Belajar Tanam Mangrove ala Prodi Perikanan Laut Tropis PSDKU Unpad Pangandaran

Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. adalah dosen FPIK Unpad di bidang ekologi perairan dan konservasi laut. Ia aktif dalam penelitian, publikasi ilmiah, serta pengembangan ekowisata berbasis konservasi demi keberlanjutan ekosistem.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari LADY AYU SRI WIJAYANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di pesisir Pantai Jembatan Wiradinata Ranggajipang, Pangandaran, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Perikanan Laut Tropis (HIMATROPS) PSDKU Universitas Padjadjaran menggelar aksi peduli lingkungan bertajuk PELAGIS. Kegiatan edukasi ini melibatkan sekitar 50 peserta yang antusias menanam mangrove muda sebagai upaya rehabilitasi pesisir sekaligus pembelajaran ilmiah. Dengan semangat “learning by doing”, para generasi muda diajak langsung merasakan proses penanaman mangrove di habitat aslinya, lengkap dengan penjelasan metode ilmiah di balik setiap langkahnya. Hasilnya, bukan hanya bibir pantai yang kian hijau, tetapi juga tumbuh kesadaran baru akan pentingnya ekosistem mangrove di benak para peserta.

Alat dan Bahan Penanaman Mangrove Muda secara Ilmiah
Pada kegiatan ini, HIMATROPS memperkenalkan alat dan bahan yang digunakan dalam penanaman mangrove secara ilmiah. Seluruh peralatan dijelaskan fungsinya agar peserta memahami mengapa setiap komponen diperlukan. Berikut adalah alat dan bahan utama yang disiapkan:
Batang Penopang Runcing (Ajir Bambu): Batang bambu yang diraut tajam pada salah satu ujungnya berfungsi sebagai ajir atau penopang bibit mangrove. Panjang bambu disesuaikan dengan kedalaman lumpur di lokasi tanam. Batang penopang ini nantinya ditancapkan di dekat bibit untuk menandai titik tanam dan menjadi penyangga bibit. Penggunaan ajir bambu efektif sebagai penanda agar posisi penanaman tersusun rapi sekaligus memudahkan perhitungan tingkat kelulushidupan bibit saat monitoring. Secara ekologis, bambu dipilih karena bahan ini alami, kuat, dan akan terurai seiring waktu sehingga tidak meninggalkan sampah di lingkungan.
Tali Ramah Lingkungan (Goni/Jute): Tali dari serat alami seperti goni digunakan untuk mengikat bibit mangrove pada ajir. Berbeda dari tali plastik, tali goni bersifat biodegradable (mudah terurai) sehingga tidak mencemari lingkungan pantai. Tali ini cukup kuat menahan bibit muda pada tempatnya, namun akan melapuk setelah beberapa bulan, seiring bibit mangrove tumbuh mandiri. Fungsi pengikatan ini dijelaskan lebih lanjut pada sesi berikut.
Bibit Mangrove dalam Polybag: Bibit mangrove berusia sekitar 4–5 bulan disiapkan dalam polybag berisi media tanam lumpur. Bibit tersebut sudah memiliki akar dan beberapa helai daun, sehingga siap dipindahkan ke habitat aslinya. Metode menggunakan bibit hasil pembibitan ini dipilih karena tingkat keberhasilan tumbuhnya jauh lebih tinggi (sekitar 60–80%) dibanding menanam propagul (benih/buah mangrove) secara langsung di alam yang hanya sekitar 20–30%. Sebelum penanaman, polybag plastik biasanya dilepas dengan hati-hati agar akar bibit tidak rusak. Pada kegiatan ini, peserta diperkenalkan cara memilih bibit sehat – batang tegak, akar cukup, dan bebas hama – sebagai bahan tanam ideal.
Peralatan Pendukung Lainnya: Beberapa peralatan lain yang turut digunakan antara lain sekop tangan kecil atau tugal (alat pembuat lubang tanam dari kayu/bambu), sarung tangan karet, serta alas kaki khusus (kaos kaki tebal atau sepatu boot) untuk keamanan di lahan berlumpur. Sekop atau tugal berguna membantu menggali lubang tanam yang cukup dalam agar akar bibit tertanam sempurna. Adapun sarung tangan dan alas kaki melindungi peserta dari benda tajam atau fauna kecil di lumpur selama proses penanaman.
Fungsi Batang Penopang dan Pengikatan Bibit di Lahan Berlumpur
Salah satu pengetahuan penting yang ditekankan dalam edukasi ini adalah fungsi batang penopang (ajir) dan teknik pengikatan bibit mangrove pada lahan berlumpur. Pantai berlumpur tempat mangrove tumbuh biasanya dipengaruhi pasang surut air laut. Arus pasang dan ombak dapat menjadi tantangan bagi bibit mangrove muda yang baru ditanam – bibit bisa roboh atau bahkan hanyut terbawa air jika tidak ditopang dengan baik.
Batang penopang yang ditancapkan di samping bibit berperan menjaga posisi bibit tetap tegak dan stabil. Bibit mangrove diikat pada ajir menggunakan tali dengan simpul erat namun tidak merusak batang tanaman. Pengikatan ini bertujuan agar bibit tidak hanyut tersapu ombak atau air pasang. Tali akan menambatkan bibit pada ajir sampai akar-akarnya cukup kuat mencengkeram tanah. Selain mencegah bibit terlepas, ajir juga membantu bibit muda menghadapi tiupan angin kencang serta mengurangi risiko kerusakan mekanis (misal tertimpa sampah hanyut).
Fungsi lain dari ajir adalah sebagai penanda lokasi tiap bibit. Dalam penanaman massal, ajir membantu pengaturan jarak tanam yang seragam (misalnya pola grid 1 x 1,5 meter antar bibit). Pola teratur ini memudahkan panitia untuk memonitor pertumbuhan setiap pohon mangrove ke depannya. Ketika waktu monitoring tiba, ajir-ajir yang masih ada akan memudahkan tim menemukan kembali posisi bibit, menghitung berapa yang hidup, serta melakukan pemeliharaan lanjutan jika diperlukan. Secara keseluruhan, penggunaan batang penopang dan tali pengikat merupakan teknik ilmiah sederhana yang signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup mangrove muda di lingkungan pantai yang dinamis.
Proses Penanaman Mangrove Muda: Langkah Demi Langkah
Setelah memahami alat dan fungsinya, para peserta PELAGIS diajak mempraktikkan proses penanaman mangrove muda secara langsung. Dengan bimbingan mahasiswa HIMATROPS, mereka mengikuti tahapan ilmiah berikut ini:
Menentukan Titik Tanam: Peserta lebih dulu menentukan titik-titik penanaman di area pesisir berlumpur yang telah dipilih. Penentuan mempertimbangkan jarak antar tanaman agar tidak terlalu rapat. Pada tiap titik, batang penopang bambu ditancapkan ke dalam lumpur hingga kokoh sebagai penanda lokasi bibit.
Membuat Lubang Tanam: Di samping setiap ajir yang sudah ditancapkan, dibuat lubang tanam. Lubang ini bisa digali menggunakan sekop kecil atau langsung dengan menekan ajir ke tanah (fungsi tugal). Lubang dibuat cukup dalam agar akar bibit mangrove dapat tertanam seluruhnya dan terlindung oleh tanah. Idealnya, kedalaman lubang menyesuaikan panjang perakaran bibit plus beberapa sentimeter ekstra untuk memastikan akar tertutup sempurna.
Menyiapkan Bibit Mangrove: Bibit mangrove dikeluarkan hati-hati dari polybag. Polybag plastik biasanya disobek atau dilepas agar media tanah di sekitar akar tetap menyatu dan tidak pecah. Peserta memastikan tidak ada akar yang terputus atau tertekuk. Bibit yang siap tanam ditandai dengan batang tegap dan sedikitnya dua pasang daun sehat.
Menanam Bibit ke dalam Lubang: Bibit mangrove kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan. Posisi bibit diatur tegak lurus, dengan akar tertanam seluruhnya di dalam lumpur. Jika bibit merupakan jenis Rhizophora sp., bagian propagul memanjang yang menyerupai batang bawahnya juga ikut terkubur hingga mendekati pangkal daun. Langkah ini penting untuk memastikan akar mangrove langsung kontak dengan tanah lembap sehingga bibit dapat mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Menimbun dan Memadatkan Lumpur: Setelah bibit ditempatkan, peserta menimbun kembali lubang dengan tanah/lumpur yang tadi digali. Lumpur ditutupkan mengelilingi pangkal bibit hingga padat. Penimbunan dilakukan tanpa menekan terlalu keras agar akar tidak rusak, namun cukup untuk menghilangkan rongga udara di sekitar akar. Bibit yang tertanam kokoh akan lebih tahan dari guncangan arus air.
Mengikat Bibit ke Batang Penopang: Tahap terakhir, batang bibit diikat pada ajir bambu menggunakan tali goni yang telah disediakan. Ikatan dibuat pada bagian bawah batang mangrove (dekat pangkal) dengan simpul mati yang kuat. Pengikatan tidak terlalu kencang untuk menghindari gesekan berlebih pada kulit batang, namun cukup menjaga bibit melekat pada penopangnya. Setelah semua bibit terikat, penanaman pun selesai. Beberapa peserta secara simbolis menyiram bibit yang telah ditanam dan berharap tanaman mangrove tersebut dapat tumbuh berkembang menjadi hutan mangrove dewasa yang lebat.
Seluruh langkah di atas dilakukan pada saat air laut surut. Pemilihan waktu tanam ini agar area mangrove sementara dalam kondisi kering atau hanya tergenang dangkal, sehingga peserta leluasa bergerak tanpa tergulung ombak. Selain itu, penanaman saat surut memberi kesempatan bibit untuk berdiri tegak selama beberapa jam pertama sebelum nanti terendam pasang, sehingga memperbesar peluang bibit untuk beradaptasi.
Usai penanaman, panitia menjelaskan perlunya pemantauan (monitoring) rutin. Minggu-minggu awal merupakan masa krusial; jika ada bibit yang mati atau hilang, penyulaman (penanaman pengganti) sebaiknya segera dilakukan. Peserta diajak berdiskusi tentang tantangan ke depan, seperti serangan hama (misal kepiting pemotong mangrove) atau sampah yang tersangkut, dan bagaimana solusi mengatasinya. Dengan demikian, kegiatan ini tak hanya menanam mangrove secara fisik, tetapi juga menanam pengetahuan dan rasa tanggung jawab pada generasi muda.
Jenis Mangrove yang Ditanam di Pangandaran
Pangandaran merupakan kawasan pesisir yang kaya akan keanekaragaman mangrove. Di lokasi penanaman yang berupa tanah berlumpur dekat muara sungai, jenis mangrove yang dipilih adalah keluarga bakau (Rhizophora sp.). Secara ilmiah, Rhizophora memang paling cocok ditanam di substrat lumpur halus dan daerah pasang surut seperti di Pangandaran. Jenis bakau ini memiliki ciri khas akar tunjang (akar penyangga) yang besar dan menjulang di sekitar batang, membantu tanaman berdiri kokoh di tanah yang lunak. Di samping itu, pertumbuhan Rhizophora di pesisir Pangandaran terbukti sangat baik dan jenis ini mudah diperbanyak melalui propagul (buah berkecambah) yang jatuh dari pohonnya. Tak heran jika Rhizophora menjadi spesies dominan dalam program rehabilitasi mangrove oleh masyarakat di Pangandaran.
Pada kegiatan HIMATROPS ini, bibit yang digunakan adalah Rhizophora mucronata (bakau hitam) atau Rhizophora apiculata (bakau minyak), dua spesies bakau umum di Jawa. Kedua spesies ini sama-sama memiliki propagul berbentuk silindris panjang berwarna hijau kecoklatan. Bibit dalam polybag yang dibawa peserta terlihat berupa batang panjang sekitar 30–50 cm dengan beberapa daun di pucuknya – karakteristik yang sesuai dengan bibit Rhizophora. Selain Rhizophora, sebenarnya ekosistem mangrove Pangandaran juga dihuni jenis lain seperti Api-api (Avicennia spp.) dan Pedada (Sonneratia spp.), terutama di tepi pantai berpasir atau area lebih darat. Namun, untuk penanaman di area berlumpur terbuka seperti sekitar Jembatan Ranggajipang, bakau Rhizophora adalah pilihan paling tepat karena kemampuannya beradaptasi pada lumpur dan perakarannya yang kuat menahan terjangan air.
Dengan mengetahui jenis mangrove yang ditanam, peserta juga diajak memahami peran masing-masing jenis dalam ekosistem. Misalnya, bakau Rhizophora nantinya akan tumbuh menjulang dan membentuk forest canopy yang rapat, menjadi habitat berbagai satwa, sementara jenis api-api biasanya tumbuh di bagian depan yang lebih dekat laut untuk menahan gelombang pertama. Kombinasi berbagai jenis mangrove inilah yang idealnya membentuk ekosistem hutan mangrove pantai yang utuh dan sehat.
Manfaat Ekologis Mangrove dan Pentingnya Edukasi Lingkungan bagi Generasi Muda
Di sela kegiatan, HIMATROPS Unpad juga memberikan pemahaman kepada peserta mengenai manfaat ekologis hutan mangrove yang mereka tanam. Hal ini penting agar aksi tanam mangrove tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar berbekas di hati para generasi muda sebagai motivasi untuk terus melestarikannya. Beberapa poin manfaat mangrove yang disampaikan antara lain:
Mencegah Abrasi dan Bencana Pesisir: Hutan mangrove ibarat sabuk hijau pelindung pantai. Akar-akar mangrove yang rapat mampu menahan laju gelombang, sehingga mencegah pengikisan pantai (abrasi). Mangrove juga mengurangi dampak intrusi air laut ke daratan. Bahkan, pada kejadian ekstrem seperti tsunami atau badai, hutan mangrove dapat meredam energi gelombang sehingga mengurangi kerusakan yang terjadi di wilayah belakangnya.
Habitat dan Sumber Kehidupan Biota Laut: Wilayah akar mangrove yang tergenang air menjadi tempat berlindung dan pemijahan bagi berbagai biota, seperti ikan, udang, kepiting, dan moluska. Hutan mangrove sering disebut nursery ground (tempat pembesaran alami) bagi ikan dan kepiting muda. Dengan demikian, keberadaan mangrove ikut menopang mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada perikanan. Secara tidak langsung, menanam satu pohon mangrove berarti ikut mendukung kelestarian stok ikan di laut.
Menyerap Karbon dan Menyediakan Oksigen: Mangrove merupakan salah satu ekosistem paling produktif di bumi. Pohon mangrove mampu menyerap karbon 4–5 kali lebih besar dibanding hutan daratan dengan luas sama. Karbon yang disimpan di biomassa dan sedimen mangrove membantu mengurangi gas rumah kaca di atmosfer, sehingga berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Selain itu, seperti halnya tumbuhan hijau lain, mangrove menghasilkan oksigen melalui fotosintesis yang bermanfaat bagi makhluk hidup.
Menjaga Kualitas Lingkungan Pesisir: Rimbunnya mangrove membantu menyaring polutan dan limbah yang terbawa aliran sungai sebelum mencapai laut. Sedimen yang mengandung lumpur atau logam berat terperangkap di akar mangrove sehingga air yang keluar ke laut lebih bersih. Mangrove juga memecah ombak, membuat air di kawasan itu lebih tenang dan jernih, yang kemudian memungkinkan tumbuhnya padang lamun dan terumbu karang di sekitarnya secara lebih optimal.
Setelah memahami berbagai manfaat tersebut, para peserta PELAGIS diharapkan tidak hanya berhenti pada menanam, namun juga menjadi duta konservasi mangrove di komunitasnya masing-masing. Edukasi lingkungan sejak dini, seperti yang dilakukan HIMATROPS ini, berperan penting menumbuhkan generasi yang peduli alam. Generasi muda diajak terlibat langsung agar mereka merasakan pengalaman nyata merawat bumi. Penanaman mangrove menjadi media pembelajaran efektif karena melalui kegiatan nyata seperti ini, keterlibatan emosional peserta ikut terbangun – mereka tidak lagi sebatas penonton, melainkan pelaku – sehingga kemungkinan untuk terus terlibat dalam menjaga lingkungan pun meningkat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan PELAGIS untuk mencetak calon-calon ilmuwan dan pegiat konservasi yang memiliki pengetahuan sekaligus kepedulian tinggi.
Kegiatan penanaman mangrove oleh mahasiswa HIMATROPS Unpad di Pangandaran ini menyuguhkan kombinasi yang ideal antara aksi nyata dan edukasi ilmiah. Dengan metode penanaman yang terarah dan partisipasi aktif generasi muda, hasil yang dicapai tidak hanya terlihat pada bertambahnya tutupan hijau di pesisir, tetapi juga pada pola pikir para pesertanya. Mereka pulang dengan tangan penuh lumpur, namun hati yang kian hijau – tertanam rasa tanggung jawab untuk terus menjaga kelestarian mangrove dan lingkungan pesisir. Semoga inisiatif positif semacam ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi komunitas lainnya, karena masa depan mangrove dan ekosistem pesisir Indonesia berada di tangan generasi penerus yang teredukasi dan peduli.
