Kritik Pesantren: Saatnya Pesantren Bercermin terhadap Sejarah dan Realitas Kini
Tulisan dari Rendy Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diskursus hari ini tentang kritik terhadap pondok pesantren semakin menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Pemberitaan Trans7 terhadap salah satu kehidupan pesantren berhasil membuat emosi para santri meledak sebagai reaksi dari apa yang digambarkan oleh sebuah acara dari stasiun televisi tersebut. Narasi yang dibawa oleh stasiun televisi ini cenderung tendensius dan mengarah kepada generalisasi terhadap keseluruhan pondok pesantren, meskipun yang dipantau hanyalah satu kasus di sebuah pondok pesantren. Di dalam dunia akademik, fenomena ini disebut sebagai esensialisme, sebuah anggapan bahwa satu fenomena tertentu, menggambarkan keseluruhan diskursus yang terkait, dalam kasus ini; pondok pesantren.(Sahin 2018, 1)
Akan tetapi, meskipun acara televisi tersebut mengundang kontroversi, hal yang lebih menarik terjadi, yaitu polarisasi yang membelah masyarakat menjadi dua kelompok. Pertama, ialah mereka yang berasal dari berbagai jaringan kelompok masyarakat mengatasnamakan pembelaan terhadap pesantren. Kedua, mereka yang menjadikan fenomena ini bahan untuk mengkritik pondok pesantren. Tulisan ini cenderung melihat bahwa kritik terhadap pesantren benar-benar diperlukan hari ini berefleksi kepada berbagai kasus yang terjadi di tengah masyarakat yang melibatkan pesantren. Eksplorasi pembahasan menyeluruh dan juga spesifik terhadap pesantren di Indonesia akan dibahas dalam tulisan ini.
Dalam konteks yang luas, Islam sebagai sebuah kekuatan politik, ekonomi, sosial dan budaya mengalami stagnasi, kalau bukan kemunduran. Bernard Lewis, seorang cendekiawan barat, mengomentari fenomena ini dalam bukunya What Went Wrong?. Di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa kaum muslimin terus menuduh pihak lain ketika melihat kemunduran mereka, dibanding melihat ke dalam secara internal dan melakukan refleksi. Ia berpendapat bahwa kaum muslimin perlu untuk meninggalkan keluh kesah semacam itu dan berhenti menganggap diri mereka sebagai korban, tetapi tidak melakukan bercermin secara internal.(Lewis 2002, 175)
Saya melihat fenomena ini dapat diaplikasikan dalam diskursus pondok pesantren pada hari ini. Meskipun acara Trans7 mengundang kontroversi, hal ini dapat dilihat sebagai sebuah reaksi awam terhadap kasus-kasus yang terus terjadi di berbagai pondok pesantren dalam beberapa waktu terakhir. Mulai dari Al-Khoziny dengan rubuhnya bangunan dan hilangnya nyawa, pelecehan seksual di berbagai pondok pesantren hingga kekerasan yang melibatkan oknum-oknum di dalam tempat suci ini, citra pondok pesantren semakin buruk dari hari ke hari.(Tempo 2025; BBC News Indones. 2025) Belum lagi melihat kasus korupsi yang juga melibatkan oknum tokoh agama seperti korupsi dana haji dengan dimensi yang besar hingga korupsi pada level dana hibah pesantren yang tercatat di berbagai tempat.(CNN Indonesia. 2025; ICW 2025) Bukankah fenomena ini cukup untuk mengatakan bahwa,”pesantren perlu berbenah?”.
Pembelaan terhadap institusi-institusi keagamaan ini cenderung anakronistik. Pembelaan ini berdasar pada anggapan bahwa pesantren telah berjuang ratusan tahun yang lalu, sehingga mengkritik pesantren menjadi penghinaan terhadap perjuangan para kyai dan juga pihak pesantren ini.(Repub. Online 2025) Hal ini merupakan kesalahan dalam berpikir. Tidak ada yang menyangsikan perjuangan para kyai masyhur terdahulu bersama pahlawan-pahlawan dalam perjuangan baik secara keilmuan maupun politik. Kelompok santri dan para Kyai telah berjuang dalam kemerdekaan Indonesia baik secara fisik maupun non-fisik. (Syahriyah dan Mawardi 2025) Akan tetapi, dua hal perlu diperhatikan dalam melakukan pembelaan terhadap pondok pesantren. Pertama, apakah kehidupan, sistem dan juga pesantren saat ini dapat disandarkan kepada pondok pesantren terdahulu? Dan yang kedua, apakah kasus-kasus seperti bangunan roboh hingga pelecehan seksual juga terjadi pada pondok pesantren di masa lalu? Dua pertanyaan ini menjatuhkan argumen pembelaan anakronistik (menilai sesuatu saat ini dengan masa lalu, tanpa mempertimbangkan perubahan dan faktor lain yang mungkin telah bertransformasi: dalam kasus ini pesantren) terhadap pesantren di masa kini.
Di abad ke-19, seorang misionaris terkemuka, Snouck Hurgronje memperingatkan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk waspada kepada gerakan pan-Islamisme, sebuah gerakan politik Islam yang menyatukan berbagai paham dan madzhab untuk satu tujuan yang sama.(Kaptein et al. 2003, 10) Ia memperingatkan pemerintah Hindia Belanda untuk membiarkan kaum muslimin untuk beribadah, tetapi tidak untuk berpolitik, karena akan menjadi sebuah ancaman yang besar, berdasarkan apa yang telah ia pelajari sebelumnya.(Saprijal dan Manan 2022) Sejarah membuktikan keganasan kaum muslimin yang terdiri dari para santri dan pemuka agama yang terus mengancam kolonialisme Belanda, hingga akhirnya Snouck menyarankan politik devide et impera atau politik pecah belah yang membuat muslim terpolarisasi hingga dapat dikalahkan. Kejadian ini tercatat di dalam sejarah Perang Aceh, dimana perang tersebut dimenangkan Belanda di awal abad ke-20 berkat strategi yang disusun Snouck untuk memecah belah kekuatan muslim. Dalam bukunya Acehnese vol II, ia menjelaskan praktik menarik yang mungkin dapat menjatuhkan kekuatan Islam. Ia melihat meskipun pada prinsipnya kaum muslimin mengimani doktrin Islam, seringkali otoritas keagamaan hanya dimiliki oleh segelintir orang yang dianggap sebagai pemuka agama dan melihat kaum lain sebagai kaum yang menyimpang. Melihat fakta ini, menarik melihat bagaimana ketakutan yang dimiliki oleh penjajah Belanda terhadap Islam. Mereka mempertimbangkan kekuatan santri sebagai sebuah kekuatan yang besar dan tidak bisa dianggap remeh. Akan tetapi, menyadari satu kelemahan, yaitu kemungkinan polarisasi antar kelompok Islam, mereka memanfaatkannya untuk memecah belah kaum dan mengalahkannya. Selain redaksi ini, catatan-catatan Belanda tentang Islam dan santri di masa penjajahan menggambarkan betapa ganasnya para santri dan pemuka agama, dibandingkan mencatat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi seperti apa yang terjadi hari ini.
Snouck menulis tentang Islam di Nusantara berjudul De Islam in Nederlandsch-Indie dan menjelaskan tentang pesantren. Dalam tulisannya tersebut, tidak ada indikasi penyimpangan-penyimpangan yang serupa dengan hari ini terkait dengan korupsi, penyimpangan seksual hingga robohnya bangunan. Ia menjelaskan dua kelemahan pesantren di dalam tulisannya tersebut, yaitu berkaitan dengan para santri yang dianggap sakti oleh orang-orang sekitar sehingga dianggap membawa keberuntungan tertentu sebagai seorang dukun, dan juga tradisi mengunjungi makam leluhur maupun pemuka agama untuk meminta restu.(Hurgronje 1913, 32) Perlu ditekankan bahwa Snouck merupakan cendekiawan kolonial yang melakukan segala cara untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam di Hindia Belanda, termasuk pesantren secara khusus. Ia menguasai Bahasa Arab, memahami Islam hingga mistisisme, bahkan mengunjungi Mekkah dalam upayanya membangun jaringan dengan orang-orang Nusantara yang melakukan ibadah haji. Hal ini semata-mata untuk merumuskan strategi paling efektif untuk mengontrol orang-orang Islam secara politik, sebuah kekuatan yang ia anggap sangat mengancam.(As’ad et al. 2023) Sehingga, akan sangat wajar jika ia menggambarkan pesantren dengan citra yang buruk. Tetapi menariknya, gambaran pesantren yang ia tawarkan cenderung normatif, berbeda dengan realitas pesantren hari ini.
Dokumen lain menawarkan gambaran pesantren di akhir abad ke-19 ditulis oleh seorang arsiparis bernama C. Lekkerkerker. Dalam tulisan etnografinya yang cukup panjang, ia menjelaskan pondok pesantren di abad ke 19 dengan cukup detail mulai dari fungsi, sistem pendidikan, bahasa pengantar hingga bangunan dan arsitektur pesantren. Dijelaskan bahwa berbeda dengan hari ini, pesantren di masa tersebut sangat sederhana menggunakan bambu yang difungsikan sebagai tempat belajar dan tempat tidur. Menarik untuk membahas bagaimana arsiparis kolonial ini membahas aspek negatif pesantren. Pertama dan yang paling menarik adalah catatannya tentang adanya indikasi homoseksual di kalangan pesantren yang ia jelaskan sebagai de paederastie. Ia juga menyebutkan istilah lokal yaitu gemhlaq, djambon atau djewegan. Akan tetapi, catatan ini sangat lemah akurasinya karena sang penulis tidak mendiskusikan fenomena ini secara jelas, kecuali dengan satu kalimat yang provokatif. Selain itu, catatan ini membahas bahwa pondok pesantren dikenal dengan kurangnya tingkat kebersihan dan manajemen sanitasinya buruk. Terakhir, menarik untuk melihat kesimpulan Lekkerkerker yang menyebutkan bahwa meskipun anggapan fanatik telah melekat di pesantren di kepala penjajah, ia menemukan bahwa hal ini tidak berbahaya menurutnya.(Lekkerkerker 1899, 9)
Meskipun dua data ini tidak mewakili keseluruhan pesantren di masa lalu, kita bisa mendapat gambaran yang cukup umum dari dua sumber tersebut tentang bagaimana pesantren di dalam kacamata kolonial. Yang paling menonjol dari penjelasan mereka adalah bahwa pesantren dipertimbangkan sebagai kekuatan politik yang kuat yang membuat mereka terus waspada. Akan tetapi, penyimpangan-penyimpangan seperti apa yang kita temukan hari ini tidak terjadi berdasarkan sumber kolonial yang idealnya menekankan pelanggaran-pelanggaran ini jika memang terjadi. Kecuali sebuah keterangan pendek dari Lekkerkerker yang perlu diverifikasi lebih lanjut, pondok pesantren terdahulu jelas berbeda dengan apa yang terjadi sekarang, sehingga menurut saya menyandarkan pondok pesantren hari ini dengan yang terdahulu merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan kembali.
Sebagai penutup, sebagai seorang santri, saya pun sakit hati akan tayangan yang merendahkan harkat dan martabat para kyai dan memperburuk citra pondok pesantren. Akan tetapi, saya menyadari bahwa ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan momen bercermin tentang pesantren itu sendiri. Apakah kebanyakan pesantren masih mengamalkan nilai-nilai luhur kyai terdahulu, atau nilai-nilai tersebut telah dilupakan?
Referensi
As’ad, Muhammad, Muhammad Zainuddin, and M. Samsul Hady. 2023. “The Western Perspective on Islam: Reading the Legacy of Snouck Hurgronje on Islamic Studies.” Teosofi: Jurnal Tasawuf Dan Pemikiran Islam 13 (1): 80–104. https://doi.org/10.15642/teosofi.2023.13.1.80-104.
BBC News Indonesia. 2025. “Kasus kekerasan seksual: Belasan santri diduga jadi korban pimpinan pesantren di Sumenep.” June 16. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c93y3x2l3qeo.
CNN Indonesia. 2025. “Fakta-fakta Hasil Penyelidikan Dugaan Kasus Korupsi Haji.” https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250818100251-12-1263625/fakta-fakta-hasil-penyelidikan-dugaan-kasus-korupsi-haji.
Hurgronje, Snouck. 1913. De Islam in Ned Indie. Leiden University.
ICW. 2025. “Marak Korupsi Dana Dan Proyek Keagamaan: Penodaan Agama Dalam Arti Sebenarnya | ICW.” https://antikorupsi.org/id/article/marak-korupsi-dana-dan-proyek-keagamaan-penodaan-agama-dalam-arti-sebenarnya.
Kaptein, N. J. G., Anthony Reid, C. van Dijk, and Jan Schmidt. 2003. Kekacauan dan kerusuhan: tiga tulisan tentang pan-Islamisme di Hindia-Belanda Timur pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. INIS.
Lekkerkerker, Cornelis. 1899. “De Pesantren.” Sumatra-Courant (Padang).
Lewis, Bernard. 2002. What Went Wrong?: Western Impact and Middle Eastern Response. Oxford University Press.
Republika Online. 2025. “Buntut Kontroversi Trans7, Kiai Said Aqil Menduga Adanya Sindikasi Jahat Sudutkan Pesantren.” October 14. https://republika.co.id/share/t448f8320.
Sahin, Mehmet. 2018. “ESSENTIALISM IN PHILOSOPHY, PSYCHOLOGY, EDUCATION, SOCIAL AND SCIENTIFIC SCOPES.” JOURNAL OF INNOVATION IN PSYCHOLOGY, EDUCATION AND DIDACTICS.
Saprijal, Saprijal, and Abdul Manan. 2022. “The Roles Of Snouck Hurgronje in Reducing The Acehnese’s Resistance Against The Dutch.” Jurnal Adabiya 24 (2): 237. https://doi.org/10.22373/adabiya.v24i2.14741.
Syahriyah, Eri, and Kholid Mawardi. 2025. Hari Santri Nasional: Kajian Sosio-Historis atas Peran Santri dalam Perjuangan dan Perkembangan Bangsa.
Tempo. 2025. “Fakta-fakta Ambruknya Bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo | tempo.co.” September 30. https://www.tempo.co/politik/fakta-fakta-ambruknya-bangunan-ponpes-al-khoziny-sidoarjo-2074613.

