Gen Z Ingin Didengar, Bukan Sekadar Dilihat

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Kurayu Aeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gen Z Bukan Sekadar Penonton Politik
Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang membuat informasi semakin mudah diakses. Melalui media sosial, anak muda dapat mengikuti berita politik, melihat perdebatan mengenai kebijakan pemerintah, hingga menyampaikan pendapat hanya dengan menggunakan ponsel. Politik yang dahulu terasa jauh kini hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari beranda media sosial sampai obrolan bersama teman.
Kehadiran media sosial juga mengubah cara generasi muda berkomunikasi mengenai politik. Jika sebelumnya informasi lebih banyak diterima melalui televisi, surat kabar, atau pertemuan langsung, kini anak muda bisa menemukan beragam sudut pandang melalui video pendek, podcast, unggahan, dan diskusi digital. Mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat ikut menyebarkan gagasan dan membicarakan persoalan publik.
Namun, aktif di media sosial tidak selalu berarti memiliki keterlibatan politik yang mendalam. Seseorang bisa saja sering membagikan konten politik, mengikuti isu yang sedang ramai, atau berkomentar dalam sebuah perdebatan tanpa benar-benar memahami persoalan yang dibicarakan. Di sinilah Gen Z perlu melihat kembali perannya dalam komunikasi politik.
Bagi saya, generasi muda tidak seharusnya hanya menjadi penonton yang mengikuti arah pembicaraan orang lain. Gen Z memiliki kesempatan untuk membangun diskusi, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan pandangan berdasarkan pemahaman sendiri. Sebab, politik bukan hanya urusan orang-orang yang memiliki jabatan, melainkan juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang merasakan akibat dari setiap keputusan publik.
Kami Punya Pendapat, Bukan Sekadar Komentar
Salah satu hal yang membuat media sosial menarik adalah setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Anak muda dapat membicarakan persoalan pendidikan, lapangan pekerjaan, lingkungan, maupun kebijakan yang dianggap belum menjawab kebutuhan masyarakat. Suara yang sebelumnya sulit menjangkau banyak orang kini dapat tersebar lebih luas melalui ruang digital.
Sayangnya, kesempatan untuk berbicara terkadang justru membuat diskusi dipenuhi komentar yang terburu-buru. Ketika sebuah isu menjadi viral, banyak orang terdorong untuk ikut memberikan tanggapan sebelum memahami persoalannya secara utuh. Tidak jarang, pembicaraan lebih berfokus pada siapa yang paling keras menyampaikan pendapat daripada gagasan yang sebenarnya ingin diperjuangkan.
Menurut saya, menyampaikan pendapat seharusnya bukan sekadar mengikuti keramaian. Ada perbedaan antara berkomentar karena ingin terlihat aktif dan berbicara karena memiliki sesuatu yang perlu disampaikan. Pendapat yang kuat tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa yang keras, tetapi perlu memiliki alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Gen Z tidak harus menjadi ahli politik untuk mulai menyuarakan persoalan di sekitarnya. Namun, keberanian berbicara perlu disertai kemauan untuk belajar, membaca informasi dari berbagai sumber, dan memahami sudut pandang yang berbeda. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat meluapkan reaksi, tetapi juga ruang untuk bertukar pikiran dan membangun pemahaman bersama.
Jangan Anggap Anak Muda Tidak Peduli
Generasi muda terkadang dianggap kurang tertarik terhadap politik karena lebih sering membicarakan hiburan, tren, atau kehidupan sehari-hari di media sosial. Padahal, ketertarikan terhadap persoalan publik tidak selalu ditunjukkan melalui cara yang sama. Ada anak muda yang mengikuti berita politik setiap hari, ada yang menyampaikan kepedulian melalui karya digital, dan ada pula yang mulai tertarik ketika suatu kebijakan berkaitan langsung dengan kehidupannya.
Tidak semua anak muda memiliki pengetahuan, pengalaman, atau kesempatan yang sama untuk terlibat dalam diskusi politik. Sebagian mungkin masih kesulitan membedakan informasi yang dapat dipercaya dengan informasi yang menyesatkan. Sebagian lainnya mungkin merasa pendapat mereka tidak akan membawa perubahan atau khawatir mendapatkan tanggapan negatif ketika menyampaikan pandangan yang berbeda.
Karena itu, menyebut Gen Z sebagai generasi yang apatis tanpa memahami latar belakangnya merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Ketidakterlibatan seseorang bisa berkaitan dengan banyak hal, termasuk kurangnya akses terhadap informasi yang mudah dipahami, rendahnya kepercayaan terhadap proses politik, atau terbatasnya ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Menurut saya, tantangan komunikasi politik saat ini bukan hanya mengajak anak muda untuk peduli, tetapi juga membuat pembicaraan politik terasa relevan dengan kehidupan mereka. Ketika persoalan publik dijelaskan dengan bahasa yang dekat dan disertai informasi yang jelas, generasi muda memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami mengapa suatu isu penting bagi dirinya maupun masyarakat.
Kami Tidak Harus Selalu Sepakat
Dalam komunikasi politik, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap orang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan pandangan yang berbeda ketika menilai sebuah kebijakan atau persoalan publik. Media sosial membuat perbedaan tersebut semakin terlihat, tetapi tidak selalu membantu orang memahami alasan di balik pandangan yang berbeda.
Ketika berhadapan dengan pendapat yang tidak sesuai dengan keyakinan sendiri, seseorang terkadang lebih memilih menyerang orang yang menyampaikannya daripada membahas isi argumennya. Akibatnya, diskusi yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan berubah menjadi perdebatan yang berfokus pada kemenangan pribadi.
Gen Z perlu menunjukkan bahwa komunikasi politik dapat berlangsung secara kritis tanpa harus kehilangan rasa hormat. Kita boleh tidak setuju, mempertanyakan suatu pernyataan, atau menolak sebuah gagasan. Namun, ketidaksetujuan tersebut sebaiknya disampaikan dengan alasan yang jelas, bukan melalui penghinaan atau penyebaran informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Menghargai perbedaan bukan berarti menerima semua pendapat tanpa pertimbangan. Justru, diskusi yang sehat memungkinkan setiap gagasan diperiksa dan diperdebatkan secara terbuka. Demokrasi membutuhkan masyarakat yang berani berbicara sekaligus bersedia mendengarkan, termasuk ketika jawaban yang ditemukan tidak sesuai dengan harapan sendiri.
Kritik Bukan Ancaman, tetapi Bagian dari Demokrasi
Kritik sering kali menjadi bagian paling ramai dalam pembicaraan politik, terutama ketika masyarakat merasa suatu kebijakan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Melalui media sosial, masyarakat dapat menyampaikan ketidakpuasan, mempertanyakan keputusan publik, dan meminta penjelasan dari pihak yang memiliki kewenangan.
Bagi generasi muda, menyampaikan kritik merupakan salah satu bentuk partisipasi yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Kritik terhadap persoalan pendidikan, misalnya, dapat membantu membuka pembicaraan mengenai fasilitas, biaya, akses, atau kualitas pembelajaran. Begitu pula dengan persoalan lapangan pekerjaan dan lingkungan yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat luas.
Namun, kritik yang bermanfaat membutuhkan lebih dari sekadar kemarahan. Informasi yang jelas, alasan yang masuk akal, dan persoalan yang spesifik dapat membuat kritik lebih mudah dipahami. Sebaliknya, tuduhan tanpa bukti dan serangan terhadap kehidupan pribadi justru berisiko mengalihkan perhatian dari masalah yang seharusnya dibahas.
Menurut saya, pemerintah dan lembaga publik juga perlu memandang kritik sebagai bagian dari komunikasi dua arah. Masyarakat tidak cukup hanya diberikan informasi, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk bertanya dan menyampaikan masukan. Ketika kritik ditanggapi dengan penjelasan yang terbuka, komunikasi dapat membantu membangun kepercayaan dan memperjelas persoalan yang sedang dihadapi.
Dari Berani Bicara Menjadi Berani Terlibat
Keberanian menyampaikan pendapat merupakan langkah awal, tetapi keterlibatan politik tidak seharusnya berhenti pada percakapan. Setelah memahami suatu persoalan, Gen Z dapat mengambil langkah sesuai kemampuan dan lingkungan masing-masing. Bentuknya tidak harus selalu besar atau melibatkan kegiatan politik formal.
Mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi melalui forum kampus, mengikuti diskusi mengenai kebijakan pendidikan, atau mengajukan masukan melalui saluran yang tersedia. Anak muda di lingkungan tempat tinggal juga dapat terlibat dalam kegiatan masyarakat, mengikuti musyawarah, dan membicarakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Di ruang digital, keterlibatan dapat dimulai dengan membagikan informasi yang sudah diperiksa kebenarannya, menjelaskan persoalan secara lebih utuh, atau membuka diskusi yang memungkinkan orang bertukar pandangan. Hal sederhana tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran informasi yang menyesatkan sekaligus mendorong pembicaraan yang lebih bermanfaat.
Yang perlu diingat, tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui media sosial. Ada masalah yang membutuhkan proses panjang, koordinasi dengan pihak terkait, dan keterlibatan masyarakat secara langsung. Karena itu, media sosial sebaiknya digunakan sebagai salah satu sarana komunikasi, bukan dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk menciptakan perubahan.
Saatnya Komunikasi Politik Lebih Mau Mendengarkan
Komunikasi politik yang sehat tidak hanya bergantung pada kemampuan masyarakat untuk berbicara. Pihak yang memiliki kewenangan juga perlu bersedia mendengarkan dan menanggapi aspirasi yang disampaikan. Tanpa adanya ruang untuk memberikan respons, komunikasi berisiko berjalan satu arah dan membuat masyarakat merasa bahwa pendapat mereka tidak memiliki arti.
Di era digital, lembaga publik memiliki kesempatan untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dengan masyarakat. Informasi mengenai kebijakan dapat disampaikan melalui platform yang mudah diakses, sedangkan pertanyaan dan masukan masyarakat dapat menjadi bahan untuk menjelaskan persoalan yang belum dipahami. Namun, kehadiran akun resmi saja tidak cukup apabila komunikasi hanya berisi pengumuman tanpa tanggapan yang jelas.
Generasi Z juga perlu mendapatkan ruang untuk berpartisipasi tanpa harus terlebih dahulu menjadi tokoh terkenal atau memiliki banyak pengikut. Kualitas sebuah aspirasi tidak seharusnya ditentukan oleh jumlah tanda suka, jumlah penonton, atau seberapa viral sebuah unggahan. Persoalan yang penting tetap layak diperhatikan meskipun tidak menjadi perbincangan besar di media sosial.
Pada akhirnya, komunikasi politik membutuhkan kesediaan kedua belah pihak untuk terlibat. Masyarakat perlu menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, sedangkan pihak yang memiliki kewenangan perlu memberikan informasi dan tanggapan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, ruang digital dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara masyarakat dan penyelenggara pemerintahan.
Gen Z Ingin Didengar, Bukan Sekadar Dilihat
Generasi Z tidak harus selalu menjadi kelompok yang paling ramai di media sosial untuk menunjukkan kepedulian terhadap politik. Tidak semua gagasan perlu menjadi viral, dan tidak semua persoalan harus dibicarakan dengan cara yang menarik perhatian. Ada kalanya, kontribusi yang berarti justru dimulai dari membaca, memahami, bertanya, dan mendengarkan sebelum mengambil sikap.
Manifesto komunikasi politik Gen Z bukanlah tuntutan bahwa semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Sebaliknya, manifesto ini merupakan ajakan agar generasi muda berani menggunakan suaranya secara bertanggung jawab, terbuka terhadap perbedaan, dan tidak mudah terbawa arus informasi yang belum tentu benar.
Kami ingin menjadi bagian dari percakapan yang membahas persoalan nyata, bukan sekadar menjadi penonton ketika keputusan dibuat. Kami ingin pendapat dinilai berdasarkan gagasannya, kritik ditanggapi dengan penjelasan, dan partisipasi anak muda dihargai sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.
Sebab, menjadi generasi yang dekat dengan teknologi bukan hanya tentang kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari itu, kesempatan yang dimiliki Gen Z perlu digunakan untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dan mendorong keterlibatan yang bermakna.
Gen Z tidak hanya ingin terlihat aktif dalam politik. Kami ingin suara kami menjadi bagian dari percakapan yang didengar, dipertimbangkan, dan membawa manfaat bagi kehidupan bersama.
