Konten dari Pengguna

Pagelaran Wayang Kulit : Tradisi Sedekah Bumi di Desa Jrakahpayung

laeli hanifah fitriani

laeli hanifah fitriani

Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN KH.Abdurrahman Wahid

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari laeli hanifah fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagelaran wayang kulit di desa Jrakahpayung (sumber: difoto langsung dari lokasi oleh author)
zoom-in-whitePerbesar
Pagelaran wayang kulit di desa Jrakahpayung (sumber: difoto langsung dari lokasi oleh author)

Pagelaran wayang kulit merupakan salah satu tradisi budaya yang masih berlangsung di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Salah satu contoh pagelaran wayang kulit yang masih dilestarikan diselenggarakan di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang. Pagelaran ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa tersebut selama bertahun-tahun dan masih berlangsung sampai sekarang sebagai ritual sedekah bumi.

Pagelaran wayang kulit di Desa Jrakahpayung tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan membersihkan jiwa. Pagelaran ini juga menjadi sarana untuk mempertahankan identitas budaya masyarakat desa tersebut dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Pagelaran wayang kulit ini juga menjadi sarana untuk kebersamaan antarsesama sehingga dapat meminimalisir kebencian.

Acara pagelaran wayang kulit ini dimulai dengan pembukaan yang dipimpin oleh pembawa acara. Diikuti dengan sambutan oleh Kepala Desa dan ditutup dengan pembacaan doa oleh Kyai setempat. Pembukaan ini diawali dengan penyerahan wayang kulit dari Kepala Desa kepada Dalang Ki Mangun Yuwono, sebagai simbol dimulainya pagelaran wayang kulit.

Ki Mangun Yuwono sedang perfom dibantu oleh asistennya (sumber: difoto langsung di lokasi oleh author)

Dalang Ki Mangun Yuwono dibantu oleh asisten dalang untuk melancarkan performanya. Selain dalang dan pemain gamelan yang mengiringi jalannya pagelaran, sinden yang berjumlah 5 orang juga menjadi bagian penting dalam pagelaran wayang kulit ini. Tim wayang kulit ini berasal dari Pemalang dan telah memiliki pengalaman yang luas dalam pagelaran wayang kulit.

Pagelaran wayang kulit di Desa Jrakahpayung sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat, terutama pada jam 10 malam ke atas. Banyak pedagang yang memanfaatkan acara ini sebagai peluang rezeki mereka dengan menjual berbagai jenis makanan dan minuman, serta kerajinan tangan wayang yang unik dan menarik. Pada tahun ini, deretan pedagang sangat panjang dipinggir jalan dan lebih ramai dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pagelaran wayang kulit ini memang sudah menjadi tradisi untuk melestarikan budaya dan tradisi leluhur baik di desa Jrakahpayung maupun desa lainnya. Melalui pagelaran ini, masyarakat dapat mempertahankan identitas budaya mereka dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam melestarikan pagelaran wayang kulit ini peran masyarakat sangatlah penting. Dengan demikian, pagelaran wayang kulit dapat terus berkembang dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Dengan adanya pagelaran wayang kulit, kita dapat melihat bahwa tradisi budaya masih sangat hidup di masyarakat. Pagelaran wayang kulit juga dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara masyarakat dan dapat mengenalkan budaya leluhur kepada para anak cucu. Oleh karena itu, pagelaran wayang kulit harus terus didukung dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dengan demikian, kita dapat mempertahankan kekayaan budaya Indonesia yang beragam dan unik.

Dalam beberapa tahun terakhir, pagelaran wayang kulit di Desa Jrakahpayung telah menjadi salah satu acara yang paling dinantikan oleh masyarakat. Pagelaran ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertahankan identitas budaya dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Oleh karena itu, pagelaran wayang kulit harus terus didukung dan dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Kita harus terus mempertahankan dan melestarikan tradisi budaya kita, sehingga dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Laeli Hanifah Fitriani

Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris UIN KH.Abdurrahman Wahid Pekalongan