Konten dari Pengguna

Mengapa Ormas Tak Boleh Jadi Landasan Beragama?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini dibuat penulis dengan ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini dibuat penulis dengan ai

Kehadiran organisasi masyarakat (ormas) keagamaan di Indonesia memiliki rekam jejak sejarah yang panjang dan kontribusi yang tidak kecil. Mulai dari bidang pendidikan, sosial, kesehatan, hingga pergerakan kemanusiaan, ormas hadir memperkuat sendi-sendi kebangsaan. Namun, dinamika sosial hari ini menunjukkan batas yang kian kabur antara wadah berorganisasi dan hakikat beragama itu sendiri.

Tidak jarang, ketaatan pada nilai-nilai agama bergeser menjadi fanatisme terhadap kelompok tertentu. Identitas kelompok diposisikan seolah-olah sebagai standar tunggal kebenaran. Pertanyaannya kemudian: Mengapa ormas tidak boleh dijadikan landasan utama dalam beragama?

Bukan sekadar asumsi, tren penguatan identitas kelompok ini terekam dalam berbagai riset sosial. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta menunjukkan bahwa tingkat intoleransi dan fanatisme sektarian di tingkat masyarakat masih menjadi tantangan serius. Riset tersebut mencatat lebih dari 50% responden memiliki kecenderungan sikap intoleran terhadap kelompok keagamaan yang berbeda pandangan atau paham dengannya.

Selain itu, temuan Setara Institute dalam laporan kebebasan beragama dan berkeyakinan menegaskan bahwa segregasi sosial yang dipicu oleh fanatisme kelompok sering kali bermula dari narasi eksklusif yang dibangun di internal organisasi. Ketika instruksi atau dogma internal ormas dianggap lebih mengikat dibanding prinsip-prinsip inklusivitas ajaran agama, bentrokan antarkelompok hingga gesekan di akar rumput menjadi sulit dihindari.

Secara mendasar, agama memuat ajaran universal tentang keimanan, ketakwaan, moralitas, dan kemanusiaan. Agama bersumber dari kitab suci dan nilai-nilai ketuhanan yang bersifat transendental. Sementara itu, ormas keagamaan adalah organisasi sosiopolitik atau wadah kemasyarakatan yang didirikan oleh manusia untuk mencapai tujuan sosial tertentu.

Membuat ormas sebagai landasan beragama sama saja dengan menukar hal yang substantif dengan instrumen penunjangnya. Ormas hanyalah sarana atau wadah (means), sedangkan ketaatan kepada Tuhan dan budi pekerti luhur adalah tujuannya (ends). Ketika wadah dianggap lebih penting daripada isi, esensi beragama justru berisiko terabaikan.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal dengan istilah in-group favoritism, yaitu kecenderungan untuk memprioritaskan dan menganggap kelompok sendiri paling benar, sembari memandang miring kelompok lain.

Jika seseorang menggantungkan seluruh pemahaman keagamaannya hanya pada narasi tunggal satu ormas tanpa menguji nilai-nilainya secara rasional dan spiritual, ia berisiko kehilangan kemandirian dalam berpikir. Agama mengajarkan kedamaian dan persaudaraan universal, tetapi fanatisme kelompok yang berlebihan justru melahirkan sekat-sekat pemisah yang memecah belah warga negara.

Ketika ketaatan beragama disandarkan sepenuhnya pada instruksi atau faham satu ormas, potensi lahirnya fanatisme sektarian (in-group favoritism) menjadi sangat tinggi. Fenomena ini kerap memicu klaim kebenaran tunggal (truth claim), di mana kelompok sendiri dianggap paling benar, sedangkan kelompok lain dipandang keliru atau bahkan memusuhi.

Kondisi ini berpotensi mengikis rasa persaudaraan sesama umat dan sesama warga negara. Padahal, pluralisme pandangan dalam ranah keagamaan adalah hal yang lumrah dan wajar. Agama mengajarkan kedamaian, tetapi fanatisme kelompok yang berlebihan justru dapat melahirkan sekat-sekat pemisah di tengah masyarakat.

Beragama membutuhkan kesadaran pribadi, pencarian makna, dan pemikiran yang kritis. Jika seseorang menggantungkan seluruh pemahaman keagamaannya hanya pada narasi tunggal satu ormas tanpa menguji nilai-nilainya secara rasional dan spiritual, ia berisiko kehilangan kemandirian dalam berpikir.

Nilai-nilai kebajikan, toleransi, serta kasih sayang harus tetap menjadi pemandu utama dalam berinteraksi. Ormas dapat memberikan panduan sosial atau ruang beramal, namun nurani dan akal sehat setiap individu tetap menjadi benteng utama dalam menjalankan ajaran agama.

Menegaskan bahwa ormas bukan landasan beragama bukan berarti menafikan peran penting yang dimilikinya. Ormas tetaplah pilar penting dalam memperdayakan masyarakat dan membangun bangsa. Namun, porsi dan fungsinya harus diletakkan secara proporsional.

Jadikan agama sebagai fondasi moral dan spiritual, sedangkan ormas dijadikan sebagai wadah bergotong-royong dalam kebaikan. Dengan mendudukkan keduanya pada porsi yang tepat, kita tidak hanya menjadi pemeluk agama yang matang, tetapi juga warga negara yang dewasa dan bijaksana.