Ketika Balap Karung Menyelamatkan Kehidupan Sosial Kita

Dosen FISIP UPN "Veteran" Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Lailatus Sholihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang anak kecil gagal mencapai garis akhir karena karung yang dipakainya robek. Ia terjatuh. Teman-temannya yang semula berlari di belakang ikut berhenti. Bukannya menertawakan, mereka justru membantu anak itu berdiri. Beberapa detik kemudian, ia kembali melompat menuju garis akhir, disambut tepuk tangan dan tawa dari warga yang memenuhi pinggir jalan.
Tidak ada yang benar-benar mempermasalahkan siapa yang menang. Tidak ada hadiah besar yang diperebutkan. Yang paling diingat dari sore itu keseruan dan tawa yang terdengar hampir tanpa jeda.
Sulit menemukan pemandangan seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.
Di luar bulan Agustus, jalan yang sama lebih sering lengang. Anak-anak bermain dengan gawai, orang tua pulang kerja lalu masuk ke rumah masing-masing, sementara percakapan dengan tetangga sering kali cukup diwakili anggukan singkat atau pesan di grup WhatsApp. Kita hidup pada masa ketika hampir semua orang saling terhubung, tetapi semakin jarang benar-benar bertemu.
Namun setiap Agustus, sesuatu yang berbeda terjadi.
Jalan kompleks berubah menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan dunianya masing-masing kembali menjadi bagian dari sebuah komunitas. Mereka memasang umbul-umbul bersama, mengecat gapura, menyusun jadwal lomba, menyiapkan konsumsi, menjadi panitia, peserta, atau sekadar penonton yang paling berisik memberi semangat.
Nah, mengapa tradisi seperti ini masih bertahan?
Bukankah kita hidup pada zaman ketika hiburan tersedia tanpa harus keluar rumah? Ketika media sosial menawarkan hiburan tanpa henti, permainan daring mempertemukan orang dari berbagai negara, dan video pendek dapat mengisi waktu selama berjam-jam. Mengapa masyarakat masih rela meluangkan waktu demi balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, atau estafet air yang hadiahnya sering kali hanya kipas angin, dispenser, atau peralatan dapur?
Tentu. Barangkali, selama ini kita keliru memahami makna lomba Agustusan. Pada momen ini, hal yang dicari masyarakat bukanlah perlombaannya, tetapi justru kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan bersama.
DataReportal melalui laporan Digital 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di internet dan media sosial. Kita tidak pernah memiliki akses komunikasi yang semudah sekarang. Informasi bergerak dalam hitungan detik, percakapan berlangsung tanpa mengenal batas ruang, dan hampir semua orang dapat terhubung kapan saja. Namun, kemudahan berkomunikasi tidak selalu menghasilkan kedekatan sosial.
Kita mungkin mengetahui menu makan siang teman melalui Instagram, tetapi belum tentu mengenal nama tetangga yang baru pindah ke rumah sebelah. Kita dapat mengikuti kehidupan seorang kreator konten setiap hari, tetapi tidak tahu siapa yang sedang sakit di lingkungan tempat tinggal kita. Teknologi membuat jaringan komunikasi semakin luas, tetapi hubungan sosial di sekitar kita justru berisiko menjadi semakin tipis.
Fenomena ini menurut Robert D. Putnam disebut sebagai menurunnya modal sosial. Dalam bukunya, Bowling Alone, Putnam menunjukkan bahwa masyarakat modern perlahan kehilangan ruang-ruang tempat orang berkumpul, saling percaya, dan membangun hubungan antarmanusia. Yang hilang bukan sekadar kegiatan bersama, melainkan perekat yang membuat sebuah komunitas tetap hidup.
Jika menggunakan kacamata tersebut, lomba Agustusan sesungguhnya adalah mekanisme sosial yang masih bekerja.
Dari perspektif ilmu komunikasi, James W. Carey menjelaskan bahwa komunikasi tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memelihara kehidupan bersama melalui ritual. Sebuah komunitas tidak bertahan hanya karena anggotanya saling bertukar pesan, melainkan karena mereka terus-menerus menciptakan pengalaman bersama yang mengingatkan bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang sama.
Lomba Agustusan melakukan fungsi itu dengan sangat sederhana.
Tarik Tambang, misalnya, sering dianggap sekadar adu tenaga. Padahal, siapa pun yang pernah mengikutinya tahu bahwa kemenangan lebih banyak ditentukan oleh kekompakan daripada kekuatan. Satu orang yang menarik terlalu cepat dapat merusak ritme seluruh tim. Sebaliknya, tim yang mampu bergerak serempak hampir selalu lebih unggul. Tanpa disadari, permainan sederhana itu sedang mengajarkan koordinasi, kepercayaan, dan tujuan bersama.
Pada permainan Balap Karung, anak-anak belajar menerima kekalahan tanpa permusuhan. Orang tua belajar memberi semangat. Panitia belajar bekerja sama. Semua orang memainkan perannya masing-masing, bukan demi hadiah, melainkan demi memastikan perayaan itu tetap berlangsung.
Dalam kacamata sense of community, David McMillan dan David Chavis menyebut bahwa komunitas yang sehat dibangun oleh rasa memiliki, saling memenuhi, dan membangun ikatan emosional dari pengalaman bersama, seperti yang tertuang dalam tradisi Agustusan di lingkungan tempat tinggal kita.
Hari ini kita memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu memiliki cukup banyak orang yang akan datang membantu ketika rumah kita kebanjiran. Kita dapat memperoleh ribuan tanda suka dalam hitungan menit, tetapi belum tentu mengenal nama semua warga di RT sendiri. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, yang menopang masyarakat bukanlah algoritma, melainkan kepercayaan antarmanusia.
Mungkin karena itulah lomba Agustusan tidak pernah benar-benar kehilangan maknanya.
Ia mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh konstitusi, pidato kenegaraan, atau deretan angka pertumbuhan ekonomi. Bangsa juga dibangun oleh percakapan kecil di pinggir lapangan, oleh warga yang saling menyemangati saat tarik tambang, oleh tawa anak-anak yang berlarian mengejar garis akhir, dan oleh kesediaan orang-orang meluangkan waktu untuk hadir bagi komunitasnya.
Di tengah dunia yang semakin sibuk membuat kita terus terkoneksi dengan semua orang, Agustusan justru mengajarkan bagaimana kembali terhubung dengan orang-orang yang paling dekat dengan kita.
Barangkali itulah hadiah terbesar dari setiap lomba Agustusan. Bukan kipas angin, dispenser, atau piala sederhana, melainkan kesempatan untuk mengingat bahwa sebelum menjadi pengguna media sosial, pelanggan internet, atau penonton konten digital, kita terlebih dahulu adalah warga dari sebuah komunitas.
Dirgahayu Republik Indonesia!
