Satu Klenteng, Tiga Ajaran: Mengenal Cerita di Balik Liong Hok Bio

Mahasiswa Program Studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Lady Mercy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau mendengar kata klenteng, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kalian? Mungkin bangunan berwarna merah, ornamen naga, atau patung-patung yang menghiasi tempat ibadahnya. Namun, pernahkah terpikir bahwa dalam satu klenteng terdapat tiga ajaran kepercayaan yang hidup berdampingan? Hal tersebut bisa kita temukan di Klenteng Liong Hok Bio, salah satu tempat ibadah yang berada di Kota Magelang, Jawa Tengah.
Klenteng Liong Hok Bio bukan bangunan yang baru berdiri beberapa tahun terakhir, tetapi punya cerita perjalanan di baliknya. Awal mulanya, di Tiongkok terjadi perang saudara yang berlarut-larut yang membuat etnis Tionghoa bermigrasi ke penjuru dunia. Sempat berpindah ke Batavia, tetapi terjadi Geger Pecinan yang membuat etnis Tionghoa berpindah ke Desa Jono, Kutoarjo. Setelah menetap dan berkeluarga di sana, kemudian terjadi Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, karena etnis Tionghoa merasa trauma dengan peristiwa Geger Pecinan, tahun 1826 berpindah ke Magelang karena dirasa merupakan wilayah yang aman.
Tanah untuk bangunan ini merupakan hasil hibah dari Kapitein Tjok Lok untuk pembangunan klenteng. Dihibahkan karena melihat semakin banyak umat yang beribadah. Setelah melalui proses pembangunan, klenteng ini kemudian diresmikan tahun 1864.
Nama Liong Hok Bio ternyata bukan hanya sekadar nama, ada makna di baliknya. Kata Liong berarti megah, Hok berarti keberuntungan, sedangkan Bio dimaksud sebagai tempat ibadah. Selain itu, warna ikonik merah pada klenteng bermakna kebahagiaan dan kuning bermakna kekayaan. Nama dan warna klenteng tersebut seolah menggambarkan harapan dan makna yang melekat pada tempat ini.
Perjalanan Liong Hok Bio juga tidak selalu berjalan mulus. Pada 16 Juli 2014 sekitar pukul 00.30 dini hari, kebakaran melanda bangunan klenteng yang sebagian besar menggunakan material kayu. Setelah mengalami kerusakan, bangunan klenteng kemudian dibangun kembali dan selesai pada tahun 2018. Dari sini, kita bisa melihat bahwa Liong Hok Bio bukan hanya bangunan yang memiliki cerita sejarah, tetapi juga tempat yang punya perjalanan panjang untuk tetap bertahan.
Lalu, apa yang membuat klenteng ini menarik untuk kita kenali lebih jauh? Salah satunya adanya keberadaan tiga ajaran kepercayaan yang dikenal sebagai Tridharma, yaitu Budha, Khonghucu, dan Taoisme. Ketiganya memiliki penekanan yang berbeda, tetapi dapat dijalankan berdampingan dalam satu tempat ibadah.
Pak Gunawan, Wakil Ketua Harian Klenteng Liong Hok Bio menjelaskan bahwa ajaran Budha lebih menekankan pada pengembangan diri dan batin, seperti meditasi. Sementara itu, Khonghucu mengajarkan bagaimana berbuat baik dengan sesama manuisa. Berbeda lagi dengan Taoisme yang banyak berkaitan dengan alam.
Keberadaan ajaran Tridharma ini ternyata bisa kita lihat dari perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia. Ketika kebebasan budaya dan keagamaan masyarakat Tionghoa dibatasi, mereka memiliki cara untuk tetap bisa beribadah. Klenteng menginduk pada Budha, inilah cara agar kegiatan peribadatan tetap bisa berlangsung. Tetapi, hal ini berubah ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut pembatasan terhadap kegiatan, kepercayaan Tionghoa. Akhirnya, mereka tidak takut lagi untuk mengakui sebagai identitas pemeluk Khonghucu.
Setelah cerita tentang tiga ajaran, bagian bangunan klenteng juga menyimpan makna yang menarik untuk kita ketahui. Salah satu yang menarik dan mudah dikenali adalah pintu klenteng, yang bisa kita lihat dari tampak depan. Klenteng ini memiliki tiga pintu, pintu sebelah kanan bergambar naga, sebelah kiri bergambar macan, dan di lengkapi satu pintu tengah. Keduanya bukan hanya hiasan saja, punya makna di baliknya. Naga sebagai pelindung dan macan melambangkan keselamatan.
Menariknya, ada juga cara melalui pintu ini, pintu naga untuk masuk ke dalam klenteng dan pintu macan untuk keluar dari klenteng, terus bagaimana dengan pintu tengah? pintu tengah digunakan untuk keperluan jika ada kegiatan besar dilaksanakan. Nah, ternyata ditutupnya pintu tengah punya maksud tertentu. Dahulu masyarakat Tiongkok yang hanya boleh pergi ke klenteng adalah para kaisar, masyarakat biasa lainnya yang ingin beribadah harus melewati pintu di kanan kirinya. walaupun saat ini bukan zamannya kaisar lagi, cerita yang dipercaya ini untuk menghormati budaya Tiongkok, karena mereka sangat menghormati budaya leluhurnya.
Setelah mengenal cerita di dalamnya, kita bisa melihat bahwa Klenteng Liong Hok Bio menyimpan cerita yang jauh lebih luas daripada bentuk bangunannya. Hal yang menarik bukan hanya keberadaan tiga ajaran dalam satu tempat, tetapi bagaimana cerita, budaya, dan kepercayaan dapat saling berdampingan. Mengunjungi tempat seperti ini mengingatkan kita bahwa mengenal sebuah bangunan tidak cukup hanya dengan melihat bentuk fisiknya. Ada cerita dan nilai yang perlu dipahami agar kita bisa lebih menghargai keberadaannya.
