Nostalgia: Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Otak Kita?

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Laela Safitri Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berpikir, mengapa pergi makan di kantin sekolah lama atau menonton film yang dulu pernah ditonton bersama mantan bisa membuatmu merasa seolah kembali ke momen saat pertama kali mengalaminya? Perasaan yang sering disebut nostalgia ini ternyata memiliki penjelasan ilmiahnya lho!
Perasaan nostalgia bermula dari fenomena contextual reinstatement di dalam otak. Otak manusia cenderung menyimpan memori berdasarkan konteks pada saat memori itu terbentuk. Saat sesorang bertemu orang baru, otak tidak hanya menyimpan informasi mengenai nama dan wajahnya, melainkan juga konteks-konteks kecil seperti tempat dimana perkenalan itu terjadi, musik yang diputar saat perkenalan itu berlangsung, atau parfum apa yang dikenakan oleh orang tersebut. Menurut penelitian, konteks-konteks sederhana itu kemudian dapat menjadi cue yang memungkinkan otak untuk memutar kembali memori yang tersimpan ketika dihadapkan pada situasi yang serupa. Semakin kuat sebuah memori, maka semakin besar kemungkinan otak untuk dapat memutarnya kembali. Lalu, bagaimana sebenarnya sebuah memori terbentuk?
Dalam pembentukan memori terdapat dua proses utama yang terjadi yakni proses encoding dan proses storage. Proses encoding melibatkan prefrontal cortex untuk memberikan atensi pada informasi yang dianggap layak untuk diingat. Informasi ini didapatkan melalui pengalaman sehari-hari. Informasi yang dianggap layak kemudian akan diteruskan ke hipokamus, sementara informasi yang dianggap tidak layak tetap berada di prefrontal cortex untuk diproses menjadi memori jangka pendek. Pada hipokamus, informasi akan mulai disusun dan diberikan konteks sesuai dengan tempat, waktu, atau suasana saat informasi tersebut didapatkan.
Namun, ketika sebuah pengalaman melibatkan emosi yang kuat maka ia akan terlebih dahulu melalui bagian otak bernama amigdala sebelum dikirim ke hipokampus. Di amigdala informasi akan mendapatkan penamaan secara emosional seperti bahagia, sedih, atau takut. Penamaan ini akan memperkuat sebuah memori. Itulah mengapa, memori bahagia atau memori yang menyedihkan cenderung lebih sulit untuk dilupakan dibandingkan dengan memori lainnya.
Setelah proses encoding selesai, hipokampus akan memindahkan informasi ke berbagai bagian neocortex untuk kemudian disimpan sebagai memori jangka panjang. proses pemindahan dan penyimpanan inilah yang disebut dengan prosese storage dimana memori akan disimpan dalam waktu yang lama.
Sistem pembentukan memori memungkinkan kita mengingat momen-momen berharga dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seperti bola lampu yang tidak bisa terus dinyalakan saat tidak dibutuhkan, ketika sebuah memori lama tidak “diingat kembali” otak akan menganggapnya sebagai bagian tidak penting yang harus “dimatikan sementara”. Inilah mengapa kita tetap bisa melupakan hal-hal yang kita anggap berharga ketika kita tidak lagi sering mengingatnya. Karena kita memperoleh informasi setiap hari dan otak kita cenderung memprioritaskan hal yang sering kita ingat.
Akan tetapi, memori tersebut tidak pernah benar-benar hilang. Ketika otak dihadapkan kembali pada konteks yang sama dengan ketika memori tersebut dibentuk, hipokampus akan menyalakan kembali memori yang relevan. Amigdala, ketika memori yang dinyalakan tersebut melibatkan emosi, akan memunculkan kembali emosi atau perasaan yang sama seperti ketika memori tersebut pertama kali dibentuk. Otak kita kemudian akan melakukan persepsi untuk memaknai perasaan yang sedang kita dirasakan dan saat itulah kita memaknainya sebagai perasaan “nostalgia.”
Pada akhirnya, perasaan sedih atau rindu yang mucul ketika mengingat kembali sebuah memori adalah hal yang sangat manusiawi. Itu adalah cara otak mengingat kembali hal-hal yang pernah ia anggap penting. Nostalgia merupakan proses neurologis yang menandakan bahwa kita masih berfungsi sepenuhnya sebagai seorang manusia.
