Konten dari Pengguna

Gaji Gen Z Tertinggal, Harga Properti Terus Melaju

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KURNIAWAN SYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah Gen Z (Sumber: pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Gen Z (Sumber: pexels.com)

Realitas Penghasilan vs Harga Properti

Pernah dengar temanmu bercanda pakai frasa "in this economy" saat mau beli kopi atau bayar sewa kos? Di balik nada satirnya, ungkapan ini merekam kegelisahan nyata: sulitnya mendapat pekerjaan dengan upah yang benar-benar layak, di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik.

Bayangkan saja, data BPS tahun 2025 mencatat rata-rata gaji pekerja di Indonesia cuma sekitar Rp3,29 juta per bulan dan untuk kelompok usia 25 s.d. 29 tahun yang didominasi Gen Z, angkanya malah lebih kecil lagi, yaitu Rp3,10 juta per bulan.

Di saat yang bersamaan, data resmi Bank Indonesia lewat Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Triwulan II 2026 mengonfirmasi tren kenaikan harga yang terus berlanjut. Harga properti di pasar primer tumbuh 0,69% (yoy) pada kuartal II 2026, naik dari kuartal I yang sebesar 0,62% (yoy). Pendorong utamanya terutama berasal dari lonjakan harga rumah di Pekanbaru serta kawasan Jabodebek-Banten.

Jadi kalau ada yang bilang Gen Z susah punya rumah gara-gara hobi ngopi atau boros, secara matematis argumen itu kurang pas. Jarak antara dompet kita dan harga properti memang makin lebar.

Pintu KPR yang Makin Terkunci

Mengumpulkan DP hanyalah langkah awal. Tantangan sebenarnya bagi Gen Z justru dimulai saat melangkah ke bank buat pengajuan KPR, di situlah realitas sebenarnya dimulai.

Banyak Gen Z bekerja sebagai freelancer, pekerja kontrak, content creator, atau punya usaha sendiri. Keren sih, tapi bank biasanya bingung kalau calon debitur tidak punya slip gaji bulanan yang tetap. Tanpa bukti pendapatan rutin, pengajuan KPR sering kali dipandang berrisiko tinggi dibanding pekerja kantoran konvensional.

Tantangan berikutnya sering kali muncul dari hal-hal kecil yang terlewat, yaitu rekam jejak keuangan di SLIK OJK. Ketergantungan pada layanan paylater atau pinjaman instan berisiko meninggalkan jejak kredit buruk di SLIK OJK. Begitu ada tunggakan kecil yang lupa dibayar, jejaknya langsung tercatat di sistem OJK. Tagihan di bawah satu juta pun bisa bikin skor kredit merah dan berujung penolakan KPR saat mau beli rumah.

Kalaupun lolos, masih ada jebakan bernama suku bunga mengambang (floating rate). Bagi debitur KPR dengan skema bunga floating, cicilan rumah yang awalnya terasa aman bisa mendadak melonjak begitu masuk masa floating. Laporan BI juga mengamini ketakutan ini: tingginya suku bunga KPR ternyata jadi faktor penghambat terbesar kedua (15,96%) bagi orang yang mau beli rumah. Makanya, nggak heran kalau Bank Indonesia mencatat pertumbuhan nilai KPR makin melambat, dari 4,79% menjadi 4,70% pada pertengahan 2026. Banyak Gen Z yang akhirnya putar balik karena takut tidak sanggup bayar cicilan di tengah jalan.

Nyewa itu Pilihan atau Keterpaksaan?

Pertanyaan yang lebih jujur untuk diajukan bukan "apakah Gen Z tidak ingin punya rumah?", melainkan "apakah mereka benar-benar diberi opsi untuk membelinya?"

Fenomena Gen Z yang memilih menyewa jangka panjang (long-term renting) atau tinggal di apartemen sewa bukan semata soal preferensi gaya hidup yang lebih fleksibel, melainkan sering kali jadi jalan keluar paling realistis di tengah upah yang relatif rendah dan kenaikan harga properti yang terus berlanjut. Dengan kata lain, menyewa bukan lagi soal gaya hidup, melainkan taktik bertahan hidup secara finansial.

Merespons Krisis: KPR Tenor 40 Tahun

Di tengah persoalan struktural ini, ada satu respons kebijakan yang paling relevan dan terbaru: skema KPR tenor 40 tahun. BP Tapera memaparkan usulan ini dalam Rapat Komite Tapera di Kementerian Keuangan pada Rabu (24/6). Skema ini mempertahankan bunga tetap 5% untuk rumah tapak dan 6% untuk rumah susun, Lewat skema ini, masyarakat dengan penghasilan sekitar Rp2,8 juta per bulan diperkirakan bisa mencicil rumah di kisaran Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per bulannya.