Konten dari Pengguna

Ilusi Membaca Pikiran: Bagaimana Algoritma Media Sosial Membentuk Persepsi Kita

Kunti Taqiyya

Kunti Taqiyya

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kunti Taqiyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pixabay.com

Algoritma media sosial kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Memasuki era teknologi yang berkembang begitu cepat membuat aktivitas manusia terasa tak lengkap tanpa kehadiran gawai atau perangkat elektronik lainnya. Beragam informasi yang tersebar di dalamnya menjadi salah satu faktor yang menuntut manusia untuk memiliki akun di berbagai platform seperti instagram, tiktok, twitter / x, dan masih banyak lagi. Hadirnya tuntutan ini bukan tanpa alasan, tak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, beberapa pekerjaan pun juga mengharuskan karyawannya untuk aktif di media sosial.

Jika kita melihat lebih dalam, algoritma media sosial cenderung menampilkan informasi yang mirip atau bahkan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Tak jarang ketika kita sedang memikirkan suatu hal, maka informasi yang terkait bisa muncul seketika saat jemari kita menekan platform media sosial. Hal ini seolah mengisyaratkan bahwa algoritma di dalamnya bisa “membaca pikiran” kita dan menghadirkan informasi sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Apakah algoritma benar-benar "mendengar" atau "membaca pikiran" kita?

Algoritma media sosial merupakan seperangkat sistem pemrograman berbasis logika matematika yang berfungsi untuk menyaring, mengurutkan, dan merekomendasikan konten kepada pengguna berdasarkan preferensi dan perilaku mereka (Rahman et al., 2025). Algoritma berperan penting dalam menyajikan informasi kepada penggunanya. Proses munculnya algoritma tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui tahapan yang sistematis. Algoritma ini secara otomatis mempelajari aktivitas pengguna seperti klik, suka, komentar, hingga waktu tonton untuk menentukan jenis konten yang paling sesuai dan berpotensi menghasilkan interaksi lebih lanjut (Rahman et al., 2025).

Kecanggihan algoritma ini menciptakan apa yang disebut sebagai personalisasi prediktif. Secara logis, algoritma tidak menunggu kita mencari sesuatu, melainkan menarik kesimpulan dari ribuan titik data (datapoints) masa lalu untuk memprediksi ketertarikan kita di masa depan. Inilah yang menciptakan efek psikologis 'membaca pikiran', padahal yang terjadi adalah pengolahan data statistik.

Bagaimana data ini diolah menjadi “pikiran”?

Dalam perspektif logika penyelidikan, algoritma bekerja menggunakan penalaran induktif. Ia mengumpulkan premis-premis khusus dari perilaku pengguna, misalnya:

Premis 1: User melihat video masak selama 1 menit

Premis 2: User mencari resep masakan di mesin pencari

Dari premis-premis ini, algoritma menarik kesimpulan umum bahwa 'user sedang belajar memasak’ atau ‘user hobi memasak'. Oleh karena itu, munculnya iklan alat masak ataupun tutorial memasak dari influencer bukanlah sebuah kebetulan mistis, melainkan jawaban dari data yang telah dikumpulkan.

Permainan Logika: Filter Bubble, Echo Chamber, dan Confirmation Bias

Menurut Bruns (2019), konsep filter bubble yang dicetuskan oleh Eli Pariser pada dasarnya menjelaskan bagaimana teknologi penyaringan algoritmik membatasi keberagaman informasi yang terpapar kepada penggunanya. Hal inilah yang secara logis menjelaskan mengapa informasi di media sosial kita terasa sangat spesifik dan sesuai dengan minat pribadi, karena konten yang tidak relevan telah "disaring" keluar dari arus informasi kita.

Sementara itu, echo chamber merujuk pada situasi di mana individu hanya terlibat dengan komunitas atau kelompok yang memiliki pandangan serupa. Kombinasi dari kedua fenomena ini dapat memperkuat bias kognitif, mendorong polarisasi, dan mengurangi kapasitas individu untuk memahami sudut pandang yang berbeda (Arifah et al., 2025).

Algoritma ini sangat erat kaitannya dengan penerimaan informasi di kalangan pengguna media sosial. Pola konsumsi informasi merujuk pada cara, kebiasaan, serta preferensi individu dalam mencari, memilih, menerima, dan menginterpretasikan informasi dari berbagai sumber (Rahman et al., 2025). Hal ini dapat dipengaruhi juga oleh confirmation bias, dimana manusia cenderung mencari dan mengingat informasi yang mendukung hipotesis atau minat mereka (Pohl, 2004). Dalam hal ini, ketika kita memikirkan suatu barang dan kemudian iklan barang tersebut muncul, otak kita akan memberikan perhatian besar dan mengingatnya sebagai 'bukti' bahwa perangkat kita telah disadap. Sebaliknya, ketika algoritma menampilkan ribuan iklan lain yang tidak sesuai dengan pikiran, maka kita cenderung mengabaikan dan melupakannya begitu saja.

Interaksi antara filter bubble, echo chamber, dan confirmation bias pada akhirnya dapat membentuk keyakinan dan cara berpikir seseorang. Kondisi ini dapat menciptakan suatu siklus yang berulang, mengakibatkan kita sebagai pengguna media sosial semakin terperangkap dalam ruang informasi yang sempit dan homogen. Munculnya anggapan bahwa pandangan atau opini kita merupakan sesuatu yang umum terjadi dan paling benar terus diperkuat oleh paparan informasi yang sejenis. Padahal, dalam perspektif logika ilmiah, kebenaran tidak ditentukan oleh frekuensi kemunculan suatu informasi, melainkan melalui proses yang panjang dan sistematis, seperti adanya uji validitas, bukti, dan proses verifikasi.

Kesimpulan: Algoritma dan Ilusi “Membaca Pikiran”

Fenomena algoritma media sosial yang seolah-olah mampu "membaca pikiran" manusia bukanlah sebuah fenomena supranatural maupun hasil dari penyadapan ilegal yang sederhana. Ilusi ini terbentuk dari interaksi antara sistem teknologi dan kecenderungan kognitif manusia. Algoritma tidak memiliki sifat seperti manusia yaitu punya kesadaran ataupun kemampuan untuk memahami pikiran, melainkan hanya bekerja dengan mengolah data perilaku pengguna / user untuk menghasilkan prediksi yang dianggap paling relevan. Namun, karena hasil prediksi tersebut sering kali terasa “cocok” atau “pas” dengan preferensi kita, muncullah persepsi seolah-olah algoritma memahami diri kita sepenuhnya.

Meskipun algoritma mampu memprediksi kecenderungan perilaku manusia, kontrol terhadap penerimaan informasi dan pengambilan keputusan tetap sepenuhnya berada di tangan kita. Oleh karena itu, penting bagi pengguna media sosial untuk menyadari keterbatasan algoritma serta mengembangkan sikap kritis dalam mengonsumsi informasi. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, manusia harus tetap memegang peran utama sebagai subjek yang menentukan makna dan kebenaran, bukan sekadar menjadi objek dari algoritma teknologi.