Mengintip Makna di Balik Tradisi Tukar Sego Berkat di Wonogiri

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Laili Apri Aziza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wonogiri-Di tengah kehidupan modern yang serba tergesa, ketika interaksi sosial semakin tipis dan hubungan antarwarga kian bergeser ke ruang digital, tradisi-tradisi budaya justru menjadi penyangga terakhir kedekatan sosial. Begitu pula di Dusun Jatimerto, Desa Kerjolor, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Pada suatu malam, warga berkumpul di dalam joglo dengan cahaya lampu terang, sebuah suasana yang kini terasa semakin langka namun terus dijaga lintas generasi.
Sego berkat, hidangan sederhana namun sarat makna, selalu hadir dalam berbagai momen penting masyarakat Wonogiri. Mulai dari lahiran, ulang tahun, nikahan, tirakatan hari jadi, hingga peringatan orang meninggal. Kehadirannya bukan sekadar bawaan acara, tetapi simbol kebersamaan yang mengikat warga dalam satu lingkar tradisi.
Isinya pun bersahaja: ada nasi putih, urap sayuran, tahu atau tempe bacem, dan oseng kacang tolo. Jika pemilik hajat memiliki rezeki lebih, lauknya bisa bertambah dengan telur, semur daging, atau ayam. Semua tersaji di atas daun jati yang menghadirkan aroma khas pedesaan.
Namun yang membuat tradisi ini berbeda di Jatimerto adalah kegiatan tukar sego berkat. Pada tirakatan atau megengan, seluruh warga membawa berkat dari rumah masing-masing, lalu mengumpulkannya di satu titik untuk kemudian dibagikan kembali secara acak. Tidak ada yang pulang dengan berkat yang sama seperti yang mereka bawa.
Bagi warga, kegiatan ini bukan sekadar tukar-menukar makanan. Ada filosofi yang hidup di dalamnya: rezeki harus terus berputar, tidak boleh berhenti di satu tangan, setiap orang adalah pemberi sekaligus penerima, dan tidak ada satu berkat pun yang dianggap lebih istimewa dari yang lain. Semua setara dalam nilai dan niatnya.
“Kalau pulang dapat berkat dari rumah lain, rasanya seperti membawa doa dari tetangga,” ujar Basroil (59), salah satu warga Jatimerto. “Tradisi ini bikin kampung tetap rukun. Kita saling mendoakan tanpa perlu saling bicara panjang lebar.”
Suasana tirakatan di Jatimerto selalu hangat. Anak-anak berlarian sambil menebak-nebak berkat siapa yang bakal mereka dapat. Para ibu-ibu dan bapak-bapak berbincang santai menunggu prosesi doa dimulai. Dalam kesederhanaan itu, ada kehangatan yang nyaris tak tergantikan oleh interaksi digital.
Selain sebagai simbol sosial, sego berkat juga menjadi penanda perjalanan waktu. Setiap lauk, setiap lipatan daun jati, adalah jejak ingatan terhadap momen-momen penting dalam hidup seseorang. Dari kelahiran, kematian, hingga perayaan, semuanya terikat melalui makanan yang dibagikan dengan niat tulus.
Sego berkat bukan hanya hidangan tradisional. Ia adalah cerita yang diwariskan, doa yang dibungkus rapi, serta jembatan yang mempertemukan rasa syukur dan kebersamaan. Di tengah dunia yang terus berubah, masyarakat Wonogiri menjaga tradisi ini sebagai pengingat bahwa kebaikan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Laili A Aziza, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogayakarta
