Konten dari Pengguna

Penanaman Vegetasi Pantai dan Pelepasliaran Tukik di Legokjawa Pangandaran

LADY AYU SRI WIJAYANTI

LADY AYU SRI WIJAYANTI

Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. adalah dosen FPIK Unpad di bidang ekologi perairan dan konservasi laut. Ia aktif dalam penelitian, publikasi ilmiah, serta pengembangan ekowisata berbasis konservasi demi keberlanjutan ekosistem.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari LADY AYU SRI WIJAYANTI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangandaran, 05 Agustus 2025 – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat (DKP Jabar) menggelar kegiatan penanaman vegetasi pantai dan pelepasliaran tukik penyu di Pantai Legokjawa, Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, pada Selasa, 5 Agustus 2025. Kegiatan konservasi pesisir yang berlangsung di Gedung Informasi Center Pantai Legokjawa tersebut melibatkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, TNI AL, dan komunitas masyarakat, termasuk partisipasi aktif PSDKU Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran.

Gambar 1. Foto Bersama Peserta Kegiatan di Pantai Legokjawa. Perwakilan instansi pemerintah, TNI AL, akademisi, dan masyarakat berfoto bersama seusai kegiatan penanaman vegetasi pantai dan pelepasliaran tukik. (Dokumentasi pribadi)

Latar Belakang: Program konservasi pesisir ini merupakan bagian dari salah satu program DKP Jabar dalam pengelolaan ekosistem laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan, serta konservasi sumber daya hayati kelautan dan perikanan. Fokus program tersebut diwujudkan antara lain melalui upaya menjaga dan meningkatkan kualitas ekosistem pesisir dengan penanaman vegetasi di kawasan pantai. Kegiatan di Pantai Legokjawa merupakan implementasi konkrit program tersebut, diinisiasi oleh Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan DKP Jabar, yang mengundang berbagai pemangku kepentingan untuk turut berpartisipasi. Acara dimulai pukul 15.30 WIB dengan agenda meliputi sosialisasi konservasi, penanaman bibit vegetasi pantai secara simbolis maupun gotong royong, serta pelepasliaran tukik penyu ke habitat alami laut.

Pelaksanaan Kegiatan: Kegiatan konservasi di Pantai Legokjawa dihadiri sekitar 30 peserta undangan dari berbagai instansi dan komunitas. Hadir di antaranya perwakilan Pangkalan TNI AL, Cabang Dinas Kehutanan Provinsi (Wilayah VII Ciamis), Dinas Kelautan Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pangandaran, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pangandaran, Dinas Pariwisata Pangandaran, Satuan Polisi Air Polres Pangandaran, pemerintah Kecamatan Cimerak dan Desa Legokjawa, serta kelompok masyarakat konservasi setempat (Kelompok Konservasi Cinta Bahari dan Pokmaswas Camar Laut). Dari kalangan pendidikan tinggi, delegasi PSDKU Unpad Pangandaran dan Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Pangandaran turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

PSDKU Unpad Pangandaran sendiri menyambut baik inisiatif konservasi ini dengan mengirimkan tim dosen dan mahasiswa. Delegasi PSDKU Unpad dipimpin oleh Lantun Paradhita Dewanti, S.Pi., M.E.P., selaku Ketua Program Studi Perikanan Laut Tropis, didampingi dosen Nora Akbarsyah, S.Pi., M.Si. dan Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. Penugasan resmi para dosen tersebut telah diterbitkan melalui Surat Tugas oleh Direktur PSDKU Unpad Pangandaran, sebagai bentuk dukungan institusi terhadap program konservasi pesisir ini. Selain dosen, sejumlah mahasiswa Program Perikanan Laut Tropis PSDKU Unpad Pangandaran juga turut hadir dan terlibat dalam penanaman vegetasi serta pelepasan tukik, sehingga memperoleh pengalaman lapangan yang berharga terkait konservasi ekosistem pantai tropis.

Gambar 2. (Kiri) – Kolaborasi Penanaman oleh TNI AL dan Dosen PSDKU Unpad. (Kanan) – Dokumentasi Penanaman oleh Dosen PSDKU Unpad - Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc. (Dokumentasi pribadi)

Vegetasi Pantai yang Ditanam: Jenis tumbuhan pantai yang ditanam dalam kegiatan ini meliputi vegetasi pionir pantai seperti Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) dan Pandan laut (Pandanus tectorius). Bibit-bibit vegetasi tersebut ditanam di area pesisir Pantai Legokjawa dengan harapan mampu menghijaukan kembali kawasan pantai dan berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai. Penanaman cemara laut di sepanjang pesisir diketahui bermanfaat sebagai sabuk hijau yang dapat melindungi pantai dari ancaman abrasi, gelombang tinggi, maupun bencana tsunami. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan kualitas habitat pesisir sekaligus menambah tutupan vegetasi hijau di kawasan Pantai Legokjawa.

Gambar 3. Bibit Vegetasi Pantai Siap Tanam. Bibit cemara laut dan pandan laut disiapkan dalam polybag untuk kegiatan penanaman di kawasan pesisir Pantai Legokjawa. (Dokumentasi pribadi)

Pelepasliaran Tukik: Sebagai bagian dari rangkaian acara, dilaksanakan pula pelepasliaran tukik (anak penyu) hasil penangkaran ke laut lepas. Adapun tukik yang dilepaskan terdiri dari dua spesies penyu laut yang ditemukan di perairan Pangandaran, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Kedua spesies penyu tersebut berstatus dilindungi dan tergolong terancam punah secara global. Dalam konteks konservasi, pelepasan tukik ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan peluang hidup penyu di alam dan menjaga keseimbangan populasi satwa laut langka tersebut. Para peserta dari berbagai instansi bersama-sama melepas puluhan tukik di tepi Pantai Legokjawa, sebagai simbol komitmen bersama dalam melestarikan biota laut yang dilindungi.

Gambar 4 – Pelepasliaran Tukik ke Laut Lepas (Dokumentasi pribadi)

Kolaborasi dan Edukasi: Kegiatan penanaman vegetasi pantai dan pelepasliaran tukik yang dilaksanakan di Pantai Legokjawa pada 5 Agustus 2025 merepresentasikan model nyata dari kolaborasi multipihak dalam mendukung upaya konservasi ekosistem pesisir yang berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari program rehabilitasi wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil yang diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat melalui Cabang Dinas Wilayah Selatan, tetapi juga mempertegas pentingnya sinergi antara sektor pemerintah, institusi pendidikan tinggi, aparat keamanan negara, serta komunitas lokal dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut.

Keterlibatan aktif para pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas terkait, TNI Angkatan Laut, lembaga pendidikan seperti PSDKU Universitas Padjadjaran Kampus Pangandaran dan Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran, serta kelompok masyarakat konservasi lokal seperti Pokmaswas dan komunitas Cinta Bahari, menjadi fondasi kolaboratif dalam mewujudkan konservasi yang inklusif dan partisipatif. Kehadiran lembaga pendidikan tinggi, khususnya PSDKU Unpad Pangandaran, memainkan peran strategis dalam menjembatani antara pendekatan ilmiah dan praktik lapangan, yang pada gilirannya mendukung penguatan kapasitas masyarakat dan generasi muda dalam pengelolaan sumber daya kelautan berbasis ekosistem.

Bagi PSDKU Unpad Pangandaran, keterlibatan dalam kegiatan ini sejalan dengan misi akademik Program Studi Perikanan Laut Tropis yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan pendekatan kontekstual terhadap ekosistem laut tropis. Mahasiswa yang turut serta memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi, mulai dari penanaman vegetasi pantai seperti Casuarina equisetifolia (cemara laut) dan Pandanus tectorius (pandan laut), hingga proses pelepasliaran tukik spesies penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea)—dua spesies yang berstatus dilindungi secara hukum nasional dan internasional. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman ekologis mahasiswa, tetapi juga memperkuat kompetensi praktis dan nilai-nilai etika lingkungan sebagai calon pengelola sumber daya kelautan di masa depan.

Secara keseluruhan, kegiatan konservasi di Pantai Legokjawa telah berlangsung dengan sukses dan mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak. Diharapkan kegiatan ini menjadi titik awal dari rangkaian program berkelanjutan, termasuk pemantauan pertumbuhan vegetasi pantai yang telah ditanam serta penguatan sistem perlindungan habitat peneluran penyu di kawasan Pangandaran. Kolaborasi antarsektor sebagaimana tercermin dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa efektivitas konservasi pesisir tidak dapat dipisahkan dari partisipasi aktif masyarakat, dukungan kelembagaan, serta integrasi antara sains dan kebijakan. Lebih jauh, keterlibatan institusi pendidikan seperti Unpad Pangandaran menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kelautan berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan dan nilai konservasi lingkungan.