Dari Komunitas Jadi Peluang Bisnis di Era Society 5.0

Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Laila Maudina Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkembangan teknologi membuat cara orang berkomunikasi dan menjalankan bisnis ikut berubah. Sekarang, menjual produk tidak selalu harus dimulai dengan mencari sebanyak-banyaknya pembeli. Ada cara lain yang bisa dilakukan, yaitu membangun komunitas terlebih dahulu. Dari komunitas tersebut, pelaku usaha bisa memahami apa yang dibutuhkan orang-orang di dalamnya dan menjadikannya sebagai peluang bisnis.
Konsep ini berkaitan dengan communipreneur, yaitu gabungan antara komunikasi dan entrepreneurship atau kewirausahaan. Komunikasi berkaitan dengan proses menyampaikan dan menerima pesan, sedangkan kewirausahaan berkaitan dengan kemampuan melihat peluang dan mengembangkan usaha. Jadi, communipreneur dapat dipahami sebagai seseorang yang menggunakan kemampuan komunikasi untuk membangun dan mengembangkan sebuah usaha.
Di era Society 5.0, kemampuan tersebut semakin dibutuhkan. Kehidupan masyarakat semakin dekat dengan teknologi digital, mulai dari media sosial, kecerdasan buatan, sampai berbagai platform komunikasi. Perubahan teknologi ini membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan dan lebih mudah mencari informasi sebelum membeli sebuah produk.
Konsumen sekarang tidak hanya melihat iklan. Mereka bisa mencari ulasan, melihat pengalaman pembeli lain, membandingkan produk, bahkan bertanya langsung kepada orang lain melalui komunitas. Hal ini membuat promosi yang hanya berisi ajakan membeli terkadang tidak cukup untuk membuat seseorang percaya.
Masalah seperti hoaks, produk palsu, ulasan berbayar, dan persoalan privasi di dunia digital membuat orang semakin berhati-hati dalam menerima informasi. Generasi muda yang sudah terbiasa menggunakan media sosial pun cenderung ingin mengetahui sebuah produk dari pengalaman yang lebih nyata.
Komunitas bisa menjadi salah satu cara untuk menjawab kondisi tersebut. Di dalam komunitas, orang-orang dapat berkumpul karena memiliki hobi, kebutuhan, atau masalah yang sama. Mereka bisa bertukar pengalaman, memberikan rekomendasi, berdiskusi, bahkan menyampaikan kritik terhadap sebuah produk.
Pelaku usaha dapat ikut terlibat dalam komunikasi tersebut tanpa menjadikan komunitas hanya sebagai tempat berjualan melalui WhatsApp Community, Telegram, Discord, Instagram, atau TikTok. Konten yang diberikan bisa berupa informasi, tips, diskusi, atau kegiatan sederhana yang membuat anggota merasa ikut terlibat.
Hal menariknya, komunitas tidak hanya bisa digunakan setelah sebuah produk dibuat. Pelaku usaha dapat meminta pendapat anggota komunitas sebelum produk diluncurkan. Melalui voting mengenai warna, bentuk, desain, atau jenis produk yang mereka sukai. Cara ini membuat pelaku usaha memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang diinginkan calon konsumennya.
Menurut penulis, pola seperti ini memiliki peluang untuk terus berkembang pada 2027. Bisnis tidak hanya membutuhkan produk yang menarik, tetapi membutuhkan komunikasi yang baik dengan konsumennya. Ketika konsumen merasa didengar dan dilibatkan, hubungan yang terbentuk bisa lebih dekat daripada sekadar hubungan antara penjual dan pembeli.
Salah satu peluang usaha yang bisa dikembangkan dengan konsep tersebut adalah kerajinan dari kawat berbulu atau pipe cleaner. Bahan yang sederhana ini bisa dibuat menjadi berbagai bentuk, seperti gantungan kunci, boneka kecil, bunga, buket, sampai hiasan untuk tas dan kunci motor.
Produk seperti ini memiliki kelebihan karena dapat dibuat sesuai permintaan. Misalnya, seseorang ingin memberikan buket bunga kepada temannya saat wisuda. Bentuk dan warnanya bisa disesuaikan dengan kesukaan orang yang akan menerima hadiah tersebut. Hal sederhana seperti ini membuat produk tidak hanya memiliki nilai sebagai barang, tetapi bisa memiliki nilai emosional.
Pemasarannya pun tidak harus langsung dilakukan secara besar-besaran. Usaha bisa dimulai dari keluarga dan teman dekat. Setelahnya, produk dapat diperkenalkan melalui Instagram dan TikTok dengan menampilkan hasil karya, proses pembuatan, serta berbagai pilihan desain. Jika sudah memiliki pelanggan, komunikasi dapat dikembangkan melalui WhatsApp Community atau platform lain.
Menurut penulis, teknologi bukan berarti membuat usaha kreatif seperti ini kehilangan tempat. Justru teknologi dapat membantu usaha kecil untuk memperkenalkan produknya kepada lebih banyak orang. Promosi menjadi lebih mudah, komunikasi dengan konsumen bisa dilakukan dengan cepat, dan produk dapat dikenal tanpa harus memiliki toko besar.
Pada akhirnya, ada hal yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi, yaitu nilai dari sebuah kenangan. Sebuah buket, gantungan kunci, atau boneka kecil mungkin terlihat sederhana. Bagi seseorang, benda tersebut bisa menjadi pengingat tentang orang, momen, atau peristiwa tertentu.
Di sinilah communipreneur memiliki peluang. Teknologi dapat digunakan untuk menemukan konsumen dan membangun komunikasi, sementara kreativitas dan hubungan dengan manusia tetap menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha. Bisnis yang mampu menggabungkan keduanya dapat memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan zaman.
