Konten dari Pengguna

Peran CRT dalam Mempertahankan Identitas Budaya Lokal?

Aisyiyah Kusumastuti

Aisyiyah Kusumastuti

Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2023 Bahasa Jawa Unesa

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisyiyah Kusumastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Probadi/Aisyiyah Kusumastuti SMPN 40 Surabaya
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Probadi/Aisyiyah Kusumastuti SMPN 40 Surabaya

Negara Indonesia memiliki keberagaman kebudayaan yang berlimpah sehingga sebagai masyarakat Indonesia memiliki kewajiban untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Sederet kebudayaan Indonesia yang bahkan sudah dikenal dunia misalnya batik, angklung, wayang, reog, gamelan, dan masih banyak lagi. Disamping memiliki kebudayaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun, terdapat juga nilai spiritualitas yang berkembang di masing-masing daerah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa, hampir setiap daerah yang terdapat di Indonesia berkembang suatu spiritualitas lokal yang sudah dipercaya oleh masyarakat setempat. Nilai spiritualitas lokal ini bisa ditemui pada berbagai tradisi, adat istiadat dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian kearifan lokal. Adanya spiritualitas lokal ini menjadi nilai yang wajib untuk kita pertahankan agar tidak hilang tergerus zaman. Hal ini disebabkan karena nilai spiritual lokal yang ada sarat akan makna dan memiliki relevansi terhadap kehidupan modern saat ini sehingga tetap bisa dijadikan pijakan untuk masyarakat agar kehidupannya berlangsung seimbang dan harmonis. Akan tetapi, sulit di era saat ini untuk memperkenalkan generasi muda akan kearifan budaya dan nilai spiritualitas yang ada sehingga ditakutkan hal tersebut dapat luntur seiring berjalannya waktu.

Perkembangan globalisasi yang pesat berpotensi besar menyebabkan kebudayaan yang dimiliki suatu negara menjadi bias bahkan hilang. Hal ini disebabkan karena globalisasi memungkinkan terjadinya perluasan kontak budaya satu dengan budaya lainnya sehingga memperluas hubungan budaya masyarakat. Perkembangan teknologi pun mendorong proses globalisasi dimana hanya dengan mengandalkan situs internet, masyarakat dapat berinteraksi dengan banyak orang dan beragam kebudayaan di seluruh dunia, bahkan berpotensi mengikuti tren baru yang ada dibandingkan mengenal budayanya sendiri. Alhasil, perkembangan teknologi informasi yang benar-benar berkembang pesat sangat berdampak pada kebudayaan yang dimiliki oleh suatu negara. Tentu saja hal ini fenomena yang memprihatinkan ketika anak bangsa saat ini sudah mulai lupa bahkan tidak tahu menahu mengenai kebudayaan daerahnya masing-masing. Hal ini bisa dipicu oleh beberapa hal seperti meluasnya informasi yang tersebar di dunia maya sebagai dampak dari meluasnya digitalisasi sehingga anak-anak memilih kebudayaan asing dimana dianggap lebih menarik dan unik. Apabila dibiarkan begitu saja maka, bukan tidak mungkin lagi bahwa identitas budaya dan nilai spiritualitas yang ada di setiap daerah menjadi hilang.

Dok. Pribadi/Aisyiyah Kusumastuti SMPN 40 Surabaya

Mengingat permasalahan tersebut, maka dibutuhkan upaya untuk menjaga dan mempertahankan identitas budaya dan nilai spiritualitas yang dimiliki Indonesia sebagai kekayaan bangsa. Adapun untuk mempertahankan kebudayaan dan spiritualitas lokal sebagai kekayaan bangsa Indonesia, bidang pendidikan berperan penting menanamkan pentingnya menjaga kekayaan tersebut terhadap generasi muda penerus bangsa. Dalam hal ini, salah satu upaya yang bisa dilakukan terutama sebagai pendidik yaitu dengan memperkenalkan budaya-budaya yang ada sekaligus nilai spiritualitas yang terkandung di dalamnya melalui cerita rakyat. Sebagai seorang guru, kita dapat mempertahankan identitas budaya dan nilai lokal dengan mengarahkan siswa untuk membaca, mendengarkan, ataupun menonton cerita rakyat yang difilmkan.

Cerita rakyat berkembang dari rakyat sebagai suatu kisah yang dipercaya dapat memberikan nilai pengajaran baik moral maupun spiritualitas untuk anak bangsa. Cerita rakyat ini tersebar di seluruh Nusantara dimana sebagai kekayaan budaya, kita dapat menggali nilai di cerita rakyat yang menunjukkan kemajemukan identitas nasional Indonesia. Cerita rakyat yang berkembang di Indonesia seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Bawang Merah Bawang Putih, dan masih banyak lagi yang awalnya menjadi legenda di suatu daerah namun kemudian dikenal sebagai cerita rakyat Nusantara agar isi cerita yang mengandung nilai pengajaran bisa tersampaikan dengan baik ke masyarakat luas. Dalam cerita rakyat sering terkandang pesan moral misalnya saling menyayangi, suka menolong bahkan nilai spiritualitas yang perlu diyakini hingga saat ini. Dari sinilah, cerita rakyat dianggap mampu berperan dalam proses pembelajaran di sekolah untuk mempertahankan identitas kekayaan budaya di Indonesia.

Lingkup pendidikan memang menjadi media paling tepat dalam melakukan pendekatan terhadap generasi muda agar tetap mengenal budaya dan nilai spiritual yang dimiliki setiap daerah. Pada konteks pembelajaran, pengenalan cerita rakyat yang mengandung banyak identitas budaya di tiap daerah ini disebut sebagai culturally responsive teaching. Pendekatan CRT ini merupakan pembelajaran untuk memperkenalkan peserta didik terhadap suatu hal sehingga mereka mendapatkan informasi tanpa membedakan latar belakang budaya siswa. Artinya, pada pengenalan cerita rakyat, guru dapat memilih cerita rakyat secara bebas yang ada di Indonesia sehingga setiap siswa memiliki persamaan hak dalam memahami isi budaya lokal yang lokal tanpa mempertimbangkan darimana latar belakang budaya maisng-masing siswa. Metode pengejaran berbasis kultural tanpa membedakan ini sudah terbukti efektif dalam upaya mempertahankan identitas budaya yang ada di Indonesia. Hal ini disebabkan karena metode ini bisa menjadi cara secara komprehensif yang mampu menjadi bekal bagi guru dalam mengajar siswa pada lingkungan dengan keberagaman latar belakang budaya. Guru pun akan lebih memahami dan terampil tanggap budaya untuk muatan pembelajaran dengan mengupayakan terhadap lingkungan pembelajaran.

Adanya pendekatan culturally responsive teaching bisa menjadikan siswa yang memiliki latar belakang budaya minoritas untuk memiliki persamaan hak dan kesempatan dalam pengembangan kemampuan diri. Siswa pun diarahkan untuk bisa memahami budaya yang berkembang di daerah asalnya, serta bisa menghargai budaya yang dimiliki oleh orang lain. Pakar pendidikan menilai jika metode CRT ini bisa memanfaatkan pengetahuan budaya, pengalaman, juga keberagaman latar belakang siswa sehingga tercipta pengalaman belajar yang bermakna. Metode pembelajaran ini bisa menguatkan dan mempertahankan identitas budaya dari peserta didik. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru bisa menggunakan metode CRT melalui cerira rakyat dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya lokal dan spiritual lokal. Cerita rakyat sebagai salah satu kekayaan bangsa bisa menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk menguatkan identitas budaya suatu daerah juga tradisi dan adat istidat yang ada.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat dapat dijadikan media dalam pendekatan culturally responsive. Cerita rakyat yang tersebar di seluruh Nusantara ini bisa dimanfaatkan guru dalam proses pembelajaran dengan muatan lokal sehingga siswa dapat memahami budaya, tradisi, maupun adat istiadat yang ditemui dalam kisah yang diceritakan dalam cerita rakyat. Hal ini membuat siswa dapat menggali identitas kebudayaan dan nilai-nilai spiritualitas lokal yang dapat terus dipertahankan dan dilestarikan. Untuk itu, yuk perkenalkan kembali cerita rakyat ke generasi muda agar eksistensi dari budaya dan nilai spiritualitas lokal tetap terjaga.

Aisyiyah Kusumastuti, Mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2023 Program Studi Bahasa Jawa Unesa