Cerpen: Tetap Bukan Kamu

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang prodi Sastra Indoneisa yang menyukai dunia sastra terutama menulis.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Cicih Kurniasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Tetap bukan kamu" lagu yang dibawakan oleh Raisa mendalun dengan indah di telinga Almira.
“Almiraaaaaaa!”
Gadis itu berteriak memanggil nama Almira, dari kejauhan Almira melihat sahabatnya berlari tergopoh-gopoh menuju dirinya. Entah apa yang ingin disampaikan sahabatnya itu. Namun, Almira hanya melihat sekilas lalu kembail menulis tugas yang sedang ia kerjakan.
“Almira, lo harus lihat ini!”
Nadira menunjukan sesuatu dari ponselnya kepada Almira. Almira yang malas menanggapi tidak menghiraukan sahabatnya itu.
“Ish, Al, lu harus lihat ini!” ucap Nadira sambil menarik wajah Almira agar melihat ke arah ponselnya.
Almira akhirnya melihat ke ponsel Nadira, matanya membulat sempurna, lalu berdiri dan menarik ponsel yang dipegang Nadira. Kini ponsel Nadira berada ditangan Almira. Sambil menggulir layar ponsel tersebut, Almira menatap tak percaya. Seolah-olah apa yang muncul di ponsel itu suatu hal yang tidak seharusnya ada.
Mata Almira berkaca-kaca menatap ponsel tersebut, mungkin jika ia tidak menahannya, air mata itu sudah meluruh membasahi pipinya. Nadira ikut berdiri dan menyentuh pundak Almira.
“Al, lu gapapa kan? lu bilang, lu udah move on kan? Al gue tau ini sulit dipercaya, tapi dia kembali, Al.” ucap Nadira mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“N-ad..” lirih Almira dengan bibir bergetar.
“K-enapa…kenapa dia kembali dan kenapa harus disini…kenapa dia harus disini, kuliah disini, kenapa tuhan malah menunjukan dirinya kembali disini, apa salah gue , Nad?” Ucap Almira diiringi isak tangisnya. Air matanya sudah tidak bisa ditahannya lagi, hatinya terlalu sakit bahkan seluruh tubuhnya merasa sakit. Ia bingung dengan apa yang terjadi.
Kenapa orang yang ia benci itu harus kembali? kenapa orang yang telah menyakitinya itu kembali? kenapa orang yang sudah meninggalkan dirinya selama 3 tahun tanpa alasan itu kembali? kenapa orang yang pernah ia cintai itu kembali disaat dirinya sudah mulai melupakan dan dalam proses penyembuhan patah hatinya itu harus kembali? kenapa?
Kata “kenapa” hanya memenuhi otak Almira. Ia sulit mencerna apa yang terjadi. Kenapa mantan kekasihnya yang pergi meninggalkan dirinya selama 3 tahun tanpa alasan itu kembali, disini, dikampusnya.
Kenapa Saka Alneric itu harus kembali.
Almira membencinya.
Beberapa hari kemudian….
Apa yang dipikirkan oleh Almira, ketakutan yang ada dalam pikiran Almira setelah ia mengetahui mantannya itu berkuliah disini tidaklah berjalan sesuai dengan overthinking nya Almira. Setelah Nadira memberi tahu info tersebut, Almira takut sekali, jika ia akan berpapasan atau bahkan Saka yang dengan sengaja menghampiri Almira. Namun, tiga hari telah berlalu, Almira belum pernah bertemu secara langsung dengan pria itu.
Almira bersyukur karena mereka beda jurusan, Almira di Jurusan Kimia Murni dan Saka ada di Jurusan Teknik Mesin. Sebuah keajaiban yang menyenangkan karena fakultas mereka berdua sangat berjauhaan dan sudah pasti mereka tidak akan pernah bertemu.
Lagipula Saka pasti tidak tahu jika dirinya berkuliah disini juga. Almira menghela nafas lega, kini dirinya sedang duduk di kantin bersama Nadira sahabatnya. Almira dan Nadira sudah bersahabat sejak masa SMA, itulah yang membuat Nadira ikut terkejut ketika mengetahui bahwa Saka berkuliah disini. Karena Nadira menjadi saksi bagaimana sahabatnya itu menjalin kasih dengan Saka dan bagaimana terpuruknya Almira ketika Saka tiba-tiba pergi tanpa memberikan alasan yang pasti kepada sahabatnya itu.
Nadira dan Almira bercakap-cakap di kantin sambil menikmati makan siang yang mereka beli. walaupun yang banyak bicara adalah Nadira dan Almira hanya menyimak sambil sesekali tersenyum jika Nadira melontarkan lelucon yang menurutnya lucu. Almira sebelumnya adalah gadis yang ceria, cerewet seperti Nadira, dia akan selalu excited ketika menceritkan hal-hal yang dia suka, namun sayangnya ketika ia peristiwa patah hatinya itu, Almira menjadi gadis yang pendiam dan tertutup dengan sekitar, maka dari itu Almira hanya berteman dengan Nadira, untungnya sahabatnya itu memilih jurusan yang sama dengannya.
Ketika tengah asik berbicara, Nadira teringat akan satu hal. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel miliknya, lalu mencari sesuatu yang ingin ia tunjukan kepada Almira.
“Al, lihat, ayo kita ikut kegiatan ini.” ajak Nadira smbil menunjukan gambar kepada Almira.
“Kegiatan sosial?” tanya Almira.
Nadira mengangguk semangat, “Iya, ayo kita ikut kegiatan sosial ini, gue rasa ini bermanfaat, kita akan berbagi ke panti asuhan.” jelas Almira.
“Gamau, cape, pasti jauh.” tolak Almira.
“Ihhh, gapapa, pasti seru sambil isi kegiatan, kita kan udah semester 7 nih, tinggal nyusuk skripsi doang kan, mata kuliah udah tinggal dua lagi, jadi ayo kita manfaatin ke kegiatan ini, gimana? kita kan selalu bareng-bareng, kalau gue ikut lu harus ikut, begitupun sebaliknya, yuk…yuk..yuk…Almira ayo, please!”
Almira menghela nafas, benar juga yang diucapkan sahabatnya itu. Sebenarnya Almira terlalu malas mengikuti kegiatan ini. Tapi dia juga yakin Nadira tidak akan berhenti membujuk dan memohon kepada dirinya untuk ikut.
“Yasudah, gue ikut!” yakin Almira.
“Yeayyyy, lu emang sahabat terbaik gue, makasih Almiraaaa” ucap Nadira sambil memeluk sahabatnya itu. Almira hanya diam bergeming ketika sahabatnya itu memeluknya, sudah biasa. Almira juga tahu sahabatnya ini sengaja mengajak dirinya, agar Almira tidak terlalu memikirkan mantannya itu.
Hari pertama pertemuan…
Para anggota yang ingin mengikuti kegiatan sosial berkumpul di fakultas pendidikan, karena yang mengadakan kegiatan ini adalah fakultas pendididkan namun kegiatannya bersifat umum, jadi mau beda fakultas atau jurusan diperbolehkan untuk ikut.
Almira sudah sampai di aula fakultas pendidikan, sudah banyak orang disini, namun ia belum melihat sahabatnya itu datang. Mereka berangkat terpisah karena kebetulan hari ini mereka tidak ada kelas, mereka sepakat akan bertemu langsung di aula fakultas pendidikan. Almira terus menerus mencoba menelpon Nadira, namun belum diangkat juga. Almira merasa jengkel, sampai akhirnya Almira hampir saja terjayuh, karena tiba-tiba saja ada yang menubruk punggungnya, namun sebelum tubuhnya terjatuh, ada tangan yang dengan cepat menarik Almira.
Almira yang belum seimbang kembali menjatuhkan dirinya, namun kini ia tidak terjatuh melainkan ada yang menahan tubuhnya. Ya, tubuh seseorang itu menahan tubuh Almira. Almira terdiam sesaat, namun ia tertegun dengan aroma tubuh seseorang yang menarinya itu. Ia tidak asing dengan aroma tersebut, jantungnya berdegup kencang, keringat Almira bercucuran, Almira takut, takut yang telah menolongnya adalah pria itu, pria yang dibemcinya, Saka Alneric.
Dengan cepat Almira menarik tubuhnya, ia mengucapkan terima kasih, namun sama sekali tidak mengangakat kepalanya, Almira berlari, berlari pergi sejauh mungkin meninggalkan Aula itu. Almira berharap entah siapapun pria tadi ataupun tebakannya benar bahwa pria tadi adalah Saka, ia berharap bahwa pria tadi tidak mengenali Almira dan melupakan kejadian yang menurutnya sangat memalukan itu.
Merasa sudah jauh dari Aula Fakultas Pendidikan, Almira menghentikan larinya, ia berhenti di parkiran Fakultas Pendidikan, setidaknya ia sudah menjauhi tempat itu. Namun, tanpa Almira sadari, pria yang menolongnya tadi malah ikut mengejar Almira. ketika sedang mencoba mengatur nafasnya, Almira kembali tertegun dengan suara panggilan yang menyebut namanya,
“Almira!”
Suara itu…suara yang selama ini ia rindukan, suara pria yang pernah ia cintai 3 tahun yang lalu atau nahkan samapi saat ini Almira masih mencintainya? entahlah. karena ketika mendengar suara itu, jantung Almira berdegup dengan kencang sampai-sampai ia ingin pingsan saat itu juga.
“Almira!” suaranya berat namun pelan dan suara itu berada di belakang Almira. Pria yang memiliki suara itu dengan berani menghampiri Almira.
Dengan keberanian, Almira membalikkan tubuhnya.
Benar, dugaannya sangat benar, suara itu adalah milik pria yang selama ini ia rindukan. Air matanya kembali membasahi pipinya dengan cepat tanpa sempat Almira menahannya. Tubuhnya membeku, ingin sekali ia memeluk tubuh itu, namun hatinya menolak, ia terlanjur sakit pada pria itu.
Saka Alneric.
