Konten dari Pengguna

Doomscrolling: Kenapa "Cuma Satu Scroll Lagi" Bikin Kita Makin Cemas?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Fadillah Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kebiasaan Doomscrolling. Sumber: AI Generated (OpenAI).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kebiasaan Doomscrolling. Sumber: AI Generated (OpenAI).

Pernah berniat membuka media sosial hanya lima menit, tetapi berakhir hampir satu jam membaca berita tentang kecelakaan, konflik, krisis ekonomi, kekacauan politik, hingga berbagai informasi lainnya? Rasanya sulit untuk berhenti. Selalu ada dorongan untuk melihat satu unggahan lagi, satu berita lagi, atau satu video lagi. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dikenal sebagai doomscrolling.

Istilah doomscrolling merujuk pada kebiasaan menggulir media sosial atau portal berita secara terus-menerus untuk mengonsumsi informasi yang didominasi oleh kabar negatif. Fenomena ini semakin sering terjadi seiring meningkatnya penggunaan media digital yang membuat informasi tersedia selama 24 jam tanpa henti.

Kenapa Otak Sulit Berhenti?

Salah satu penyebabnya adalah cara kerja otak manusia. Dalam psikologi, terdapat konsep negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberi perhatian lebih besar pada informasi yang bersifat negatif atau sensasional dibandingkan berita positif, serta lebih mudah menarik perhatian masyarakat karena mengandung perasaan negatif seperti marah dan takut. Kebutuhan untuk merasa aman dan memiliki kendali sering kali membuat seseorang menghabiskan waktu yang lama untuk mencari informasi dan berita tambahan, meskipun sebagian besar isinya bersifat negatif.

Faktanya, kebiasaan sering mencari dan membaca informasi terus-menerus, terutama di media sosial, bisa membuat seseorang merasa tertekan atau tidak nyaman. Menariknya, meskipun sebagian orang menyadari bahwa kegiatan ini berdampak negatif pada suasana hati mereka, mereka masih terus membaca satu per satu artikel dan merasa sulit untuk berhenti mengonsumsi informasi yang justru membuat mereka semakin stres dan cemas.

Doomscrolling juga didorong oleh Fear of Missing Out (FOMO), di mana kecemasan tertinggal informasi memicu konsumsi berita negatif tanpa henti. Bukan malah membantu mengurangi stres, orang yang terjebak dalam kebiasaan ini justru menghabiskan lebih banyak waktu di platform digital, semata-mata berharap bisa memperbaiki suasana hati. Banyak orang merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak tertinggal informasi. Padahal, membaca berita yang sama dari berbagai sumber belum tentu memberikan pemahaman yang lebih baik.

Sebaliknya, kebiasaan tersebut justru dapat membuat pikiran terus berada dalam mode waspada. Tidak sedikit orang yang mengalami kesulitan tidur, sulit berkonsentrasi, hingga merasa emosinya lebih mudah terganggu setelah menghabiskan waktu terlalu lama membaca berita negatif.

Tetap Terinformasi Tanpa Terjebak Doomscrolling

Mengurangi doomscrolling bukan berarti menutup diri dari informasi. Yang dibutuhkan adalah cara mengonsumsi informasi yang lebih sehat. Misalnya, menetapkan waktu khusus untuk membaca berita, membatasi durasi penggunaan media sosial, serta memilih sumber informasi yang kredibel daripada terus berpindah dari satu unggahan ke unggahan lain.

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga. Beristirahat dari layar bukan berarti menjadi tidak peduli terhadap keadaan sekitar, melainkan memberi ruang bagi pikiran untuk tetap sehat.

Di era ketika informasi terus berdatangan tanpa jeda, kemampuan untuk berhenti menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencari informasi. Menjadi warga digital yang baik bukan hanya soal selalu mengikuti berita terbaru, tetapi juga menjaga kesehatan mental agar tidak tenggelam dalam arus informasi yang tak berujung.

Mungkin memang hanya "satu scroll lagi". Namun, jika tidak disadari, satu scroll itu bisa berubah menjadi satu jam, satu malam, atau bahkan kebiasaan yang perlahan menguras ketenangan.