Konten dari Pengguna

Saat Kuta Bali Kehilangan Ruang Bernapas akibat Overtourism

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kurnia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kuta Bali pernah menjadi simbol keberhasilan pariwisata Indonesia di mata dunia. Pantainya yang ikonik, akses yang mudah, serta citra kosmopolitan menjadikannya pintu masuk utama wisatawan internasional maupun domestik. Selama bertahun-tahun, keramaian dipromosikan sebagai tanda kesuksesan. Namun hari ini, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari: apakah Kuta masih bisa dinikmati, atau justru telah terlalu ramai untuk dicintai?

Ilustrasi overtourism yang terjadi di Kuta. sumber foto: Generate AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi overtourism yang terjadi di Kuta. sumber foto: Generate AI

Fenomena overtourism membuat wajah Kuta berubah. Kepadatan lalu lintas, kemacetan kronis, tekanan terhadap pantai, serta penumpukan sampah bukan lagi cerita musiman, melainkan realitas sehari-hari. Keramaian yang dulu dianggap daya tarik kini menjadi beban, baik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi sekadar urusan liburan dan ekonomi, tetapi telah berubah menjadi persoalan ruang hidup dan keadilan sosial.

Secara global, overtourism bukan isu baru. Kota-kota seperti Venice dan Barcelona telah lama bergulat dengan dampaknya, yang menyebabkan kebijakan pembatasan kunjungan musiman di beberapa titik wisata utama (UNWTO, 2018). United Nations World Tourism Organization menjelaskan bahwa overtourism terjadi ketika jumlah wisatawan melampaui kapasitas destinasi hingga berdampak negatif pada kualitas hidup masyarakat lokal dan pengalaman wisatawan itu sendiri (UNWTO, 2018). Bali, khususnya kawasan selatan seperti Kuta, kini berada dalam situasi serupa. Media nasional bahkan menyebut Bali menyandang predikat overtourism akibat penumpukan wisatawan yang tidak diimbangi daya dukung lingkungan dan infrastruktur (Kompas, 2024).

Masalah utama overtourism di Kuta bukan semata soal banyaknya wisatawan, melainkan absennya batas. Pembangunan hotel, vila, dan fasilitas wisata terus berlangsung, sementara kapasitas lingkungan cenderung diabaikan. Pantai Kuta, sebagai ikon utama, menunjukkan tanda-tanda degradasi lingkungan yang serius. Laporan United Nations Environment Programme mencatat bahwa kawasan pesisir dengan aktivitas wisata tinggi menjadi titik akumulasi sampah laut, terutama plastik, akibat lemahnya pengelolaan limbah (UNEP, 2021). Pantai yang seharusnya menjadi ruang bernapas kini terancam oleh tekanan aktivitas manusia.

Krisis ini juga berdampak langsung pada masyarakat lokal. Harga tanah dan biaya hidup di Kuta terus meningkat, mendorong warga lokal semakin terpinggirkan di wilayahnya sendiri. Banyak dari mereka hanya terlibat dalam industri pariwisata sebagai pekerja dengan upah rendah dan posisi kerja yang rentan. Penelitian tentang pariwisata dan masyarakat lokal menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor wisata tidak otomatis menghadirkan keadilan sosial, terutama ketika keuntungan lebih banyak terakumulasi pada investor besar dibandingkan warga setempat (Scheyvens, 1999). Data ini sejalan dengan sejumlah laporan lapangan yang menunjukkan ketimpangan ekonomi di kawasan wisata padat seperti Kuta.

Dari perspektif akademik, pariwisata sering dipandang semata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Namun, seperti diingatkan oleh Colin Michael Hall dalam kajiannya, sektor ini juga memiliki konsekuensi sosial dan ekologis yang harus diperhitungkan dalam perumusan kebijakan (Hall, 2011). Pengabaian terhadap dinamika ini berpotensi membuat pariwisata kehilangan makna keberlanjutan yang sejati. Jika situasi ini terus dibiarkan, Kuta berisiko kehilangan daya tariknya sendiri. Wisatawan yang datang tidak lagi mendapatkan pengalaman pantai tropis yang nyaman, melainkan keramaian yang melelahkan dan lingkungan yang terdegradasi. Di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap pariwisata berkelanjutan, kondisi ini justru dapat menurunkan daya saing Bali dalam jangka panjang.

Kuta hari ini berada di persimpangan penting. Pilihannya jelas: terus mempertahankan pariwisata massal tanpa kendali, atau berani mengubah arah kebijakan. Pembatasan jumlah kunjungan wisatawan, pengendalian pembangunan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan bukan lagi wacana idealis, melainkan kebutuhan mendesak. Masyarakat Kuta tidak seharusnya hanya menjadi penerima dampak, tetapi diakui sebagai aktor yang memiliki hak atas ruang dan masa depan wilayahnya. Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak seharusnya diukur dari seberapa ramai suatu destinasi, tetapi dari seberapa layak tempat tersebut untuk ditinggali, dikunjungi, dan diwariskan. Jika Kuta terus dibiarkan tenggelam dalam logika “semakin banyak semakin baik”, maka yang tersisa hanyalah paradoks pariwisata: destinasi yang terkenal di seluruh dunia, tetapi perlahan kehilangan kualitas dan maknanya sendiri.