Konten dari Pengguna

Menakar Asa di Balik Anggaran Rp8,6 Miliar Jalan Simpang Sepaku–Perigi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tri Atmoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengerjaan proyek jalan simpang sepaku perigi (foto/Rizky.Mahodenk)
zoom-in-whitePerbesar
Pengerjaan proyek jalan simpang sepaku perigi (foto/Rizky.Mahodenk)

Infrastruktur jalan yang mantap bukan lagi sekadar pelengkap fasilitas publik, melainkan urat nadi utama yang menggerakkan roda perekonomian dan kesejahteraan masyarakat daerah. Di Kabupaten Lamandau, komitmen ini kembali diuji lewat proyek peningkatan kualitas ruas Jalan Simpang Sepaku-Perigi di Kecamatan Bulik yang menelan anggaran daerah fantastis sebesar Rp8,6 miliar.

Bagi masyarakat lokal, jalan sepanjang total 15,5 kilometer ini sudah lama menjadi sorotan publik .Sebelum adanya kucuran dana jumbo ini, titik-titik kerusakan parah kerap menghambat mobilitas warga dan logistik. Keterlibatan belasan perusahaan swasta di sekitar wilayah tersebut untuk membantu perbaikan darurat di masa lalu menunjukkan betapa krusialnya jalur ini bagi perputaran ekonomi regional .Langkah Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPR-Perkim) Lamandau untuk mengakselerasi pelebaran jalan saat ini patut diapresiasi .

Namun, di balik optimisme konektivitas yang digaungkan oleh Bupati Lamandau , ada tantangan nyata yang harus dikawal bersama,kualitas dan transparansi.

Masyarakat Lamandau tentu belum lupa dengan riwayat pengerjaan infrastruktur di kawasan sekitar, seperti kasus Jalan Perigi-Melata yang sempat mencuat dan dilaporkan ke lembaga pengawas akibat dugaan ketidaksesuaian volume proyek . Rekam jejak tersebut harus menjadi alarm keras bagi Pemkab Lamandau agar pengawasan terhadap kontraktor jalan Simpang Sepaku-Perigi diperketat secara berlapis. Anggaran Rp8,6 miliar bukanlah nilai yang sedikit bagi kapasitas keuangan daerah. Setiap rupiahnya harus menjelma menjadi aspal berkualitas tinggi, bukan sekadar timbunan rapuh yang hancur dalam hitungan bulan akibat hantaman truk bermuatan berat.

Pembangunan bertahap yang disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah mengharuskan kita semua untuk bersabar . Sembari menoleransi sedikit kemacetan dan debu selama proses konstruksi berlangsung, masyarakat juga wajib memosisikan diri sebagai pengawas independen di lapangan.Jika proyek peningkatan jalan ini berjalan jujur, transparan, dan sesuai spesifikasi baku, maka jalan Simpang Sepaku-Perigi akan sukses memangkas biaya logistik serta menaikkan taraf hidup warga lokal secara permanen.

Sebaliknya, kelalaian dalam pengawasan hanya akan mengulang siklus perbaikan semu yang merugikan uang rakyat. Mari kawal bersama, demi Lamandau yang terkoneksi dengan kokoh.