Mengurangi Rasa Sakit Persalinan dengan Teknik Shiatsu

Mahasiswa aktif S1 kebidanan di Universitas Muhammadiyah Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Chusnaini Laila Nadhifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator derajat Kesehatan. Namun, masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan masalah besar. Dengan demikian, pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi prioritas utama dalam Pembangunan Kesehatan di Indonesia. Salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia yakni partus lama atau biasa disebut persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan abnormal/sulit.
Partus lama ini dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis ibu yang meliputi persepsi ibu pada rasa nyeri saat persalinan. Sebagian besar ibu saat persalinan 90% selalu disertai rasa nyeri, hal ini merupakan proses fisiologis. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Niven dan Gijsbern dalam penelitiannya pada tahun 1984 didapatkan bahwa nyeri pada saat persalinan jauh melebihi keadaan penyakit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri pada saat persalinan non farmakologi yaitu dengan melakukan teknik Shiatsu.
Mungkin beberapa orang sudah banyak mendengar mengenai Shiatsu, pijat tradisional dari negara Jepang ini yang sudah terkenal dan telah membuka banyak praktik di Indonesia. Ternyata, awalnya Shiatsu tidak diciptakan secara murni dari Jepang akan tetapi Shiatsu berasal dari negara tirai bambu yakni China (Tiongkok). Shiatsu adalah bentuk terapi pijat yang berasal dari Jepang dan memiliki akar dalam praktik pijat tradisional bernama Anma, yang sendiri merupakan adaptasi dari teknik pijat Tiongkok kuno, Tuina. Seiring berjalannya waktu, Shiatsu berkembang dengan menggabungkan konsep-konsep dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM), seperti meridian, titik akupresur, dan energi vital atau Qi. Istilah "Shiatsu," yang berarti "tekanan jari," mulai digunakan secara luas pada awal abad ke-20.
Tokujiro Namikoshi dikenal sebagai tokoh utama pengembangan Shiatsu modern dan mendirikan Japan Shiatsu College pada tahun 1925. Muridnya, Shizuto Masunaga, mengembangkan Zen Shiatsu yang lebih holistik dan berorientasi pada keseimbangan energi. Pada tahun 1964, pemerintah Jepang mengakui Shiatsu sebagai metode pengobatan resmi. Sejak itu, Shiatsu menyebar ke berbagai negara dan berkembang dalam berbagai aliran. Dalam bidang kesehatan, Shiatsu telah terbukti membantu mengurangi nyeri saat persalinan.
Dengan menstimulasi titik-titik tertentu, terutama di punggung bawah, bahu, dan tangan, Shiatsu dapat merangsang pelepasan endorfin alami tubuh dan membantu mengurangi ketegangan otot serta kecemasan. Teknik ini tidak hanya membantu ibu merasa lebih nyaman, tetapi juga dapat mempercepat pembukaan serviks dan memperlancar proses persalinan secara keseluruhan.
Di Beberapa jurnal penelitian yang telah diterbitkan melalui Jurnal Obstretika Scienta tahun 2019 menyatakan bahwa terapi Shiatsu lebih efektif dalam menurunkan nyeri pada ibu yang sedang melahirkan untuk pertama kali, dan saat ini berada di fase aktif tahap pertama persalinan dibandingkan dengan terapi relaksasi pernafasan.
Terapi Shiatsu juga lebih efektif menurunkan rasa nyeri terhadap ibu yang berusia 20-30 tahun. Selain bisa menurunkan rasa nyeri, ibu yang melakukan terapi Shiatsu juga dapat berdampak pada lamanya proses persalinan, dimana yang mendapatkan terapi Shiatsu rata-rata waktu dari pembukaan aktif sampai pembukaan lengkap memerlukan waktu hanya 248 menit, dengan demikian proses persalinan menjadi lebih cepat dan normal.
Kapan pijat Shiatsu dapat dilakukan, apa saat persalinan? Pijat Shiatsu dapat dilakukan pada saat persalinan, terutama pada Kala I fase aktif, yaitu ketika pembukaan serviks sudah mencapai 4 hingga 10 cm. Pada fase ini, kontraksi menjadi lebih kuat, teratur, dan nyeri semakin dirasakan oleh ibu.
Shiatsu bermanfaat untuk mengurangi nyeri kontraksi, mempercepat pembukaan serviks, meningkatkan relaksasi, dan merangsang pelepasan endorfin alami yang membantu mengurangi rasa sakit. Selain itu, Shiatsu juga bisa dilakukan sebelum persalinan, khususnya pada trimester akhir kehamilan, untuk membantu persiapan mental dan fisik serta mendorong posisi janin yang optimal.
Setelah persalinan, Shiatsu dapat digunakan untuk membantu pemulihan tubuh, mengurangi ketegangan otot, dan mengembalikan energi ibu. Titik-titik Shiatsu yang umum digunakan saat persalinan antara lain di bahu untuk merangsang kontraksi, di tangan untuk mengurangi nyeri, dan di pergelangan kaki bagian dalam untuk memperkuat kontraksi rahim. Penting untuk memastikan bahwa pijat dilakukan oleh terapis terlatih atau di bawah bimbingan tenaga kesehatan, agar aman bagi ibu dan janin.
Jadi bagaimana? Tertarik untuk sesi terapi Shiatsu?
Chusnaini laila Nadhifah, mahasiswa Sarjana Kebidanan Universitas Muhammadiyah Surabaya.
