Konten dari Pengguna

Cerpen : Senyum Manis Layla

Cicih Kurniasih

Cicih Kurniasih

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang prodi Sastra Indoneisa yang menyukai dunia sastra terutama menulis.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cicih Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Pexels.com

“Dian, Ayah dan Ibu tunggu di mobil ya. Cepat selesaikan pekerjaanmu.” Panggil ibu dari halaman rumah.

Aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam tas sesegera mungkin dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Setelah semuanya selesai, aku bergegas menuju ke mobil yang sudah terpakir di halaman rumah. Ibu sudah berada di dalam mobil, sedangkan ayah masih memasukkan barang-barang di bagasi. Aku memasuki mobil dan melepas tas ranselku. Tas ini berisi mainan-mainan kesayanganku. Ayah sudah memasuki mobil dan menyalakannya, mobil pun pergi meninggalkan rumah kecil itu.

Ya, kami akan pindah ke tempat baru, bukan karena kami tak nyaman dengan rumah lama kami, tapi karena pekerjaan ayah yang mengharuskan kami pindah. Aku cukup sedih meninggalkan tempat tinggalku, meninggalkan teman-temanku, meninggalkan semua kenangan yang ada disana. Tetapi ibu menasihatiku bahwa akan hal-hal baru yang begitu menyenangkan di tempat baru kita, pada saat itu aku hanya menganggukan kepala sambil menghapus air mataku.

Perjalanan cukup menghabiskan banyak waktu, matahari sudah mulai tenggal dan ayah membawa mobil kita ke sebuah rumah yang begitu sederhana dengan halaman yang luas. Sepertinya aku bisa membawa teman-teman baruku untu bermain disana, mengingat hal itu membuat diriku tak sabar untuk bertemu teman baru disini. Aku keluar dari mobil dan mebawa barang-barang yang bisa aku bawa ke dalam rumah. Setelah selesai, aku izin kepada kedua orang tua ku untuk bermain disekitar rumah.

“Jangan main terlalu jauh, ini sudah sore.” Ucap ibuku.

“Baik,Bu!” jawabku.

Suasana disini begitu sejuk mungkin karena ada beberapa pohon di pinggir jalannya. Aku melihat sekitar, siapa tau ada yang bisa ku ajak berkenalan. Tak terlalu jauh dari rumah, aku bisa melihat segerombolan anak-anak seusiaku sedang bermain bersama di lapangan yng begitu luas. Aku pun menghampiri mereka semua. Aku tak berani menyapa hanya diam dan memerhatikan mereka bermain. Aku tak terlalu paham dengan permaianan yang mereka mainkan, yang ku tahu sepertinya hanya lompat tali. Ada beberapa anak yang bermain melompati kotak-kotak yang telah mereka gambar di atas tanah, ada juga yang bermain sambil memegang pundak satu sma lain sehingga membentuk satu barisan. Aku benar-benar baru melihat permainan semacam ini. Aku menghampiri seorang anak perempuan yang sedang duduk di pelataran rumah dekat lapangan itu.

“Hai! Bolehkah aku duduk disini?” tanyaku padanya.

Pexels.com

Anak itu hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum kepadaku. Aku pun duduk disebelahnya, namun tak ada lagi obrolan diantara kita. Karena merasa begitu canggung, aku mencoba untuk berkenalan dengannya.

“Namaku Dian, aku baru saja pindah ke tempat ini.” Ucapku sambil mengulurkan tangan kanan ku kepadanya. Anak itu menerima uluran tanganku, dan lagi-lagi ia hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku sedikit merasa kesal kepadanya, kenapa dia tidak berbicara sedikitpun kepadaku, hanya senyuman yang tak tahu apa maksud dari senyuman itu. Aku pergi meninggalkan lapangan dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Selain kesal karena merasa dibaikan aku juga cukup lelah karena perjalanan panjang hari ini.

Malam pun tiba, kami sekeluraga tengah asyik menikmati masakan Ibu yang begitu lezat. Tidak ada obrolan saat makan, karena Ayah pernah berkata tidak baik jika berbicara saat sedang makan. Setelah selesai makan, aku membantu ibu untuk membereskan meja makan, namun akau masih saja merasa kesal dengan kejadian sore tadi, sehingga Ibu menyadarai raut wajah ku yang terlihat begitu kesal.

“Kamu kenapa Nak? Tidak suka membantu Ibu?” tanya ibuku.

“Eh tidak kok Bu, aku senang membantu Ibu.”

“Lalu kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu, coba ceritakan kepada Ibu.”

“Aku merasa kesal kepada seseorang yang aku temui tadi Bu. Aku mencoba untuk memulai percakapan dengan anak itu, tapi dia hanya membalsnya dengan anggukan ataupun senyuman. Aku sempat menjulurkan tanganku padanya dan mengenalkan siapa diriku kepadanya, memang sih dia menerima uluran tanganku tapi dia tidak berkata apapun dan hanya tersenyum kepadaku. Aku kesal karena merasa diabaikan dan tidak dihargai olehnya.” Jelasku kepada Ibu.

Ibu mengelus pelan kepalaku. “Kamu tidak boleh berpikir seperti sayang. Kamu kan baru sekali bertemu dengannya, mungkin dia tidak bisa jika berkenalan dengan orang baru. Lagi pula dia menerima segala sapamu, dia membalssmu dengan senyumannya. Itu saja sudah cukup, kamu jangan berpikir yang negatif kepada orang yang baru kamu kenal, kamu mengerti kan, sayang? "

"Iya Bu, Dian mengerti." Jawabku dengan kelegaan setelah ibu memberi nasihat seperti itu. Benar yang dikatakan Ibu aku tidak boleh berpikir negatif kepada orang yang baru aku temui.

Keesokan harinya, aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah baruku. Tidak lupa kami sekeluarga sarapan bersama dengan nasi goreng buatan Ibu. Ibu memang tidak pernah gagal dalam urusan memasak, apa pun yang dibuat nya pasti sangat enak. Selesai sarapan, aku pun pergi ke sekolah di antar oleh Ayahku. Ayah mengantarku sampai bertemu denga guru yang menjadi wali kelas ku nanti. Bu Winta namanya. Ayah berpamitan kepada Bu Winta dan mencium kepalaku, ia segera pergi meninggalkan halaman sekolah.

"Ayo Dian, kita masuk kelas. " Ajak Bu Winta kepadaku.

Dia merangkul pundakku mencoba untuk menenangkan ku yang sedikit gugup untuk bertemu dengan teman kelas ku. Kami pun masuk ke dalam kelas yang berisi sekitar 20 murid disana. Ya, aku sempat menghitung nya sekilas, namun pandanganku terpaku pada anak perempuan yang duduk di kursi paling belakang. 'Bukankah dia anak perempuan yang ku temui kemarin di lapangan? Ternyata aku sekelas dengannya.’ Pikirku.

"Baik anak-anak, mohon perhatiannya sebentar ya. Teman kalian akan berbicara. Dian, Silahakan." Bu Winta mempersilahkan aku untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya, mencoba untuk menenangkan diri dan menghilangkan kegugupanku agar teman-temanku bisa dengan jelas mendengar suaraku.

"Hai semuanya, namaku Dian Ayu Lestari, kalian bisa memanggikku Dian. Salam kenal semuanya. " sapa ku kepada mereka semua dengan senyuman yang terlukis di wajahku.

"Hai Dian! " Ucap mereka serempak.

Aku tersenyum lebar karena melihat teman-teman ku bisa menerima ku dengan kegembiraan yang tergambar di wajah mereka, terutama wajah anak perempuan itu. Ibu guru mempersilahkan aku untuk duduk di sebelah anak perempuan itu, yang baru ku tahu namanya ialah 'Layla'. Aku duduk di sebelahnya, dia menyambut ku dengan senyuman yang dimilikinya itu. Selama pelajaran berlangsung aku tak berbicara dengannya, bahkan pada saat istirahat pun ia hanya duduk di tempatnya sambil memakan bekalnya.

Kringggg

Bel pulang sekolah telah berbunyi, aku memasukkan buku dan alat tulisku ke dalam tas. Hari ini aku akan pulang sendiri, lagipula jarak rumah dengan sekolahku tak begitu terlalu jauh. Teman-temanku yang lain mengajakku untuk pulang bersama, aku pun mengiyakan ajakan mereka. Aku sempat melirik ke arah Layla, dirinya masih sibuk menggambar. Aku bingung, apakah aku harus mengajaknya pulang bersama juga atau mengabaikannya dan langsung pergi begitu saja. Namun aku ingat nasihat ibu semalam dan akhirnya kuputuskan untuk bertanya kepadanya.

"Layla, apakah kamu ingin pulang bersama aku dan yang lainnya? " Ajak ku.

Dia melihat ke arah ku dan menggelengkan kepalanya. Aku anggap itu jawaban ‘tidak’ yang ia berikan kepadaku. Aku dan yang lainnya pulang bersama meninggalkan Layla yang kembali sibuk menggambar di buku sketsa miliknya. Sepanjang perjalanan, pikiranku hanya di penuhi oleh Layla. Kenapa dia terlihat begitu tertutup sekali dan tidak pernah berbicara, jika ditanya atau diajak ngobrol pun hanya memberikan senyuman nya itu.

Tak terasa aku sudah sampai di rumahku, aku melambaikan tanganku kepada teman-temanku. Aku sangat bersemangat hari ini, karena nanti sore aku akan bermain dengan mereka di lapangan yang kemarin aku kunjungi. Sambil menunggu sore datang, aku menyelesaikan tugas yang di beri Bu Winta di kelas tadi. Setelah itu aku memutuskan untuk tidur siang, dan meminta Ibuku untuk membangunkan ku jika sore sudah datang.

Sore pun datang begitu cepat, aku sudah bersama dengan Maya, Laras, dan Bayu teman kelasku. Kami sedang menunggu yang lain untuk datang ke lapangan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, lapangan pun mulai ramai dengan anak-anak yang akan bermain. Aku sedikit bingung dengan permainan yang mereka mainkan dan hanya bisa diam melihat mereka bermain.

“Dian! Ayo bermain engklek dengan kami.” Ajak Maya kepadaku.

Maya menggambar kotak-kotak yang saling terhubung, tergambar ada lima kotak yang ia gambar. Lalu masing-masing dari mereka membawa pecahan genteng yang mereka lempar ke setiap kotak sambil mereka memlompat dengan kaki yang mereka angkat satu. Aku tetap diam memperhatikan mereka, sampai tanganku ditarik oleh Maya.

Pexels.com

“Kamu belum paham ya cara mainnya?” tanya Maya kepadaku.

“Iya, ini pertama kalinya aku, melihat permainan seperti ini.”

“Oh seperti itu, baiklah aku akan mengenalkanmu permaianan yang kita mainkan disini. karena sebuah desa, jadi kita jarang sekali yang memiliki ponsel dan disinilah kita yang akan selalu berkumpul dan bermain bersama. Permainan yang ada di depanmu ini, namanya engklek, ya seperti yang kau lihat tadi, kita akan melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak yang ada di depan kita. Nah, kalau yang dimainkan Laras dan yang lainnya adalah permainan ular naga kita harus saling memegang pundak teman yang didepan kita dan tidak boleh terlepas. Ada dua orang yang menjadi gerbang masuknya ular naga dalam permainan ini, nanti jika lagu sudah selesai maka gerbang akan tertutup dan menangkap orang yang memeng berhenti di tengah gerbang itu.

“Ular naga panjangnya bukan kepalang

Menjalar-jalar selalu kian kemari

Umpan yang lezat itulah yang dicari

Ini dianya yang terbelakang....”

Begitulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Laras dan yang lainnya dalam permainan ular naga tersebut. Aku ikut tertawa melihat salah satu dari mereka yang tertangkap. Begitu mengasyikan melihat permaianan seperti ini. Belum lagi permainan lompat tali yang menggunakan karet yang disambung menjadi begitu panjang, mereka mencoba melompati tali tersebut dengan berbagai cara. Mereka benar-benar saling bermain bersma, bercanda dan tertawa bersama, menikmati kebersamaan mereka.

“Jadi bagaimana? Kamu ingin bergabung dengan siapa? Denganku atau Laras?” tanya Maya lagi.

Aku memutuskan untuk bermain dengan engklek dengan Maya. Sebelum bermain, kita akan memilih siapa yang akan bermain lebih dulu.

“Hompimpah alaium gambreng” ucap kita secara bersama. Maya terpilih untuk bermain pertama dan yang kedua adalah aku. Aku begitu memperhatiakan Maya sekaligus belajar bagaimana cara memainkannya. Maya sudah selesai dan selanjutnya aku, melompat dengan satu kaki benar-benar menyulitkan. Aku harus bisa menyeimbangkan tubuhku, terlebih pada saat kita harus mengambil potongan genteng yang awal mula kita lempar ke dalam kotak, dan satu lagi kita tidak boleh menginjak garis kota yang sudah dibuat.

Cukup lama kita bermain, aku begitu menikmati permainan ini walaupun sedikit melelahkan. Saat sedang istirahat, aku teringat Layla. Aku melihat ke sekitar mencari sosok perempuan itu, tapi dia tidak ada di lapangan ini.

.