Kumparan Logo

Tren Wellness Terbaru: Baca Label Pakaian untuk Hindari Risiko Kesehatan

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi membaca label pakaian. Foto: Kostikova Natalia/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membaca label pakaian. Foto: Kostikova Natalia/Shutterstock

Biasanya, kita membaca label komposisi pada kemasan makanan atau minuman. Tujuannya cukup jelas, yakni untuk mengecek kadar gula, natrium, hingga bahan lain yang terkandung di dalamnya.

Nah, mengecek label ternyata tak hanya berlaku untuk produk makanan atau minuman, tetapi juga pakaian. Label pada pakaian berisi informasi mengenai bahan kain yang digunakan, serta cara merawatnya.

Pengecekan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli, terutama bagi kamu yang ingin menghindari serat sintetis.

Menurut survei Lifestyle Monitor dari Cotton Incorporated pada 2025, 71 persen konsumen mengaku mengecek label pakaian sebelum membelinya untuk menghindari serat sintetis.

Ada apa dengan serat sintetis?

Ilustrasi Kain. Foto: Shutterstock

Serat sintetis banyak ditemukan pada bahan seperti poliester, nilon, spandeks, hingga akrilik. Dalam proses pembuatannya, bahan-bahan tersebut melibatkan berbagai zat kimia.

Dr. Li Li, asisten profesor di University of Nevada, Reno, yang berspesialisasi dalam bidang kimia lingkungan, mengatakan bahwa sejumlah bahan kimia dari kain dapat terlepas ketika bersentuhan dan bergesekan dengan kulit.

“Beberapa bahan kimia dapat perlahan-lahan larut dari kain dengan cara bergesekan dan melalui keringat” ujar Dr. Li Li, dikutip dari NBC News.

Salah satu risiko yang dapat muncul akibat paparan bahan kimia tersebut adalah iritasi kulit. Namun, menurut Li Li, paparan terhadap bahan kimia tertentu juga berpotensi memengaruhi organ tubuh seperti hati, ginjal, dan sistem saraf. Meski demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan serat sintetis tidak serta-merta berbahaya.

“Itu bergantung pada dua hal, seberapa banyak bahan kimia tersebut terkandung dalam bahan tersebut sejak awal dan seberapa mudah bahan tersebut dapat diserap oleh kulit. Jika keduanya rendah, risiko keseluruhannya rendah,” tambahnya.

Serat alami jadi pertimbangan saat membeli pakaian

Ilustrasi perempuan membeli pakaian. Foto: BearFotos/Shutterstock

Berdasarkan studi dari Cotton Council International (CCI) dan Cotton Incorporated, 43 persen konsumen mempertimbangkan penggunaan serat alami seperti katun ketika menilai keberlanjutan sebuah pakaian. Sementara itu, menurut US Sustainability Research, 72 persen responden lebih memilih pakaian yang terbuat dari serat alami, seperti katun dan sutra.

Dikutip dari Suston Magazine, serat alami memiliki kemampuan menyerap keringat dan kelembapan yang lebih baik dibandingkan sejumlah serat sintetis.

Karakteristik tersebut membuat pakaian berbahan serat alami dinilai lebih nyaman bagi kulit dan berpotensi mengurangi kondisi yang dapat memicu iritasi. Meski demikian, Dr. Li Li menjelaskan bahwa pakaian berbahan serat alami tetap berpotensi mengandung bahan kimia.

“Penting untuk dicatat bahwa bahan kimia tidak hanya pada kain sintetis, tetapi juga pada kain alami, seperti katun,” ujar Dr. Li Li

Namun, menurutnya pemilihan serat alami dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia tertentu yang lebih banyak digunakan dalam produksi beberapa jenis serat sintetis.

Membaca label pakaian menjadi bagian dari tren wellness

Ilustrasi membaca label pakaian. Foto: DimaBerlin/Shutterstock

Melihat berbagai risiko yang mungkin muncul dari penggunaan pakaian berbahan serat sintetis membuat sebagian orang mulai lebih teliti membaca label pakaian sebelum membelinya.

Kebiasaan ini juga sejalan dengan tren wellness, ketika seseorang semakin sadar dan serius memperhatikan berbagai aspek yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Selain mempertimbangkan aspek kesehatan, pilihan terhadap serat alami juga kerap dikaitkan dengan isu keberlanjutan.

Berdasarkan laporan First Insight, 73 persen Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk yang berkelanjutan. Sementara itu, 62 persen konsumen Gen Z juga memprioritaskan merek yang menerapkan prinsip keberlanjutan saat berbelanja.

Jadi, apakah kamu salah satu orang yang membaca label pakaian sebelum membeli?