Pernah Kalap Belanja karena Takut Kehabisan Promo? Gen Z Perlu Waspada
Tulisan dari Siti Laelatul Maulidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak sih, awalnya cuma buka aplikasi belanja buat lihat-lihat, eh malah berakhir checkout barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan? Apalagi kalau tiba-tiba muncul tulisan “stok tinggal sedikit” atau “promo berakhir dalam 10 menit”. Rasanya seperti harus buru-buru membeli sebelum kesempatan itu hilang.

Situasi seperti ini mungkin terasa familiar bagi sebagian orang, terutama mereka yang sering berbelanja melalui e-commerce. Berbagai promo menarik memang bisa membuat pengalaman belanja semakin menyenangkan. Namun, tanpa disadari, promosi tertentu juga bisa memengaruhi cara kita mengambil keputusan.
Coba bayangkan kamu sedang melihat sebuah tas yang sebenarnya tidak masuk daftar belanja. Awalnya biasa saja. Namun, setelah melihat keterangan bahwa stoknya hampir habis, kamu mulai berpikir, “Kalau nggak beli sekarang, nanti keburu habis, nih.” Akhirnya, kamu membeli tas tersebut meskipun sebelumnya tidak berencana mengeluarkan uang untuk itu.
Nah, kondisi seperti ini berkaitan dengan persepsi kelangkaan produk dan pembelian impulsif.
Kenapa Tulisan “Stok Terbatas” Bisa Bikin Kita Tergoda?
Dalam belanja online, kita sering menemukan informasi seperti “tersisa dua produk”, “diskon hanya hari ini”, atau hitung mundur waktu promosi. Pesan tersebut bisa membuat kita merasa kesempatan untuk mendapatkan suatu barang akan segera berakhir.
Akibatnya, perhatian kita yang awalnya tertuju pada manfaat dan harga produk bisa berubah menjadi kekhawatiran akan kehilangan kesempatan. Barang yang tadinya tidak terlalu menarik pun mendadak terasa lebih istimewa karena dianggap sulit didapatkan.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Penelitian Zhang, Jiang, Turner, dan Pahlevan-Sharif (2022) membahas bagaimana isyarat kelangkaan dapat berkaitan dengan respons psikologis konsumen dan kecenderungan melakukan pembelian impulsif melalui pendekatan Stimulus-Organism-Response (S-O-R).
Sederhananya, promosi yang kita lihat bisa menjadi pemicu, kemudian memengaruhi perasaan atau pikiran, hingga akhirnya mendorong tindakan membeli.
Meski begitu, bukan berarti setiap promosi stok terbatas pasti membuat seseorang kalap belanja. Respons setiap orang bisa berbeda, tergantung kebutuhan, pertimbangan harga, dan kondisi keuangannya.
Belanja Sebentar, Kok Bisa Berakhir Checkout?
Salah satu hal yang membuat belanja online menarik adalah kemudahannya. Kita bisa mencari produk, membandingkan harga, membaca ulasan, sampai melakukan pembayaran hanya melalui ponsel.
Namun, kemudahan ini juga membuat keputusan membeli bisa terjadi dalam waktu singkat. Kita tidak selalu punya banyak waktu untuk berpikir, apalagi ketika promosi disertai batas waktu yang terasa mendesak.
Misalnya, kamu sedang menonton siaran langsung penjualan produk. Penjual menawarkan harga khusus untuk beberapa pembeli pertama. Melihat kesempatan tersebut, kamu mungkin terdorong untuk segera membeli karena takut kehilangan penawaran.
Penelitian Qu, Khan, Su, Tong, dan Zhao (2023) membahas keputusan pembelian yang dipicu oleh kelangkaan dalam aktivitas perdagangan melalui siaran langsung. Kajian tersebut turut menyoroti peran frekuensi menonton dan emosi yang diperkirakan akan dirasakan konsumen.
Artinya, pengalaman saat melihat promosi dan respons emosional dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti semua orang yang menonton siaran langsung akan melakukan pembelian impulsif.
Apakah Gen Z Selalu Mudah Tergoda Promo?
Generasi Z menarik untuk dibahas karena aktivitas sehari-harinya banyak bersinggungan dengan internet, media sosial, dan platform belanja online. Informasi mengenai produk baru, tren, serta penawaran menarik bisa ditemukan dengan mudah.
Ketika sebuah produk sedang populer dan ditawarkan dengan harga khusus, sebagian konsumen mungkin merasa tertarik untuk ikut membeli. Apalagi jika mereka khawatir produk tersebut akan habis atau kesempatan mendapatkannya tidak datang dua kali.
Namun, kita juga perlu menghindari anggapan bahwa semua Gen Z memiliki kebiasaan belanja yang sama. Ada yang mudah tertarik dengan diskon, tetapi ada pula yang lebih memilih menabung, membandingkan harga, dan mempertimbangkan manfaat barang sebelum membeli.
Dalam buku Perilaku Konsumen karya Septiani, Maddinsyah, dan Pratama (2023), keputusan pembelian dibahas sebagai proses yang berkaitan dengan pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, hingga keputusan membeli.
Kalau dipikir-pikir, tahapan tersebut sebenarnya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum checkout, kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan, atau kita hanya tertarik karena takut kehabisan promo?
Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita melihat kembali alasan di balik keputusan belanja.
Biar Nggak Menyesal Setelah Checkout
Belanja online tentu tidak harus dihindari. Kita tetap bisa menikmati diskon dan berbagai penawaran menarik selama mampu mengendalikan pengeluaran. Kuncinya adalah tidak membiarkan promosi menjadi satu-satunya alasan untuk membeli.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dicoba.
Pertama, bedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, coba pikirkan apakah barang tersebut memang diperlukan atau hanya terlihat menarik karena sedang dipromosikan.
Kedua, tentukan anggaran belanja. Dengan memiliki batas pengeluaran, kita bisa lebih mudah mengontrol uang dan menghindari pembelian yang melebihi kemampuan keuangan.
Ketiga, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Jika barang tersebut tidak mendesak, beri waktu untuk mempertimbangkan manfaatnya. Tidak semua promo harus langsung dimanfaatkan.
Keempat, periksa harga, kualitas, dan ulasan produk. Tulisan “stok hampir habis” belum tentu cukup menjadi alasan untuk membeli. Kita tetap perlu memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan kebutuhan.
Terakhir, biasakan membuat daftar belanja. Cara ini bisa membantu kita tetap fokus pada barang yang memang ingin dibeli sejak awal, bukan sekadar mengikuti penawaran yang muncul di layar.
Jangan Sampai Takut Kehabisan Mengalahkan Kebutuhan
Promosi dengan jumlah stok atau waktu terbatas memang dapat menarik perhatian konsumen. Dalam situasi tertentu, pesan tersebut juga bisa mendorong pembelian impulsif karena menimbulkan perasaan bahwa kesempatan membeli akan segera hilang.
Namun, keputusan belanja tetap dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kebutuhan, harga, manfaat produk, dan kondisi keuangan masing-masing orang.
Pada akhirnya, kita tidak harus berhenti menikmati promo untuk menjadi konsumen yang lebih bijak. Kita hanya perlu belajar membedakan kapan sebuah penawaran memang menguntungkan dan kapan kita sekadar terburu-buru karena takut kehabisan.
Sebab, mendapatkan barang dengan harga diskon belum tentu berarti kita sedang berhemat, apalagi jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.
Referensi
Qu, Y., Khan, J., Su, Y., Tong, J., & Zhao, S. (2023). Impulse buying tendency in live-stream commerce: The role of viewing frequency and anticipated emotions influencing scarcity-induced purchase decision. Journal of Retailing and Consumer Services, 75, 103534. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2023.103534
Septiani, F., Maddinsyah, A., & Pratama, A. (2023). Perilaku Konsumen. Unpam Press.
Zhang, J., Jiang, N., Turner, J. J., & Pahlevan-Sharif, S. (2022). The impact of scarcity on consumers’ impulse buying based on the S-O-R theory. Frontiers in Psychology, 13, 792419. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.792419

