Konten dari Pengguna

Mindfulness: Berdamai dengan Standar Hubungan yang Tidak Realistis

Kuny Aufa Niswati

Kuny Aufa Niswati

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kuny Aufa Niswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketidakpuasan terhadap Pasangan dalam Hubungan. Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ketidakpuasan terhadap Pasangan dalam Hubungan. Sumber: Canva

Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial menjadi bagian dari rutinitas dan banyak menuntun kita di kehidupan sehari-hari terutama dalam hal informasi, misalnya menentukan apa yang akan kita makan hari ini, cafe yang sedang ramai dikunjungi, tempat destinasi liburan, hingga hal-hal besar seperti standar terhadap pasangan dan standar pencapaian lainnya. Media sosial menjadi patokan kita dalam segala hal, termasuk menjadi patokan dalam keinginan yang kita punya. Ketika kita melihat unggahan seorang influencer di beranda TikTok yang menceritakan bagaimana ia senang ketika pasangannya memberikan bunga dan hadiah, kita ikut menginginkan pasangan kita melakukan hal yang sama.

Lantas, apakah kita benar-benar menginginkan hal tersebut ataukah kita menginginkannya karena orang lain juga menginginkan hal tersebut?

Fenomena ini dijelaskan melalui teori mimetic desire oleh Rene Girard. Mimetic desire menjelaskan bahwa keinginan (desire object) yang kita miliki merupakan hasil tiruan dari keinginan orang lain (mediator). Singkatnya, kita menginginkan suatu hal karena orang lain juga menginginkannya.

Mimetic desire yang bersumber dari unggahan media sosial orang lain seringkali menjadikan kita membuat standar yang tidak realistis dalam hubungan. Penetapan standar pasangan yang dilebih-lebihkan berujung pada kurangnya penerimaan terhadap pasangan, utamanya karena perasaan bahwa pasangan kita tidak sesuai dengan standar yang kita (atau media sosial) buat. Ketika menyadari bahwa pasangan kita tidak sempurna, timbul afek negatif seperti kecewa dan iri terhadap hubungan orang lain, hal ini dapat menimbulkan ketidakpuasan terhadap hubungan yang sedang dijalin dengan pasangan dan bahkan keinginan untuk mengakhiri hubungan dan mencari pasangan baru (Kappen et al., 2018).

Mindfulness dalam penerimaan pasangan

Penerapan mindfulness dapat membantu untuk meningkatkan penerimaan kita terhadap pasangan, yaitu kemampuan dan kesediaan untuk menerima imperfections atau ketidaksempurnaan pasangan, dimana penerimaan terhadap pasangan berperan dalam kepuasan hubungan.

Mindfulness sendiri didefinisikan sebagai sadar penuh hadir utuh (Silarus, 2015).

Melalui mindfulness, kita memberikan atensi penuh pada momen yang terjadi pada saat ini disertai dengan penerimaan (acceptance) terhadap pengalaman yang terjadi (Yusainy et al., 2019). Mindfulness mengajak untuk tidak merespon secara reaktif terhadap pengalaman yang terjadi. Lewat mindfulness, kita dapat melatih cara dalam menghadapi dan menerima ketidaksempurnaan pasangan dari standar tidak realistis yang dibuat untuk menjaga hubungan.

Bagaimana cara menerima ketidaksempurnaan pasangan lewat mindfulness?

Alidina (2010) menyebutkan langkah-langkah untuk menjadi lebih aware dalam menghadapi tantangan atau dalam hal ini adalah ketidaksempurnaan pasangan:

  1. Tuliskan pikiran-pikiran yang membuat kita merasakan hal tersebut. Misalnya, ketika kita menyadari bahwa pasangan kita tidak sempurna, kita dapat mengamati perasaan yang kita rasakan secara non-reaktif dan tidak menghakimi. Setelah mengidentifikasi perasaan yang dirasakan, kita dapat menuliskan hal-hal yang menyebabkan perasaan tersebut timbul untuk memberikan jeda sejenak sehingga kita tidak memberikan respon yang impulsif dan reaktif. Pada proses menulis, kita perlu mengingat bahwa pikiran dan perasaan yang kita rasakan bukanlah fakta yang sebenarnya, tetapi karena kita percaya bahwa pikiran tersebut benar. Lewat menulis, kita dapat melihat pikiran dan perasaan kita hanya sebagai sesuatu yang sementara, seperti suara dan gambar yang muncul lalu hilang dari kesadaran.

  2. Melihat gambaran besar masalah lewat perspektif lain. Hal ini dapat dilakukan dengan mendorong diri untuk melihat situasi dari perspektif yang berbeda. Pertimbangkan bagaimana situasi tersebut mungkin terlihat dari perspektif orang lain atau bayangkan diri anda berada di posisi orang lain. Selain itu, anda dapat mendiskusikan penyebab masalah dengan pasangan anda untuk dapat memahami perspektifnya.

  3. Mempertimbangkan konsekuensi dan resiko yang mungkin terjadi. Dengan mempertimbangkan konsekuensi dan resiko dari pilihan yang dibuat ketika menetapkan standar pasangan yang tidak realistis, kita dapat lebih bijak dalam menetapkan standar, khususnya membedakan mana “kebutuhan” dan “keinginan” dalam suatu hubungan. Hal ini dilakukan karena terkadang persepsi yang kita miliki terhadap suatu keadaan dapat membuatnya terlihat lebih buruk daripada kenyataannya.

  4. Let go of perfectionism. Pahami bahwa menjadi “sempurna” dan memiliki pasangan yang “sempurna” berdasarkan standar yang tidak realistis adalah hal yang tidak mungkin dicapai. Oleh karena itu, anda perlu melakukan penyesuaian standar dan mengubahnya menjadi lebih realistis atau lebih sesuai dengan kenyataan. Kita juga perlu untuk lebih selektif dalam memilih patokan atau standar dalam hubungan dan pasangan dengan cara menyisihkan hal-hal yang negatif atau buruk dibandingkan terus mencari-cari hal positif untuk dijadikan standar ideal.

  5. Mengapresiasi hal-hal yang telah berjalan. Cobalah untuk merenungkan dan menghargai hal-hal yang telah berjalan dalam hubungan anda saat ini. Anda dapat memikirkan hal-hal yang sedang berjalan baik dalam hubungan anda saat ini, tidak perlu hal-hal yang besar—apapun yang dapat membuat Anda merasa sedikit bersyukur sudah cukup.

Daftar Pustaka

Alidina, S. (2020). Mindfulness for dummies. John Wiley & Sons.

GoMindful ID. (2023, October 29). [Eps. 1] Kita Selalu Meniru dari Orang Lain | GoMindful Talk. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=h7uj1EtDGW8

Kappen, G., Karremans, J. C., Burk, W. J., & Buyukcan-Tetik, A. (2018). On the Association Between Mindfulness and Romantic Relationship Satisfaction: the Role of Partner Acceptance. Mindfulness, 9(5), 1543–1556. https://doi.org/10.1007/s12671-018-0902-7

Saputra, D. A., Pransiska, F., Agustiana, J., Remikariasa, Rika, & Veronika, S. (2023). Philosophy and Theology Based on the Philosopher Réne Girard: A Reflection. Asian Journal of Philosophy and Religion, 2(1), 163–172. https://doi.org/10.55927/ajpr.v2i1.1687

Silarus, A. (2015). Sadar penuh, hadir utuh. Jakarta: TransMedia Pustaka.

Yusainy, C., Nurwanti, R., Dharmawan, I. R. J., Andari, R., Mahmudah, M. U., Tiyas, R. R., Husnaini, B. H. M., & Anggono, C. O. (2019). Mindfulness sebagai strategi regulasi emosi. Jurnal Psikologi, 17(2), 174. https://doi.org/10.14710/jp.17.2.174-188