dapat ditemukan pada sejumlah jenis pakaian seperti denim, kemeja, formal dress, hingga celana bahan. Sebaliknya, kaus dan pakaian dalam umumnya termasuk jenis knitting.

Ilustrasi baju satin. Foto: triocean/Shutterstock

Rudyansah juga menyebutkan bahwa pakaian dengan tekstur licin seperti satin bisa menjadi salah satu pilihan. Sebab pakaian dengan structure design satin yang licin dapat membuat debu atau abu vulkanik lebih mudah tergelincir sehingga tidak terlalu banyak menempel pada pakaian.

“Jenis-jenis kain yang licin itu memang tidak terlalu nyaman saat dikenakan, tapi kalau tujuannya untuk meminimalisir menempelnya debu ataupun abu vulkanik itu malah sangat cocok,” ungkapnya.

Rudyansah juga menyarankan menghindari pakaian yang memiliki permukaan berbulu. Flanel, misalnya, memiliki efek bulu sehingga berpotensi mengendapkan lebih banyak debu.

Cara membersihkan pakaian setelah dari luar rumah

Hindari langsung membawa baju masuk ke dalam rumah setelah terpapar abu. Foto: Shutterstock

Selain tepat dalam memilih pakaian, membersihkannya pun juga harus dengan cara yang benar, Ladies.

Rudyansah menyarankan agar pakaian tidak langsung dibawa masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk, pakaian dapat dilepaskan secara perlahan dan dikibaskan dengan ringan di luar rumah.

Setelah itu, pakaian sebaiknya dibilas menggunakan air yang mengalir sebelum dicuci dengan deterjen seperti biasa.

Ilustrasi menjemur di dalam ruangan. Foto: New Africa/Shutterstock

“Penggunaan air mengalir cukup penting. Sebab jika pakaian direndam dalam ember atau wadah, partikel yang tadinya sudah terlepas dari pakaian bisa mengendap dan menempel kembali pada pakaian,” jelasnya.

Tips lainnya adalah hindari menjemur di luar rumah. Jika lokasi rumah kamu banyak terpapar abu vulkanik, manfaatkan pengering mesin cuci, lalu jemur di dalam rumah. Ini diperlukan agar pakaian tak terpapar abu setelah dibersihkan.